
Pagi hari yang cerah Dilah masuk ke kantor untuk perang dengan kerjaan yang menumpuk.
"Oh ya, aku lupa mengirim uang pada Papa dan Kak Ryan yang telah membantuku waktu itu." gumam Dilah.
Ia mengirim uang pada ayah dan kakaknya untuk mengembalikan bantuan waktu itu.
Setelah mengetik beberapa berkas. Telepon selulernya berbunyi, Ia segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo Dek," suara Ryan terdengar dari balik telepon.
"Iya Kak," ujar Dilah senang.
"Kamu transfer uang pada kakak?" tanya Ryan.
"Iya kak, Dilah mengembalikan uang kakak," ujar Dilah santai.
"Tapi ini terlalu banyak," Ryan merasa terlalu banyak uang yang di kirim Dilah padanya.
"Tidak apa-apa Kak, Kakak terima ya kalau Kakak tolak aku merasa sedih."
"Iya, kakak terima sudah dulu ya." mematikan telepon.
***
Diluar ruangan, Mita terlihat bimbang, ia ingin sekali mengatakan sesuatu pada Dilah bosnya bahwa ayahnya ingin bertemu dengan Ryan. Mita mengatur nafas dan masuk ke ruangan Dilah.
"Permisi!" sambil mengetuk pintu.
"Masuk!" ucap Dilah tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
"Nona, saya ingin sekali bertemu Kak Ryan aduh," Mita menepuk keningnya pelan, "bukan bukan maksudnya Tuan Ryan." ucap Mita gugup dan menunduk.
"Ingin bertemu kakakku?" tanya Dilah heran.
"Iya," Mita masih menunduk.
"Baiklah, ini nomor kakakku dan buat janji dulu padanya." Dilah memberikan secarik kertas yang bertuliskan nomor Ryan.
Jadi kalau ingin bertemu kakak sendiri harus buat janji dulu.
Mita terlihat bimbang, ada rasa takut untuk menelepon sang pengusaha kaya tersebut.
Aku harus meneleponnya, Ayah sangat ingin bertemu dengannya. Mita
Mita menelepon, ternya Ryqn mengangkat telepon Mita.
"Halo Tuan Ryan." suara Mita terdengar gugup.
"Iya ini siapa?" tanya Ryan bingung.
"Saya Mita, karyawan Nona Dilah. Saya ingin bertemu dengan Anda. Saya ingin membahas hal penting pada Anda," ujar Mita gugup.
Oh mungkin adikku ingin membahas sesuatu dan mengutus karyawannya.
"Baik, besok kita bertemu jam 10 di kantorku. Aku akan kirim lokasinya dari pesan singkat." Ryan menutup telepon tanpa mendengar jawaban Mita.
Ayah sebentar lagi aku akan membawa kakak. Mita berbinar dan lanjut bekerja.
***
Di sekolah SMA San Teresyia Bakti School. Tepatnya jam istirahat Ali mendatangi Luna.
"Luna kita harus bicara!" ucap Ali dengan nada dingin.
Ya tuhan, Pak Ali ingin bicara apa. Menolak atau menerima cintaku?
"Iya Pak," mengikuti Ali dari belakang.
__ADS_1
"Seminggu lagi waktu kita untuk belajar, karena lomba cerdas cermat tinggal menghitung hari saja." ujar Ali serius.
Pak Ali membahas itu, aku pikir ia ingin membahas tentang surat itu. Batin Luna meradang.
"Iya Pak," ujar Luna menunduk.
"Ayo kita ke perpustakaan untuk belajar!" ujar Ali mengajak Luna.
"Pak!" panggil Vino ketika mereka hendak masuk ke perpustakaan.
"Apa Vino?" Ali berbalik.
"Aku ikut belajar juga." ujarnya sambil mengatur nafas.
Ali, Vino, dan Luna masuk ke perpustakaan.
"Baca buku ini, ini buku teknik cepat menjawab soal," ujar Ali sambil memberikan buku dengan suara berbisik.
Luna membaca buku tersebut kemudian ia curi-curi pandang pada Ali. Ali tahu itu, dengan segera ia mengambil buku yang berjudul, "Cara menyenangkan hati istri." Sontak Luna terkejut melihat buku yang dibaca Ali.
Ternyata dia sangat mencintai istrinya. Batin Luna kesal.
Vino membaca komik dan curi-curi pandang kepada Luna.
Ya Tuhan, Luna sangat imut sekali. Batin Vino
Jam 5 sore Ali menjemput istrinya seperti biasa. Dilah masih menatap Ali dengan tatapan sinis. Rasa cemburunya masih belum hilang. Setelah mereka masuk mobil, Ali menyetir dengan kecepatan sedang. Ketika ia melewati pohon mangga yang berbuah lebat. Dilah menjadi girang melihat pohon tersebut.
"Sayang pohon mangga," ujar Dilah yang terdengar aneh menurut Ali.
"Terus?" tanya Ali bingung.
"Aku mau?" ujarnya yang membuat Ali menghentikan mobil.
"Kamu mau pohon mangga, untuk apa?" tanya Ali bingung.
"Aku mau buahnya," ujarnya cemberut.
