Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Tidak Nafsu Makan


__ADS_3

Mata Eldo berkaca-kaca. Hatinya berdegup kencang. Rasanya begitu menyenangkan. Cinta Eldo terbalaskan. Ia menyeka ujung matanya.


"Apakah aku sedang bermimpi?" Eldo mencubit tangannya. Ia merasakan sakit akibat cubitannya sendiri. Bukti rasa sakit tersebut menandakan bahwa ia tidak sedang bermimpi.


Eldo memeluk Dilah dengan hangat. Memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki. Ia membelai rambutnya dan menatap wajah istrinya dengan tatapan mesra.


"Kenapa kau sesenang ini mendapakan cinta dari orang yang buta?" tanya Dilah dengan nada frustasi.


"Sttt! Jangan katakan itu lagi. Aku sangat tidak menyukainya. Aku mencintaimu dan itu anugerah dari Tuhan."


***


Jam telah menunjukkan pukul 8 malam. Eldo menuntun Dilah untuk ke meja makan. Eldo menyiapkan makanan diatas meja tersebut.


Eldo mengambil piring berisi makanan yang ia beli secara online.


"Aku tidak nafsu makan," Dilah menunduk. Belum lagi Eldo memberikan suapannya Dilah sudah menolak.


"Nanti kamu sakit, sedikit saja. Ya. Ya!" pinta Eldo memohon.


Dilah menggelengkan kepalanya. Ia menunduk sedih. "Kapan aku mati?" tanyanya sedih. Dilah meneteskan air mata. "Aku merasa diriku tak berguna." ungkapnya kesal.

__ADS_1


Semenjak tak bisa melihat, pikiran Dilah tak jernih lagi. Ia berpikir ingin mengakhiri hidupnya. Ia berpikir hidupnya tak lama lagi. Dan yang Dilah takutkan Eldo mencari wanita lain. Ia belum sepenuhnya percaya pada Eldo benar-benar setia padanya.


Mata Eldo memerah. Rasanya air mata ingin jatuh di pipinya. Mengapa dia berkata seperti itu? Aku mengharapkan dia selalu bersamaku tapi mengapa dia seperti tak menyukai aku bersamanya. Eldo membatin.


"Sayang, jangan pikirkan yang aneh-aneh." ucap Eldo lembut. "Oh ya, ayo makan. Sedikit saja tidak apa-apa," ucapnya.


"Aku tidak nafsu makan," tolak Dilah sekali lagi.


"Sayang, ingat ada anak kita dikandunganmu. Kau tega melihatnya kelaparan. Dia nantinya yang akan menjagamu setelahku." Eldo mengambil sesuap nasi dan berupaya membujuknya agar ia mau makan.


Dilah membuka mulutnya terpaksa. Ia tak nafsu makan karena ucapan mertuanya tadi. Ucapan Menir meruntuhkan moodnya. Dilah mengunyah makanan dengan lembut dan menelan makanan halus tadi dengan perlahan.


"Buka mulutnya," ucap Eldo yang ingin menyuapkan sesendok lagi. Dilah membuka mulutnya dan satu sendok penuh makanan masuk ke mulutnya. Bukan hanya satu sendok kini beberapa sendok penuh makanan masuk ke mulutnya dan dicerna dalam sistem pencernaan.


Eldo tersenyum melihat kemajuan istrinya yang membaik. Ia berharap psikologi Dilah tak terganggu apalagi defresi.


Dilah berjalan ke kamar dengan bantuan tongkat. Sedangkan Eldo mengekorinya dari belakang.


"Kamu ikut aku ke kamar? Kamu sudah makan?"


"Sudah, aku sudah makan," kilah Eldo.

__ADS_1


Keuangan kini menipis, karena Eldo jarang bekerja dan memilih untuk mengurus istrinya. Ditambah dengan pengobatan istrinya yang jumlahnya tak sedikit.


Kruk! Kruk!


Suara perut Eldo terdengar sampai ke telinga Dilah. Eldo menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kamu lapar?" Dilah menyatukan alis matanya.


"Tidak," Eldo masih saja berkilah.


"Kamu jangan berbohong, aku tidak bisa melihat tapi aku bisa mendengar." katanya kesal.


"Iya, tapi tidak apa-apa," Eldo mencoba mencairkan suasana.


"Kalau kamu sakit bagaimana? Tadi kamu paksa aku makan tapi kamu sendiri." Dilah tak melanjutkan kata-katanya karena kesal.


Eldo hanya diam dan menunduk. Dilah meraba-raba menuju lemari, dimana ia menyimpan uang.


"Ini uang buat kamu makan," katana sambil menyerahkan uang segepok. Karena tak bisa melihat Dilah memberikan semuanya.


"Ini terlalu banyak, Sayang." ucap Eldo menolak.

__ADS_1


"Untuk apa aku kaya kalau aku buta. Ambil saja yang aku punya sekarang." ucapnya kesal.


"Aku, tidak mau kehilangan kamu." ucap Dilah selanjutnya.


__ADS_2