Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Amel terobsesi


__ADS_3

Ali tidak putus asa, hari ini saatnya ia kembali untuk menemui istrinya serta putra kecilnya yang mengemaskan.


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu di ketuk, Dilah menggendong anaknya sambil membuka pintu.


"Kau!" Dilah mendengus kesal, ia menutup pintu kembali. Dilah barusan melihat Ali, suami yang paling dia benci.


"Sayang kumohon buka pintunya!" Ali mengetuk pintu, berharap istrinya membukakan pintu.


"Itu tidak akan terjadi, pergi sana!" Dilah mengusir Ali.


"Sayang, aku akan menjelaskannya, aku membawa bukti bahwa aku tidak bersalah," Ali masih terus mengetuk pintu.


"Aku tidak percaya itu, apa yang aku lihat waktu itu sudah cukup menjadi bukti," Dilah masih keras kepala. Ia tidak mau mendengarkan penjelasan suaminya.


Franz menangis sangat kuat digendongan, membuat Dilah panik.


"Sayang, jangan menangis!" Dilah berusaha untuk menenangkan putranya.


"Itu Franz? Itu suara Franz? Sayang buka pintunya aku mau melihat putraku,"


Dilah masih bersikeras untuk tidak membuka pintu. Akan tetapi, Franz masih menangis. Malah tangisan Franz semakin kuat.


"Sayang, dia merindukanku. Kumohon buka pintunya!"


Dilah belum mau mengabulkan keinginan Ali yang ingin bertemu dengan Franz. Kemudian, Dilah melihat Franz yang sedang menangis sembari bertanya,


"Apakah benar yang dikatakan papamu, kau merindukannya?" Dilah bertanya pada putranya yang belum bisa bicara. Tapi, Franz kecil sudah mulai berhenti menangis.


Apakah ini pertanda bahwa dia merindukan ayahnya? Batin Dilah.


Dengan berat hati Dilah membuka pintu,


"Akhirnya kau membukakan pintu untukku," ucap Ali tersengal, ia banyak berteriak dari tadi.


"Itu kulakukan karena anakku merindukanmu," Dilah mengucapkan dengan nada kesal.


"Apakah kau tidak merindukanku?" Ali bertanya dengan nada pelan. Ia menundukkan pandangannya.


Dilah hanya diam, membuat Ali merasa bahwa istrinya tidak merindukannya.

__ADS_1


Ali mengambil Franz dari gendongan istrinya. Ia duduk di kursi sambil mengelus wajah Franz.


"Hei lihat, dia tersenyum melihatku," Ali melirik istrinya, namun Dilah memasang wajah datar membuat Ali tidak berani melihatnya lagi.


"Franz, jangan sering menangis ya! Kamu tahu tidak mengapa papa memberi namamu Franz?" Franz masih melihat ayahnya. Ia seperti mengerti apa yang ayahnya katakan.


"Supaya kamu itu berani dan hebat seperti namamu," Ali menyentuh hidup putranya.


Dilah berdiri dengan melipat tangan di dadanya. Kemudian, dia mengamati interaksi antara ayah dan anak.


"Waktumu tinggal 1 menit lagi Ali, Franz sebentar lagi akan tidur siang," ujar Dilah sambil menunjuk jam di tangannya.


"1 menit? Ini curang sekali. Aku masih merindukannya."


Ali bediri, ia melewati Dilah yang ada di depannya. Ia masuk ke rumah dan menuju kamar istrinya. Dilah mengikuti Ali dari belakang.


"Aku yang akan menidurkannya,"


"Kau! Beraninya kau masuk ke rumahku, tanpa izin dariku," Dilah menggeram kesal.


"Sayang, kumohon jangan terus-terusan membenciku, aku tidak bersalah, aku punya bukti, aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan Franz," Dilah tidak peduli dengan bukti yang dipegang Ali.


"Aku tidak mau melihat bukti yang kau palsukan," Dilah memalingkan wajahnya.


