
"Sayang, mangganya memang enak, tapi jika terlalu banyak memakannya bisa terjadi sesuatu pada kita," ujar Ali agar ia tak di suruh memakannya.
"Aku makan sedikit kok," katanya sambil tersenyum.
Iya aku tahu, kau sangat curang. Kau yang menginginkan mangganya tapi aku yang harus memakannya.
"Mengapa melamun?" Dilah memiringkan kepalanya dan melihat Ali melamun.
"Tidak, oh ya sejak kapan kamu suka mangga muda?" tanya Ali heran.
"Tidak tahu, entah kenapa aku tiba-tiba menyukainya." ujar Dilah polos.
Apa ini efek dari terbentur tembok semalam? Kalau dia masih aneh-aneh lagi mungkin terjadi sesuatu pada saraf otaknya. Batin Ali gelisah.
Ponsel Ali berbunyi, terlihat ID nomor Heru. Ali keluar rumah untuk mengangkat telepon.
"Halo Pak, ada apa menelepon?"
"Cuma mau kasih informasi, Wildan sudah di pecat. Oh ya setelah misi jadi guru selesai. Selanjutnya ada misi baru untukmu." ujar Heru serius.
"Baik Pak,"
"oke," Heru menutup telepon
Dring! Bunyi ponsel Ali.
"HalovAli, aku mengundangmu makan di restauran terbaruku." ujar Amel dengan nada bicara senang.
Dilah mulai penasaran mengapa Ali mengangkat telepon di luar. Dilah mengintip sambil menguping.
Pantas dia mengangkat telepon di luar, ternyata dia ditelepon Amel. Batin Dilah kesal dan masuk ke kamar.
"Aku akan datang, bolehkah aku mengajak istriku juga?"
"Hem, bolehlah." jawab Amel agak ragu.
"Iya, aku dan istriku akan datang," ujar Ali senang.
"Baiklah, kutunggu besok ya jam 8 malam," kemudian Amel mematikan teleponnya.
Ali masuk ke rumah mencari dimana istrinya untuk memberi tahu informasi tentang undangan Amel. Ia masuk ke kamar dan mendapati istrinya sedang duduk di tempat tidur sambil mengetik pekerjaan di laptopnya.
"Ehem" Dehem Ali, Dilah melihat Ali dengan wajah datar kemudian ia melanjutkan pekerjaan tersebut.
"Amel meneleponku tadi," ucap Ali sambil naik ke tempat tidur.
"Ooh..." jawab Dilah cepat.
"Dia mengundang kita ke restauran barunya." ucap Ali tersenyum.
__ADS_1
"Aku tak mau ikut," ucap Dilah menolak tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop miliknya.
"Jika kau tak mau ikut, aku juga tidak akan ke sana," ujar Ali kemudian ia merebahkan tubuhnya.
Dilah masih mengerjakan tugas-tugasnya.
"Cuaca sedang dingin ya," ujar Ali sambil melirik istrinya yang sibuk dengan laptop tersebut.
"Iya," jawab Dilah cepat dan singkat.
"Hem, aku sudah lama tak masuk ke sana," ujar Ali menggoda.
Dilah hanya diam dan tak mengubris kata-kata suaminya. Ali duduk dan mengambil laptop tersebut dari tangan istrinya.
"Besok saja di kerjakan setelah urusanku denganmu selesai,"
****
Jam 10 Mita sudah berada di kantor MWM. Ia gemetaran, jantungnya berdetak diatas rata-rata normal. Ketika ia memasuki ruangan Ryan. Ia masih kaku namun ia membuang rasa ketakutan demi sang ayah yang sakit di kampung.
"Permisi Tuan," ucap Mita sambil mengetuk pintu.
"Silahkan masuk!' ujar Ryan dengan nada dingin.
Mita masuk dan duduk di hadapan Ryan.
Apa yang pertama kali harus aku katakan. Batin Mita bingung
"Aku ingin memberitahu sesuatu tapi kakak eh.. maksudku Tuan Ryan jangan marah ya." ujar Mita gugup, tangannya terasa dingin. Keringat bercucuran di tubuhnya.
"Beritahu segera! Jangan buang waktu berharga saya." ujar Ryan serius.
"Sebenarnya...." menggantungkan kata-katanya karena gugup.
