
Beberapa minggu ini, Ali merasakan hal aneh pada istrinya. Ia berpikir untuk menghubungi pskiater untuk mengecek kejiwaan istrinya. Dari data yang Ali kumpulkan, bahwa istrinya berubah 180 derajat.
Setelah pulang mengajar Ali menghubungi psikater untuk memeriksakan istrinya.
"Halo Pak, bisakah bapak datang ke rumah saya?" tanya Ali kepada bapak psikiater.
"Bisa Pak, jam 9 malam saya akan datang," kemudian psikiater menutup telepon.
Tak beberapa lama ponsel Ali berdering.
"Halo Ali, kamu sudah cari tahu orang yang menyebar video hoax tersebut?" tanya Riki gusar.
"Sudah Pa, dari informasi tersebut saya menemukan bukti ada seseorang yang mengikuti saya ke rumah Papa. Dari rekaman kamera di mobil saya bahwa Amel pelakunya."
"Bagus sekali, tidak salah aku memilih menantu sepertimu. Kau memang mata-mata yang hebat tak salah pemerintah memperkerjakan dirimu," ujar Riki memuji.
"Jadi Papa sudah tahu kalau aku mata-mata?" tanya Ali heran.
"Aku sudah lama tahu, aku menyelidikimu." ucap Riki terdengar misterius.
"Pa, jangan kasih tahu pada Dilah, kumohon!" ucap Ali gusar.
"Tenang saja, aku bisa jaga rahasia." Riki menutup telepon.
Setelah salat isya, Dilah langsung menonton televisi sedangkan Ali masih menunggu kedatangan psikiater. Selang beberapa menit terdengar ketukan pintu. Ali bangkit dan membuka pintu.
"Silahkan masuk, Pak! ucap Ali hormat.
"Iya,"
__ADS_1
Ali dan psikiater berbincang-bincang mengenai Dilah yang belakangan ini menjadi agak aneh. Psikiater tersebut mendekati Dilah dan menanyakan sesuatu.
"Dari data yang ada, istri Bapak normal-normal saja, ia masih seperti orang pada umumnya." ucap paikiater tersebut menjelaskan.
"Kamu pikir aku sudah gila?" tanya Dilah cemberut.
"Bukan begitu, tapi kamu aneh sekali belakangan ini," ujar Ali bingung sendiri, ia memakai logikanya untuk menemukan masalah pada istrinya.
"Di lihat dari pertanyaan yang saya tanyakan tadi untuk istri Bapak. Saya mengambil kesimpulan bahwa istri Bapak memiliki IQ nya sangat tinggi," ujar psikiater takjub.
Dilah tersenyum ceria, memang ia sudah tahu bahwa IQ miliknya sangat tinggi.
"Tapi kan Pak, istri saya aneh sekali belakangan ini, terkadang suasana hatinya suka berubah. Dia jadi suka hal-hal yang sebelumnya dia tidak sukai. Dia suka makanan kesukaanku, terkadang dia begitu manja. Biasanya dia galak tidak semanja sekarang,"
"Apa katamu!" Dilah mengepal tangannya sedangkan psikiater tersebut menahan senyumnya.
tanya Ali bingung, ia tak dapat menafsirkan apa yang terjadi pada istrinya.
Psikiater tersebut tersenyum lucu. Ingin sekali ia tertawa melihat kepolosan Ali.
"Sebaiknya Bapak bawa istri Bapak ke dokter, mungkin mereka lebih paham tentang masalah istri Bapak," ujar psikiater tersebut memberi saran.
"Ke dokter? Tidak, tidak, tidak, Pak. Saya tidak sakit," ujar Dilah menolak.
"Sebaiknya Nona Dilah ke dokter saja walaupun tidak sakit."
"Baiklah jika itu solusinya, aku akan membawakannya ke dokter." ujar Ali
Sebenarnya aku pobia jarum suntik, semoga saja Ali mengurungkan niatnya membawaku ke dokter. Batin Dilah gelisah.
__ADS_1
"Baiklah Pak, senang bisa bertemu dan membahas permasalahan yang Bapak dan istri Bapak hadapi." ujar psikiater tersebut dengan ramah.
"Terima kasih Pak," ucap Ali, kemudian menjabat tangan psikiater tersebut.
"Sama-sama,"
Psikiater tersebut diantar oleh Dilah dan Ali sampai depan pintu. Kemudian ia mengendarai mobil dan melaju untuk pergi.
"Kan sudah kukatakan kalau aku baik-baik saja," ucap Dilah kesal.
Bagaimana tidak kesal, dia masih normal malah di periksa oleh psikiater.
"Sayang, keanehan dirimu membuatku khawatir," ujar Ali untuk membujuk istrinya yang kesal.
"Kamu khawatir padaku?" Dilah mulai senyum-senyum sendiri.
"Iya, tapi kamu harus mau ke dokter besok, jangan berikan alasan apapun padaku!" ucap Ali kesal.
"Hem," Dilah mengubah rauh wajah menjadi sedih.
"Aku tak akan tertipu dengan wajah seperti itu," ujar Ali kesal.
Sayang aku pobia jarum suntik. Batin Dilah
"Sayang malam ini kita melakukannya," Dilah sebisa mungkin untuk mengurungkan niat suaminya membawanya ke dokter.
"Tidak, aku tidak akan menerima sogokan. Besok, mau tidak mau kita akan ke dokter."
Aaaa, bagaimana ini?
__ADS_1