Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Tidak Adil


__ADS_3

Hari ini Dilah dan Danial bertemu di taman. Pertemuan tersebut diusulkan oleh Danial. Ini seperti mengulang kisah masa lalu. Dilah dan Danial mengobrol cukup banyak sampai akhirnya Danial menceritakan maksud dari pertemuan tersebut


"Dilah, aku boleh jujur," Danial berkaca-kaca.


"Aku tidak pernah melarangmu untuk berkata jujur, ayo katakan!" Dilah mendesak Danial untuk mengatakannya. Danial tersenyum misterius.


"Aku masih mencintaimu," ucapnya berdusta, sebenarnya tujuan utamanya adalah harta. Danial tidak lagi mencintai Dilah. Kalau pun dia cinta itu karena hartanya bukan semata-mata karena tulus dari hatinya.


Dilah membeku, ia tidak bisa mengatakan apapun. Apakah Danial ingin mengutarakan perasaannya untuk kedua kalinya?


"Hei!" Danial menjentikkan tangannya di depan Dilah seraya tersenyum.


Dilah tersenyum terpaksa, ia berpikir pertemuan ini untuk mewujudkan persahabatan dan tidak ada lagi permusahan diantara mereka. Tapi mengapa Danial berkata seperti itu?


"Aku siap menggantikan posisi Ali untuk menjadi ayah dari Franz," ujar Danial tersenyum manis.


Disisi lain ada seseorang yang mengintai. Siapa lagi kalau bukan Amel.


"Aku yang berjuang malah kau yang menikmati, secepatnya aku akan memberitahu kebenarannya pada Dilah agar kau Danial tidak bisa mendapatkannya. Jika aku tidak mendapatkan Ali kau tidak boleh mendapatkan Dilah," geram Amel.


"Menyesal aku bekerja sama dengan orang licik sepertimu," lanjut Amel.


"Aku.. Em.. Aku belum berpikir untuk menikah lagi. Lagi pula kami belum berpisah,"


"Hei Dilah sadarlah, suamimu itu sudah meninggalkanmu. Dia sudah keluar negeri sekarang. Laki-laki seperti apa dia itu tidak bertanggung jawab," Danial berpura-pura murka.


"Kau gugat cerai saja dia," lanjut Danial untuk menghasut.


"Aku tidak bisa melakukannya, kumohon jangan mencampuri urusan rumah tangga kami,"


"Aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan kalian, aku hanya kasihan padamu," Danial tidak putus asa untuk mendapatkan tujuannya.


"Aku tidak perlu dikasihani siapapun. Itu berarti aku terlihat lemah jika dikasihani,"


"Hem... Sebaiknya aku pulang, Franz pasti mencariku. Ya, dia pasti kesepian," ujar Dilah selanjutnya mencari alasan agar Danial tidak menghasutnya dan membuatnya terbuai dalam rayuan.


Dilah beriap-siap untuk pulang. Ia meninggalkan Danial tanpa memberikan jawaban apapun dari Danial. Danial memukul bangku yang menjadi tempat duduk mereka karena kesal. Untuk kesekian kalinya ia gagal.

__ADS_1


Dilah berjalan menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh dari lokasi ia dan Danial bertemu. Tiba-tiba tangan Dilah ditarik oleh seseorang.


"Amel!" ujar Dilah terkejut.


Dilah menjadi canggung pada sahabatnya itu. Ya, Dilah berpikir Amel adalah korban jadi ia merasa bersalah.


"Aku ingin mengatakan sesuatu," ujar Amel lirih.


Dilah mengigit bibirnya, ia takut akan ada cerita mengejutkan tetang Amel yang membuatnya semakin membenci Ali.


"Cukup Amel! Jangan katakan! Aku tahu suamiku telah menghancurkan masa depanmu," Dilah tidak berani mendengar apa yang ingin Amel katakan.


"Aku akan mengatakan kebenarannya," ujar Amel mengeluarkan air mata. Membuat Dilah iba padanya. Dengan sigap Dilah memeluk Amel.


"Aku.. Aku yang salah," bulir-bulir air mata jatuh di pipi Amel.


Dilah langsung melepas pelukannya. Ia terkejut mendengar pernyataan Amel.


