
Hari sudah siang Dilah kembali ke rumah. Ia masuk tanpa mengucapkan salam dan mengendap-endap seperti pencuri di rumah sendiri.
Tak ada orang. Batin Dilah sambil memicingkan mata kesegala penjuru rumah.
"Dor!" Ali mengejutkan Dilah,
"Hahaha," sambungnya tertawa. Dilah memegang dadanya untuk mengatur nafas.
"Kamu tak pergi jalan-jalan di hari minggu yang cerah ini?" tanya Dilah ketus.
"Temanku Yanto keluar kota," ucap Ali santai.
"Oh.. Memangnya dia kerja apa?" tanya Dilah dengan pandangan tak begitu peduli tapi ingin tahu.
"Ma..," seketika Ali menutup mulutnya.
"Ma..?" tanya Dilah mengernyitkan alisnya.
"Manageman, iya manangeman, manageman." ucap Ali gugup
"Wow menarik, mengapa Fina tak tahu ya?" Dilah mulai terkesan dan rasa ingin tahunya bertambah besar.
"Sayang lebih baik kita makan aku sudah masak untukmu," Ali menuntun Dilah ke meja makan agar tak bertanya lagi.
Keesokan harinya Ali mengajar di kelas 12. Waktu mengajar sekitar 45 menit. Ia memberi materi tentang pandangan islam terhadap demokrasi. Setelah jam istirahat, ia ke ruangannya untuk mengambil bekal makanan.
"Pak Ali!" panggil guru berkaca mata, usianya sudah tua dan dikabarkan akan pensiun 2 tahun lagi.
"Iya Pak," tersenyum ramah pada guru tersebut.
"Bisakah kita makan di kantin sebelah sana?"
Benarkah dia mengajakku makan bersamanya?
"Bisa Pak," Ali tersenyum.
Ali dan pak Robi menuju sebuah kantin di dekat lab kimia. Mereka jalan dengan sejajar dan berbicara ringan serta bersanda gurau.
Luna dan Jisya ke kantin, tak disangka ia dan Jisya melihat pak Ali yang sedang berbicara dengan pak Robi.
"Kak Luna itu Pak Ali," Jisya tersenyum manis sambil memakan jajanan.
Luna yang melihat Jisya memandangi guru kesayangannya, ia merasa terusik.
Pak, aku sangat menyukaimu. Aku harus mengatakannya. Batin Luna meradang.
__ADS_1
Murid-murid perempuan yang ada disana juga ikut memandangi Ali dengan tersenyum manis. Entah apa yang membuat mereka begitu tergila-gila pada wajah Ali. Memang, banyak yang mengatakan bahwa Ali guru tertampan di San Teresyia Bakti School.
Aku harus mengutarakan rasa cintaku, tak peduli dia akan membalasnya atau tidak. Batin Luna yang sudah mengambil keputusan.
Setelah bel masuk berbunyi, murid-murid membubarkan diri dari kantin. Jam segini adalah waktu Ali mengajar di kelas 11. Ketika selesai mengajar dan memberikan soal untuk dikerjakan murid-muridnya, Ali menulis Absen Sedangkan Luna mengoyak kertas dan menuliskan. "Pak Ali, aku cinta kamu." kemudian ia menulis kata-kata berukuran kecil di pojok kanan bawah. "Dari Luna."
"Pak!" Luna mengangkat tangan.
"Iya ada apa, Nak?" tanya Ali sambil menoleh kearah Luna.
"Izin ke toilet," kata Luna.
"Silahkan!" Ali mengizinkannya.
Luna berjalan melawati meja guru. Ia melihat tas Ali terbuka, kemudian ia memasukkan dengan cepat kertas tulisannya tadi di tas Ali, kemudian ia langsung keluar menuju toilet.
"Huh!" membuang nafas lega.
Akhirnya aku berhasil melakukannya. Tinggal tunggu respon dari Pak Ali. Batinnya senang.
Sore hari Ali menjemput istrinya pulang. Dilah masih seperti semalam. Berwajah sinis dan masih merasakan cemburu.
Setelah sampai rumah, Dilah merasa penasaran apakah Ali bertemu Amel atau tidak. Rasa penasarannya membuat ia ingin mempertanyakan langsung pada Ali.
Kalau jadi, pintu kamar akan aku kunci sebelum kamu masuk. Dilah
"Kamu kok tahu Amel mengajakku bertemu?" tanya Ali penasaran dan menaikkan alisnya.
