
Dengan cepat Yulia berlari untuk masuk ke ruangan anaknya. Yulia meneteskan air mata dan memeluk Eldo yang sedang terbaring lemah.
"Ma," ucap Eldo lirih.
"Mama disini, Sayang," mengusap kepala anaknya penuh kasih sayang.
"Ma, jika aku pergi nantinya tolong beri kedua mataku ini untuk istriku," ujar Eldo lemah, suaranya hampir tak terdengar.
Bulir-bulir bening jatuh di pipi Yulia. "Kau bisa bertahan, Nak," ujarnya lembut. Ia memegang tangan putranya untuk memberikan kekuatan.
"Ma, aku sudah tidak kuat lagi," nafas Eldo tak beraturan. Ia menghadapi mautnya. Nafas Eldo berhenti, jantungnya berhenti berdetak. Yulia memanggil dokter. Dokter tersebut menyatakan Eldo telah tiada.
Tangisan mengiringi kepergian Eldo. Yulia mencium putranya untuk terakhir kalinya. Yulia melangkah kearah Menir.
"Ini semua salahmu," Yulia menarik jas suaminya. "Mengapa kau tak pernah mengerti perasaan putramu sendiri?" Yulia terisak. "Karena kau putraku meninggal," ucapnya lirih.
Menir membeku, hatinya sakit sekali. Ia tak menduga keegoisannya membawa petaka. Ia kehilangan putra keduanya. Hal ini membuatnya syok.
__ADS_1
"Aku akan mengabulkan permohonan terakhir putraku," Yulia mengambil tindakan.
Dilah dibawa ke rumah sakit. Mereka berkata bahwa ada orang baik yang akan mendonorkan mata untuknya. Dengan senang hati Dilah menerimanya. Operasi pun dilaksanakan. Setelah selesai operasi. Perban yang melilit matanya dibuka perlahan. Dilah membuka matanya perlahan. Penglihatannya kembali. Ia melihat keluarga Eldo tersenyum kearahnya.
Mana Eldo? Dilah membantin. Apakah Eldo sedang bahagia sekarang bersama Fina?
"Selamat ya kau sudah bisa melihat kembali," ujar Yulia memeluk Dilah yang masih menatap heran.
"Ma, siapa orang yang telah mendonorkan mata untukku. Aku ingin berterima kasih padanya dan keluarganya juga."
Yulia menitikan air matanya, dengan cepat ia menghapusnya agar Dilah tak melihat.
Dilah mengangguk dan dibalas senyuman oleh Yulia_ibu mertuanya.
"Ma, dimana Eldo?" Dilah memicingkan pandangannya ke seluruh arah untuk menemukan sosok suami yang paling ia cintai.
Yulia membeku, ia tak dapat menjelaskan pada Dilah_menantunya. Pengasuh bayi tiba-tiba datang untuk membuyarkan pertanyaan Dilah dan dia memberikan bayi tersebut pada Dilah_ibunya.
__ADS_1
"Ini putra Anda," ucapnya sambil memberikan bayi munggil yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Hari ini untuk pertama kalinya Dilah melihat putranya.
Dilah menitikan air matanya. Ia menangis bahagia melihat putranya. Harapannya telah dikabulkan oleh Tuhan. Untuk pertama kalinya ia melihat putranya itu. Ia cium putranya yang munggil itu. Kemudian matanya mengedarkan pandangan ke penjuru arah.
Dimana ayah dari anaknya itu? Mengapa tak terlihat juga. Apakah kini ia sudah bahagia dengan wanita itu?
Dilah kembali meneteskan air mata. Ia ingat kejadian waktu itu dimana Eldo sangat mencintai Fina. Mungkin saja cinta Eldo sudah bersemi kembali pada Fina. Dilah berpikir Eldo sudah menikah dengan Fina.
Mungkin saja mereka menghabiskan waktu berdua, Dilah membatin.
Dokter telah memperbolehkan Dilah untuk pulang. Dilah berkemas dan menuju rumahnya.
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan namun Dilah tak melihat tanda-tanda Eldo. Kemana dia? Apakah Eldo tak merindukanku dan putranya?
Pikiran buruk terlintas dipikirannya. "Apakah Eldo mengingkari janjinya? Dasar laki-laki munafik!"
Katanya dia akan cinta padaku dan tidak akan meninggalkanku. Tapi ternyata setelah menikahi Fina dia melupakanku. Dilah membatin.
__ADS_1
Dilah membawa Vino untuk ke rumah mertuanya. Berharap mendapatkan petunjuk dimana Eldo berada. Bukan hanya Dilah yang rindu keberadaan Eldo tapi Vino juga demikian. Dilah mengetuk pintu rumah besar tersebut. Yulia keluar dan tersenyum ramah pada menantunya.
"Masuk dulu," ucapnya mempersilahkan masuk.