"Dia tidak buruk Dilah, suamimu tidak seburuk yang kau pikirkan selama ini,"


Dilah melotot, apa sebenarnya maksud dari ucapan sahabatnya itu.


"Dia telah kujebak, aku memfitnah dia,"


Dilah meremas satu tangannya, "Tega sekali kau melakukan semua itu," teriak Dilah membuat Amel semakin terisak.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Amel, "Teganya kau memisahkan aku dengan orang yang paling aku cintai dan kau juga telah memisahkan seorang ayah dengan anaknya," Dilah benar-benar naik pitam.


Amel meringis akibat tamparan tersebut. Namun, ia tidak melawan. Ini lebih baik daripada harus mendekam di penjara akibat tuduhan pencemaran nama baik.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Amel." Dilah menangis akibat kebodohannya, kesalahannya, dan ketidakpercayaannya kepada orang yang paling ia cintai.


"Dilah maafkan aku, aku benar-benar menyesal. Aku ingin mengakui bahwa aku mencintai suamimu itu. Dan sekarang aku sadar bahwa sesuatu yang tidak bisa menjadi milikku itu tidak akan pernah kudapatan,"


"Amel cukup! Semakin kau berbicara, semakin benci pula aku kepadamu,"

__ADS_1


Dilah pulang ke rumahnya dengan berurai air mata, "mengapa aku bodoh sekali, mengapa aku tidak membiarkannya untuk menjelaskannya. Mengapa aku tidak menyelidiki kebenarannya?


Dilah memeluk ibunya dengan berurai air mata. Ia menceritakan semua kebenarannya. Ibunya mencoba menenangkannya dibalik pelukan hangat dan memberi banyak nasihat.


"Ma, aku benar-benar menyesal. Hiks, hiks,"


"Kan sudah Papa bilang, dia tidak bersalah. Kau sangat keras kepala," Riki masih saja kesal dengan putri.


"Sudahlah Pa, jangan terus memarahinya. Sekarang dia sudah sadar," Dini berusaha menurunkan amarah suaminya.


"Ma! Pa! Aku ke kamar dulu. Aku ingin menjernihkan pikiranku," ucap Dilah seraya melepaskan pelukan dan masuk ke kamarnya.


Dilah melihat Franz yang masih tidur. Benar-benar menyejukkan hatinya. Franz seperti kekuatan bagi Dilah.


"Maafkan mama yang telah memisahkanmu dengan papamu Nak," ucap Dilah penuh penyesalan.


Dilah berinisiatif untuk menelepon suaminya. Ia benar-benar ingin meminta maaf. Ia benar-benar menyesali perbuatannya.


"Ali, ponselmu berdering 20 kali," ujar Heru kesal, pasalnya ponsel tersebut berdering membuat Heru merasa terganggu.


"Biarkan saja,"


Heru kesal, ia mengambil ponsel Ali karena terus berdering, "Ali pujaan hatimu yang menelepon," ujar Heru menahan tawanya.


"Iya aku sudah tahu," Ali berpura-pura tidak peduli.


"Ali, sudah 50 panggilan tidak terjawab. Kau yakin tidak ingin mengangkatnya?" tanya Heru penasaran.


"Iya aku yakin, aku tahu dia sudah mengetahui kebenarannya. Ini saatnya dia yang berjuang. Aku sudah lelah berjuang untuknya dari awal sebelum menikah sampai sekarang dan dia masih tidak percaya padaku. Sekarang aku ingin melihat dia yang berjuang,"


"Kisah cinta yang menyentuh, oh ya kapan aku menikah?" tanya Heru berbisik.


***


"Arg! Mengapa dia tidak mengangkat teleponku? Apakah dia mau meninggalkanku?


Apakah dia mau meninggalkanku untuk selamanya?"

__ADS_1


Dilah melihat kearah box bayi. Franz membuka matanya. Franz sudah bangun, sepertinya Franz haus. Dilah mengambil Franz dari box bayi dan memberikan ASI padanya.


"Sayang maafkan mama ya, seharusnya sekarang kamu dapat kasih sayang dari papamu, Maafkan mama Sayang," Dilah mencium pipi putranya.


__ADS_2