
"Tidak cantik?" Tanya mereka bersamaan termasuk para pelanggan di pizza star tempat Rasya bekerja.
"Iya..." Jawab Rasya yakin.
Nafas Alya naik turun dengan cepat. Alya kesal disebut tidak cantik oleh Rasya. Sedangkan Sarah mendapatkan momen kebahagiaan ketika temannya itu dianggap tak cantik oleh Rasya. Sarah tersenyum penuh bahagia. Rasya memilih untuk kabur dari tempat tersebut. Entah mengapa setiap kali membuat Alya kesal. Aura kecantikan Alya semakin bertambah.
Rasya kemudian menghantarkan pesanan para gadis tersebut. Namun Alya enggan melihat wajah Rasya. Ia semakin membenci Rasya. Hal ini disebabkan Rasya menyukai Sarah kemudian Rasya mengatakan dirinya tidak cantik. Itu cukup membuat aura permusuhan diantara mereka.
Setelah selesai makan pizza para gadis itu meninggalkan restoran tersebut dan menunggu angkutan umum untuk pulang. Rasya kebetulan diperintahkan atasan untuk membeli bahan bahan yang kurang untuk membuat pizza. Ketika itu, Rasya lewat menggunakan motor. Alya berharap Rasya meminta maaf dan mengantarnya pulang agar Alya tak perlu naik angkutan umum. Rasya memiliki niat seperti itu untuk menghantarkan Alya pulang dan kebetulan searah. Namun mengingat Alya marah padanya tadi pagi dan tak ingin diantar ke kampus membuat Rasya berpikir ulang tentang niatnya itu.
Rasya berhenti diantara para gadis. Alya hanya melihat dengan wajah dingin tanpa senyum. Rasya menawarkan tumpangan pada Sarah. Alya tercengang melihat tawaran Rasya pada Sarah. Sarah naik ke motor Rasya dan Rasya menghantarkan Sarah pulang. Ada sedikit rasa cemburu namun tidak ditampilkan di wajah Alya. Alya memilih menampilkan wajah dingin.
Sesampainya di rumah. Alya marah-marah sendiri di depan kaca.
"Keterlaluan!"
"I hate you!"
"I hate you!"
"Laki-laki nakal!"
"Laki-laki playboy!"
__ADS_1
"Dasar buaya!!!"
"Kamu pikir kamu pintar, hah?
" Kamu pikir kamu ganteng, rasya?"
"kamu pikir kamu ganteng apa, sampai bilang aku tidak cantik?"
Alya melihat wajahnya di cermin.
"Apa sih yang buat aku engga cantik?" Alya melihat cermin melihat pipi kanan dan kiri.
"Aku cantik kok dia saja yang aneh!"
"Bahkan ketika bibirku ini tersenyum dan lesung pipi ini muncul maka akan membuat orang-orang takjub." ucap Alya membanggakan lesung pipinya.
"I hate you!"
"Berani kau menawarkan tumpangan pada Sarah!!!"
"Arghh!!!!!" Teriak Alya melampiaskan semua kekesalannya dengan berteriak sekuat tenaga.
Jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Terdengar suara motor Rasya. Alya tak seperti biasanya sering membukakan pintu. Ia memilih di kamar duduk diam sambil melamun memikirkan kejadian tadi.
__ADS_1
Rasya duduk di sofa, ia tersenyum misterius. Ia berpura-pura di telepon oleh Sarah.
"Halo Sarah," ucap Rasya dengan nada keras agar Alya yang berada di kamar dapat mendengarnya.
"Oh.. Kamu mau diantar jemput ke kampus. Oke!" ucap Rasya dengan nada lebih tinggi lagi.
"Aku tidak keberatan," sambung Rasya.
"Oke sampai jumpa," tutup Rasya.
Alya datang dengan perasaan kesal bertubi-tubi. Seakan rasa cemburu mulai meledak.
"Kamu tidak boleh menawarkan tumpangan dengan wanita lain selain aku!" perintah Alya.
"Loh... Kenapa?" Rasya keberatan dengan perintah itu.
"Nanti kalau dilihat tetangga bagaimana? Kalau digosipin tetangga tentang kamu berboncengan dengan wanita lain dan dianggap selingkuh lalu berita kita telah menikah menyebar, kemudian semua orang tahu kita menikah bagaimana?" Memang untuk saat ini hanya tetangga saja yang tahu bahwa Rasya dan Alya telah menikah.
"Halah... Kamu juga sering berboncengan dengan banyak wanita tapi tetangga tidak protes dan tidak menggosipin kamu." Rasya memberikan jawaban penolakan.
"Itu kan beda!!" Wajah Alya semakin kesal.
"Oke! Kita buat kesepakatan. Aku tidak akan pernah menerima tawaran tumpangan dari pria lain dan kamu juga begitu tidak boleh menawarkan tumpangan pada wanita lain.'
__ADS_1
" Oke! Tidak masalah. Aku tidak masalah dalam situasi seperti itu." ucap Rasya dengan enteng.
Alya melangkah masuk ke kamar dengan perasaan seperti tadi siang. Kesal!