"Baik, aku sudah cukup sabar. Aku sudah cukup sabar untuk menjelaskan kebenarannya. Dan jika kau ingin aku pergi, aku akan mengabulkan keinginanmu, ini terakhir kalinya kau melihatku,"


Ali mencium Franz dengan penuh kasih sayang seorang ayah.


"Papa akan pergi,"


"Franz, jangan nakal ya! jagalah mama dengan baik dan jangan biarkan mamamu sedih," Ali mencium Franz kembali dan memberikannya pada Dilah.


"Semoga kau bahagia dengan kepergianku, aku tidak akan menganggu dirimu dan anak kita lagi," Ali meneteskan air matanya.


"Selamat tinggal," ucapnya dan keluar dari rumah.


Dilah mengikuti langkah Ali. Tapi Dilah tidak berusaha untuk menahan Ali pergi. Ia membiarkan Ali pergi meninggalkannya. Mungkin kebenciannya pada Ali sangat besar. Ali melihat kembali kearah rumah besar tersebut.


"Dia tidak berusaha menahanku untuk pergi. Dia sangat membenciku, aku memang tidak pantas bersamanya lagi," Ali berjalan sambil menyeka air matanya.


Tetibanya tangan Ali ditarik. Tarikannya tidak terlalu kuat namun mampu membuat Ali menoleh kearah si penarik.

__ADS_1


"Amel!" ucap Ali terkejut.


"Iya, ini aku. Sudahlah Ali, kau tidak perlu bersedih. Kau tidak punya kesempatan untuk mendapatkan istrimu kembali," ucap Amel tersenyum misterius.


"Apa maksudmu, wanita berhati iblis?" tanya Ali geram.


"Maksudku, hahaha," Amel tertawa seperti iblis.


"Selama kau dipenjara, aku telah menghasut istrimu, sehebat apapun kau ingin memberinya bukti, dia tidak akan percaya padami," ujar Amel angkuh.


"Apa yang kau katakan padanya?" Ali mencengram kedua bahu Amel.


Amel menyingkirkan cengkraman tangan Ali, "Aku mengatakan bahwa aku hamil anakmu," ujar Amel tertawa keras.


"Teganya kau berkata begitu," Ali menampar Amel dengan keras.


Amel memegang pipinya yang sakit akibat ditampar Ali,


"Sudahlah Ali, semua sudah terlanjur terjadi. Lagi pula istrimu lebih percaya padaku daripada dirimu. Aku kan sahabatnya dia,"


"Ingat satu hal Ali, sebelum dia menikah denganmu dia lebih mengenalku, dia adalah sahabatku. Tentu dia lebih percaya padaku." ucap Amel selanjutnya.


Ali mengepal tinju, "Amel kau! Kau terus berbicara. Apa yang membuatmu melakukan ini? Bukankah aku sudah baik padamu?"


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, Ali. Aku merasa tertantang bila memilikimu, kau mata-mata yang tampan. Mengapa diriku tidak seberuntung Dilah yang memiliki suami yang tampan dan hebat. Sedangkan aku.. Aku? Aku hanya simpanan laki-laki kaya," Amel mengutaran rasa irinya.


"Karena itu kau membuatku tersiksa seperti ini," Ali meluapkan amarahnya.


"Kau! Kau yang membuatku tersiksa. Kau bermesraan dengan istrimu, kau punya anak darinya. Sedangkan aku? Aku yang mencintaimu, aku hanya bisa melihatmu dan mencintaimu. Tapi tidak bisa memilikimu,"


"Amel cukup!" Ali menghentikan ocehan Amel.


"Ali, aku belum puas bicara. Aku akan terus mengejarmu sampai kau benar-benar menjadi milikku,"


Ali kesal, ia meninggalkan Amel.


"Ali! Aku belum selesai bicara," teriak Amel sangat keras.


Ali berjalan dengan cepat meninggalkan Amel yang sedang berteriak.


"Amel terobsesi denganku, jika aku terus berada disini mungkin akan muncul fitnah baru dan dia akan nekat agar aku menikahinya," gumam Ali pelan.

__ADS_1


"Aku harus pergi keluar negeri,"


__ADS_2