
Yanto menghubungi Heru. Ia ingin membahas masalah Ali. Mereka memutuskan bertemu di sebuah caffe.
"Aku tidak menyangka Ali sekeji itu," ujar Yanto membuka percakapan.
"Kau tidak memakai insting intelmu, Yanto," ucap Heru.
Yanto menjadi bingung, ia mengernyitkan dahinya.
"Maksudnya?" tanya Yanto bingung. Ia melihat Heru dengan serius.
"Tidak mungkin orang yang berbuat tidak senonoh. Tidak mengunci pintu," ujar Heru membuat Yanto berpikir kritis.
"Ya, kau benar Pak, waktu itu aku melihat Ali dan Amel disebuah kamar hotel. Kamar hotel tersebut tidak di kunci."
"Benar, itu adalah sebuah jebakan. Jika seseorang sedang bernafsu, apapun keadaannya. Ia akan sebisa mungkin untuk mengunci pintu," ujar Heru menjelaskan.
"Kau benar Pak, saya saja yang sudah halal dengan istri saya tidak lupa untuk mengunci pintu,"
"Tepat sekali, aku akan mengumpulkan bukti bahwa Ali tidak bersalah," ujar Heru yakin.
***
Dilah berada di sebuah rumah sakit, ia sedang cek kandungannya. Sekarang usia kandungannya sudah 6 bulan.
"Untuk pertama kalinya aku ke rumah sakit tanpa dirinya," gumam Dilah pelan.
"Dari hasil USG, anak ibu laki-laki," ujar dokter tersebut.
"Terima kasih, Dok." Dilah menjawab datar.
Setelah beberapa jam mendengar saran dokter. Dilah keluar dari rumah sakit, Dilah pulang ke rumah orang tuanya.
Ia masih merasakan kepedihan, hidupnya hampa. Tidak ada yang spasial dari hidupnya. Yang ada dipikirannya sekarang adalah ia ingin melahirkan dan membesarkan anaknya sendiri.
__ADS_1
"Kau lah kekuatan Mama Nak," ucap Dilah sambil mengelus perutnya. Ia menitikan air matanya.
"Aku tidak boleh menangis, nanti anakku akan ikutan sedih," gumam Dilah.
***
Setelah beberapa bulan di penjara. Akhirnya Ali dibebaskan. Ia tidak bersalah, dari keterangan para saksi dan bukti rekaman cctv bahwa Ali dinyatakan tidak bersalah. Namun, Ali enggan menuntut Amel atas tuduhan pencemaran nama baik.
"Mengapa kau tidak menuntutnya dalam tuduhan pencemaran nama baik?" tanya Yanto bergebu-gebu.
"Aku tidak ingin membalas dendam padanya. Biarlah hukum Allah berlaku untuknya." ujar Ali.
Ali senang telah di bebaskan dari penjara. Ia dengan segera ingin menemui istrinya.
Ketika Ali sudah sampai di rumah orangtua istrinya. Semua orang rumah melihat benci pada Ali. Namun, Ali mulai menceritakan kebenarannya. Akhirnya semua paham, mereka juga tidak percaya bahwa Ali sejahat itu.
"Ma, bolehkah aku bertemu dengan istriku?" tanya Ali pada ibu mertuanya_Dini.
Ali dengan segera menuju kamar istrinya. Ia mengetuk pintu dengan lembut.
Dilah membuka pintu,
"Kau!' ujar Dilah kesal.
Dilah menutup pintunya, ia merosot duduk di lantai. Hatinya begitu sakit ketika melihat Ali kembali. Ia belum tahu bahwa Ali tidak bersalah.
"Sayang buka pintunya, aku akan menjelaskannya," ujar Ali sambil mengetuk pintu.
"Pergi dariku, aku membencimu," ujar Dilah terisak tangis.
Ali tetap mengetuk pintu kamar, ia sangat ingin menjelaskan semuanya. Kebenaran yang seharusnya diketahui oleh Dilah.
"Aduh! Aduh!" Dilah memegang perutnya. Suara kesakitan Dilah membuat Ali menjadi panik. Ia mengambil kunci duplikat kamar istrinya.
__ADS_1
Ali membuka pintu, ia memepah istrinya untuk keluar kamar.
"Aduh, perutku sakit sekali. Sepertinya aku akan segera melahirkan." ujar Dilah sambil memegang perutnya.
Ali membawa Dilah ke rumah sakit.,
"Bertahanlah Sayang!" ucap Ali sambil menyetir.
Setelah sampai rumah sakit, Dilah langsung ditangani oleh Dokter.
"Aku tidak mau kau menemaniku saat aku melahirkan anakku," ucap Dilah
Ali menjadi cemas, ia mondar-mandir. Bibirnya basah karena memanjatkan doa.
"Duduklah Ali, semua akan baik-baik saja," ucap Riki menenangkan.
"Pak! Bu! Mana suami pasien?" tanya dokter tersebut.
"Saya Dok," Ali mendekati dokter tersebut.
"Istri Bapak belum bisa melahirkan. Sepertinya anak Bapak akan keluar jika bapak menemani istri Bapak di dalam," ujar Dokter tersebut yang membuat Ali bingung.
"Tapi Dok, istri saya tidak mau saya berada di dalam," ucap Ali menolak.
"Sebaiknya Bapak ikut ke dalam, memang kasus seperti ini jarang terjadi. Ini menyangkut nyawa istri Bapak,"
Ali terpaksa ikut masuk ke ruangan tersebut.
"Dok, mengapa dia ada disini?" tanya Dilah dengan kesal.
"Sebaiknya suami Ibu menemani. Anak ibu tidak mau keluar tanpa Ayahnya." ucap dokter menjelaskan.
Dengan terpaksa Dilah menerima kehadiran Ali. Dan benar saja, ketika Ali ada di dekatnya. Ia mudah untuk melahirkan anaknya.
__ADS_1