
Rasya tidak fokus pada saat melayani pelanggan. Ia pun mendapatkan teguran dari atasan. Teman-teman Rasya heran melihat Rasya tidak seperti biasanya. Biasanya Rasya bekerja dengan giat dan cukup baik namun kali ini berbeda. Ketika jam istirahat, Rasya melamun dengan menopang dagu mengunakan satu tangan kanannya. Wajahnya terlihat sedih sekali.
"Rasya," panggil teman-teman kerjanya. Bagi Rasya teman-teman kerjanya itu sudah seperti keluarga.
"Ada apa rupanya. Kau terlihat sedih." ucap Alfian sambil memegang pundak Rasya.
Rasya mengelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Katakan apa sebenarnya terjadi?" Alfian mendesak Rasya untuk mengatakannya.
Rasya meminta kepada teman-temannya untuk berjanji tidak menceritakan ini kepada siapapun. Hanya mereka-mereka saja yang tahu. Rasya percaya sepenuhnya kepada teman-temannya itu. Rasya menceritakan bagaimana ia bertemu dengan Alya. Membantu Alya lolos dari pernikahan sampai ia terpaksa menikahi Alya demi studinya Alya. Rasya juga menceritakan bahwa pernikahannya akan berakhir setelah Alya lulus kuliah. Rasya juga menceritakan masalahnya kepada Teman-temannya itu. Teman-temannya pun paham kondisi Rasya sekarang. Mereka mencoba menghibur Rasya, Rasya akhirnya terhibur dan beban pikirannya sedikit terobati. Itu berkat teman-temannya yang baik yang tak ditemukan dipekerjakan lamanya dulu.
"Rasya, bukankah istrimu itu mahasiswi tercantik di kampusnya?" Tanya Wina pada Rasya. Wina juga salah satu teman Rasya yang bekerja di restoran pizza.
"Serius?" Rasya kembali bertanya.
"Iya, aku sering mendengar para mahasiswa Bima Sakti makan disini. Mereka sering menceritakan tentang Alya dan sulitnya menaklukkan hati Alya." ucap Wina.
__ADS_1
"Ya, aku juga mendengar hal itu." Sambung Abdi.
"Baiklah, mari kita melanjutkan pekerjaan." Alfian membubarkan mereka karena sudah waktunya untuk kembali bekerja.
Di tempat lain, Sarah mengajak Teman-temannya termasuk Alya untuk makan di restoran pizza. Alya masih seperti semalam menolak ajakan mereka.
"Ayolah Alya! Kamu ikut ya!" Bujuk Celine pada Alya.
"Iya Alya, kamu ikut napa kalau tidak ada kamu tidak seru." sambung Rara menimpali.
"Tapi kalian janji cuma sekali. Aku kan sudah ikut kalian semalam." Ucap Alya geram.
"Tidak mau," Alya melipat tangannya. Ia tetap pada pendiriannya.
"Ish... Alya engga seru nih..." Raina juga ikut membujuk.
Dengan berat hati, akhirnya Alya setuju untuk ikut ke restoran tersebut.
__ADS_1
"Oke aku ikut. Tapi kali ini aja!" Ujar Alya dengan berat hati.
Teman-teman Alya senang, akhirnya Alya ikut bersama mereka. Sebenarnya alasan mereka ke restoran bukan hanya untuk makan akan tetapi untuk melihat laki-laki tampan yang bertugas sebagai pelayan. Salah satunya adalah Rasya.
"Kalian tahu kan Waiters bernamaRasya itu ganteng banget loh.." ungkap Sarah pada teman-temannya. Membuat Alya semakin kesal saja. Teman-temannya malah menceritakan tentang Rasya dan bagaimana mereka sangat tertarik dengan Rasya.
"Alfian juga ganteng," sambung Raina. Cerita mereka semakin seru menceritakan Rasya dan teman-temannya. Baru pertama kali mereka melihat restoran memiliki pelayan yang ganteng-ganteng. Alya mendengar semua itu hanya bisa menutup telinga. Ia tak suka gadis lain menceritakan Rasya.
"Iya Alfian ganteng tapi menurutku Abdi engga kalah ganteng...' Ucap Celine berbunga bunga.
"Alfian dan Abdi kalah ganteng sama Rasya." ucap Sarah menyombongkan kepada teman-temannya bahwa pilihannya yang lebih tampan.
"Si ini... Siapa itu ganteng juga.. Emm... Yang pakai topi itu selain Rasya.." Rara lupa dengan namanya.
"Fandi maksudnya?" Tanya Sarah.
"Iya.. Emm... Suka deh kalau lihat dia senyum.."
__ADS_1
"Ih.. Jadi engga sabar untuk sampai ke restoran." ucap Sarah. Teman-temannya Alya pun juga sama tidak sabarnya tapi tidak dengan Alya. Apakah Alya akan terbakar api cemburu lagi melihat Rasya dekat dengan Sarah?
Sekarang Alya hanya bisa melongo melihat teman-temannya yang genit ke laki-laki. Alya mengerti mengapa tempat tongkrongan mereka sekarang berubah. Karena restoran tersebut diisi oleh pelayan berwajah tampan.