Hah! Bodohnya aku, dia kan tidak tahu semalam aku menguping pembicaraannya.
"Entahlah," berjalan ke kamar dengan cepat.
Malam hari tepatnya pukul 21:00 Ali duduk di teras sambil menikmati teh hangat, sedangkan Dilah mengendap-endap menuju tas Ali.
"Aku akan mencari tahu apa saja kelakuanmu di luar sana." gumam Dilah pelan, ia berjalan dengan berjinjit agar langkah kakinya tak terdengar Ali.
Dosa tidak ya membuka tas suami tanpa izin? Batin Dilah bimbang. Buka sajalah, daripada penasaran. Batinnya memberi sebuah keputusan untuk membuka tas Ali.
"Ini ponselnya," mengambil ponsel dari tas Ali.
"Ada wajahku di tampilan pertama," Dilah hampir luluh ketika wajah manisnya menghiasi ponsel Ali. Ia mengalihkan pandangan ke tas Ali kembali. Mungkin jika dia membuka ponsel Ali, dia akan tahu siapa sebenarnya Ali. Tapi ia malah sibuk dengan kertas yang ada di dalam tas Ali.
"Lucu juga, ternyata dia suka gambar," Dilah malah tersenyum melihat gambaran Ali. Seorang anak kecil yang bermain bersama ayah dan ibunya.
"Ini kertas lusuh dari mana?" gumam Dilah pelan, sekarang matanya tertuju pada kertas tersebut.
__ADS_1
Dilah mulai membacanya. "Pak Ali, aku cinta kamu," ia kemudian melihat tulisan kecil di pojok kanan bawah. "Dari Luna," bacanya sambil meremas secarik kertas tersebut.
Dilah jalan dengan cepat menuju teras rumahnya. Rasa cemburu kini sudah diatas level wajar. Ia menatap Ali dengan tatapan marah.
"Ali," suara Dilah melunak sebelum ia mengeluarkan amarahnya.
"Iya ada apa Sayang?" Ali berdiri dari tempat duduknya.
Dilah menunjukkan secarik kertas tersebut pada Ali. "Baca!' perintah Dilah pada Ali dengan suara sedikit bentakan.
Pak Ali, aku cinta kamu. Baca Ali dalam hati.
"Aku juga cinta kamu," jawab Ali yang membuat Dilah bertambah marah. Ali pikir tulisan itu dibuat oleh istrinya. Mana tahu kejutan mendadak pikirnya. Dilah kemudian menggelengkan kepala dan menunjuk tulisan kecil di pojok bawah kanan. "Dari Luna," sontak Ali terkejut membacanya. Ia tak menyadari bahwa selama ini Luna mencintainya.
"Kamu itu ya, bisa-bisanya main gila sama murid sendiri." kesal Dilah dan masuk ke kamar tak lupa mengunci pintu rapat-rapat.
"Sayang, Sayang dengarkan aku dulu," ucap Ali bingung, ia tak menyangka akan terjadi hal ini.
"Luna hanya anak SMA. Dia masih belum tahu menepatkan cintanya pada orang yang tepat." ujar Ali menerangkan.
"Hei, di sekolah ada banyak murid dan guru. Masa iya dia cintanya cuma sama kamu." kesal Dilah marah-marah.
"kamu cemburu ya?" nada bicaranya sudah senang karena istrinya cemburu padanya.
Ya cemburu lah masa senang. Batin Dilah jengkel.
"Aku tidak cemburu, seorang Dilah Wiranata tak mungkin cemburu!" ucap Dilah gengsi.
"Lalu kalau tidak cemburu, mengapa mengunci pintu?" tanya Ali sambil tersenyum tipis.
Ceklek
"Silahkan masuk!" ucap Dilah tersenyum terpaksa setelah membuka pintu kemudian ia memutar bola mata kesal.
"Sayang sudah tak marah padaku?" tanya Ali sambil menyembunyikan gelak tawanya.
Iya masih marah lah. Ingin sekali aku remas wajahmu yang polos itu.
"Tidak," jawab Dilah cepat.
Kemudian ia merasa mual dan berlari ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya.
"Aneh? Belakangan ini aku sering muntah," gumamnya pelan.
"Sayang kamu kenapa, kamu masih muntah lagi?"
__ADS_1