"Sebenarnya apa?" Ryan mulai penasaran. Ia matikan komputer yang ada dihadapannya dan mentap Mita intens.
"Ayah kita sedang sakit. Kumohon pulanglah!" ujar Mita sambil menggabungkan kedua telapak tangannya.
"Ayah kita?" tanya Ryan dengan perasaan bingung.
"Kak, sebenarnya kau adalah anak dari ayahku Adrian Mulya." ucap Mita dengan nada gugup.
"Bohong!" Ryan memukul mejanya.
"Tidak kak, aku tidak berbohong. Ayah sedang sakit kak, bisakah kakak pulang untuk menjenguk ayah?" kata Mita sambil terisak tangis.
"Jangan memanggilku kakak, aku tak percaya dengan kata-katamu." ujar Ryan menyeringai.
"Kak aku berkata jujur. Jika kakak tak ingin bertemu ayah ya sudah." Mita kesal dan keluar dari ruangan Ryan.
__ADS_1
Apakah benar aku bukan anak Papa? Batin Ryan.
"Kakak tega, dia tak percaya kata-kataku." gumam Mita kesal.
Ryan semakin terbawa perasaan tentang kata-kata wanita tersebut. Ia keluar ruangan dan mendengar gosip dari para karyawan.
"Tadi aku lihat seorang wanita masuk ke ruangan Tuan Ryan dia itu mirip sekali dengan Tuan Ryan." ucap wanita tersebut.
"Apa itu simpanan Tuan Ryan?" tanya wanita di sebelahnya.
"Tidak tahu, tapi Tuan Ryan orangnya baik tak mungkin dia punya simpanan yang aku khawatirkan, jangan-jangan itu adiknya soalnya mereka mirip sekali."
"Adiknya? tapi itu bukan Dilah Wiranta." kata teman di sebelahnya.
"Tapi, sungguh mereka mirip sekali. Kau tak merasa aneh mengapa nama Dilah Wiranata dan kakaknya Ryan Mulya. Mengapa Tuan Riki tak memberikan nama belakangnya untuk Ryan. Atau jangan-jangan dia bukan anak kandung Tuan Riki." seketika wanita tersebut mengangga karena terkejut dengan ucapan sendiri.
"Ehem," dehem Ryan, kemudian mereka sibuk dengan pekerjaannya.
Iya benar, mengapa belakangku dan adikku berbeda ya?
Ryan mengambil ponselnya dan mempertanyakan hal ini kepada ayahnya.
"Halo Pa," ucap Ryan
"Iya Nak, ada masalah di kantor?" tanya Riki.
"Pa, aku minta kejelasan. Ada seorang wanita yang mengatakan kalau ayahnya adalah ayahku juga. Karyawanku mengatakan kalau kami sangat mirip."
Apa jangan-jangan itu anak Adrian. Apakah Adrian menginginkan anaknya kembali? Aku tak boleh egois, Ryan bukanlah anakku walaupun aku sangat menyayanginya tapi dia berhak tahu siapa ayah dan ibunya.
"Pa," suara Ryan memanggil ayahnya yang hanya diam.
"Nanti malam datanglah ke rumah Papa, ajak juga adikmu. Papa akan menjelaskan segalanya." ujar Riki kemudian, ia buru-buru menutup telepon.
Ryan buru-buru menelepon adiknya untuk mengajak ke rumah ayah mereka malam ini.
"Halo Kak ada apa?" tanya Dilah yang masih repot mengerjakan berkas-berkas kerja sama.
"Nanti malam papa mengundang kita." ujar Ryan dengan gugup.
"Pasti mama dan papa membahas tentang anak, aku tak mau ikut!" ujar Dilah jutek.
"Bukan itu, ada hal penting lagi." ujar Ryan serius.
"Baiklah Kak, aku akan datang malam ini." ujar Dilah sedikit tenang.
"Iya Dek, assalamualaikum." ucap salam Ryan pada adiknya.
"Wa'alaikum salam," membalas salam kakaknya dan menutup telepon.
__ADS_1
Kalau papa dan mama membahas tentang anak disana. Aku akan buru-buru pulang dari rumah papa dan mama.
Dilah melanjutkan pekerjaan dan sebentar lagi ia akan meeting