"Baiklah, baiklah," Ali putar balik mobil untuk menuju ke pohon mangga tersebut.
"Sayang, mangganya masih muda." ujar Ali sambil melihat buah mangga yang bergelantungan.
"Pokoknya aku mau!" ujar Dilah merengek.
"Sayang aku mau!" ujar Dilah merengek lagi.
Aneh, sejak kapan dia suka mangga?
"Iya," dengan kesal Ali ke rumah pemilik pohon mangga tersebut.
"Assalamualaikum." ucap salam Ali sambil mengetuk pintu.
"Walaikum salam, siapa ya?" ibu tersebut tak mengenal Ali dan Ali pun juga tak mengenalnya.
"Bu, saya Ali. Bolehkan saya membeli mangga Ibu? Istri saya menginginkannya." ujar Ali sambil menunjuk istrinya.
"Boleh," ibu tersebut tersenyum
Suami yang baik batinnya.
Ali menuju pohon mangga tersebut. "Ini cara ngambilnya bagaimana?" ujarnya sambil menggaruk kepala.
"Iya kamu panjatlah!" ujar Dilah ketus.
"Iya, iya, aku panjat."
Karena Ali anak yang tinggal di desa ia sangat mudah untuk memanjat pohon tersebut. Dilah yang dibawah bertepuk tangan kecil sambil mengucapkan, "Sayang semangat," seperti chiliders basket.
__ADS_1
Ali menjatuhkan buah mangga dari pohonnya. "Sudah cukup?" tanya Ali pada Dilah. Dilah hanya menggelengkan kepalanya.
Ya Tuhan, padahal sudah banyak dia masih tak merasa cukup.
Ali mengambil beberapa mangga lagi kali ini Dilah sudah merasa cukup. Ali langsung turun dari pohon. "Sayang kumpulkan mangganya, aku akan membayar mangga-mangga ini." ujar Ali kemudian ia ke rumah pemilik mangga.
"Bu, berapa mangganya?" tanya Ali yang ingin mengeluarkan dompet.
"Tidak usah, ibu memberikan gratis padamu."
ujar Ibu tersebut tersenyum.
"Saya tidak enak Bu," ujar Ali malu-malu.
"Tidak apa-apa Nak, Soalnya istri kamu sedang."
"Sayang sudah kan? Ayo kita pulang!" teriak Dilah.
"Ini Bu," Ali memberikan uang tersebut karena merasa tak enak.
Ibu tersebut tersenyum manis," Jarang sekali ada laki-laki sebaik dia." gumam pelan Ibu itu.
Ali berjalan cepat menuju istrinya. "Ya sudah kita pulang," Ali membantu istrinya mengambil mangga-mangga tersebut.
Setelah masuk ke mobil mereka menuju perjalanan pulang, Ali dibuat bingung dengan sikap istrinya. Suasana hati Dilah benar-benar berubah.
Aku harap dia tak menyuruhku memakan mangga-mangga muda itu.
Setelah sampai rumah Dilah mendadak girang. Ia mengupas kulit mangga dan memakan mangganya dengan lahap seperti tak ada beban.
Apakah pengusaha kaya raya memiliki sisi aneh seperti ini?
Ali memperhatikan istrinya makan mangga. Ia sangat ngilu melihatnya.
"Sayang kamu mau?" tanya Dilah tersenyum manis.
"Tidak Sayang," Ali menggelengkan kepala.
Ingin lari rasanya, bisa-bisanya dia menawarkan mangga asam itu padaku.
"Kamu harus makan juga, siapa suruh menatapku seperti itu." ujar Dilah cemberut.
"Aku tidak mau," Ali menolak keras, tapi istrinya cemberut masam yang membuatnya tak tega.
"Baiklah," sambung Ali pasrah saja, ia duduk di samping istrinya.
"Ini," memberikan sepotong mangga muda yang pastinya asam.
Ali mengambilnya dari tangan istrinya.
Degh! Ali merasa ngilu harus memakannya. Sedangkan Dilah menantikan ia memakannya. Ali memasukkan mangga tersebut ke mulutnya. Iya mengernyitkan dahi dan memejamkan mata karena sensasi rasa asam pada mangga tersebut.
"Kamu mau lagi kan?" pertanyaan ini membuat Ali ingin kabur.
"Sudah cukup!" ujar Ali sambil berdiri.
"Kamu tidak mau lagi ya? Dasar jahat! Kamu tak mau membantuku menghabiskan mangga-mangga ini." Dilah mendadak sedih, Ali tak sampai hati menolaknya.
"Iya, iya, iya aku bantu memakannya." ujar Ali tersenyum manis.
Aa... mengapa jadi seperti ini.
Dilah mengambil beberapa potongan mangga dan memberikannya pada Ali.
"Ini makan yang banyak," senyumnya menunggu Ali memakannya.
Ali menarik nafas dan membuangnya dengan pelan.
__ADS_1
"Lihat Sayang aku memakannya," ujar Ali sambil memakan mangga tersebut dan merasakan sensai asam.
"Kamu terlihat suka, aku akan mengupas beberapa mangga lagi untukmu,"