Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Rencana Jahat


__ADS_3

Sampai Rumah


"Sayang kamu kemana saja sampai berkelahi dengan orang jahat itu?" Dilah bertanya dengan wajah cemberut. Kini mereka sudah sampai rumah dan duduk di sofa.


"Ceritanya panjang," ucap Ali sambil tersenyum manis.


Dia manis sekali. Batin Dilah sambil menahan ingin tersenyum.


"Sayang, kamu tidak ingin mandi?" Dilah mulai bangkit dari sofa.


"Hem.. iya aku akan mandi," ikut bangkit dari sofa.


"Kamu ingin ke mana?" tanya Ali yang melihat Dilah ingin berjalan lurus.


"Mau ke kamar mandi," katanya sambil menoleh kearah Ali.


"Aku ikut!" ucapnya tersenyum.


"Kamar mandi di rumah ini kan banyak kenapa minta ikut?" suara sebal Dilah.


"Hahaha, Ayo lah!" menarik tangan istrinya.


***


"Kurang ajar!" Reno menendang angin kesal. Ia benar-benar gagal untuk kesekian kalinya.


"Sial kak!" ujar Danial sambil memukul meja.


"Apa rencana selanjutnya?" tanya Reno sambil mengeraskan rahangnya.


"Aku tak punya rencana, kak!" ujar Danial sambil menopang dagunya.


"Oh.. aku punya rencana bagus," ujar Reno tersenyum iblis


"Apa kak?" tanya Danial yang sudah mulai antusias.


"Biarkan mereka merasa senang dahulu untuk melupakan kejahatan kita lalu kita buat rencana bagus. Kalau kita bergerak terlalu cepat mereka akan mencurigai kita," ujar Reno sambil tersenyum misterius.


"Kakak sangat pintar," mendekati Reno dan menepuk pundak kakak laki-lakinya.


"Baiklah aku akan menghubungi Amel." ucap Reno sambil mencari ponsel di laci mejanya.


"Halo Reno, tidak biasanya kau meneleponku malam-malam begini?" ucap Amel kemudian ia menguap.


"Aku ada misi bagus," ucap Reno misterius.


"Ada misi ada harga." ucap Amel tegas.


"Wanita pintar," kemudian Reno tertawa jahat. Sampai terbahak-bahak yang membuat Amel jijik mendengarnya.

__ADS_1


"Cepatlah, aku sudah ingin tidur." bentak Amel, jam segini biasanya jam tidurnya.


"Goda Ali sampai ia tergila-gila padamu." masih dengan tawa jahatnya.


"Menggoda pria kampungan itu. Hah! aku tak mau," ucap Amel dengan nada jijik.


"Hei wanita mata duitan, kau lihat Ali sekarang, dia bahkan sudah lebih tampan dari dulu, ya walaupun dia masih kalah denganku. Sudahlah, goda dia saja aku akan memberimu uang, Bodoh!"


"Karena aku suka uang, baiklah dalam waktu satu hari ia bisa tergila-gila padaku." ucap Amel membanggakan diri.


"Cih, menjijikan. Sudah jangan terlalu percaya diri. Goda dia sampai tergila-gila padamu. Setelah itu sisanya aku dan adikku yang akan meluluh lantahkan mereka." tawa Reno, tawanya ini mungkin sudah yang ke seratus kali.


"Sudahlah, aku ngantuk. Cepat transfer uangnya biar aku mulai bekerja padamu besok." Amel langsung mematikan sambungannya dengan Reno.


***


"Oh.. Begitu ceritanya." Dilah mulai memberi obat pada luka Ali dan mengikat kepala Ali dengan kain, agar lukanya tak terkena udara.


Ya Tuhan, suamiku tampan sekali setelah memakai pengikat kepala.


"Hei! Hei! Berhentilah memandangiku Sayang," Ali menjentikkan jarinya di depan mata istrinya.


Karena kesal menganggu pemandangan indahnya, Dilah menyikut Ali tapi kali ini agak sedikit kuat.


"Aduh,"


"Sayang, jangan marah nanti cantikmu hilang," ujar Ali sambil mengikuti Dilah dari belakang.


***


Pagi hari, kini Ali sudah masuk ke kelas. Murid-murid perempuan di sekolahnya terpesona melihat wajahnya belum lagi ditambah dengan pengikat dikepala yang menambah ketampanan dirinya.


"Pak, kenapa wajah Bapak ada sedikit memar?" tanya gadis cantik bernama Ika, ketika itu Ali sudah selesai menjelaskan.


"Ini karena Bapak terjatuh dari tangga." senyum Ali berkilah.


"Bapak hati-hati ya," senyum gadis tersebut dibibir mungilnya.


Jam istirahat, Ali melihat para guru-guru bergosip di depan kantor, kebetulan disitu disediakan kursi yang nyaman beserta pemandangan bunga yang indah. Tentu saja guru-guru senang berada disana.


"Aku dengar mentor untuk mengajar peserta lomba cerdas cermat Bu Kharisma ya?" tanya Bu Rita sambil menyenggol lengan Bu Khatisma.


"Iya, kamu tahu dari mana?" tersenyum manis bak selebriti yang lagi di wawancari reporter.


"Tahu dari guru-guru lain, kenapa tidak Pak Ali ya jadi mentor untuk para peserta San Teresyia?" tanya Bu Rita ingin tahu.


"Pak kepala sekolah belum yakin dengan kemampuan Pak Ali." ujarnya sambil tersenyum senang.


Ali berjalan cepat untuk menuju ke ruang kepala sekolah.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Ali mengetuk pintu sambil mengatur nafasnya.


"Silahkan masuk!" kepala sekolah melirik pada pintu.


Ali berdiri dihadapan kepala sekolah. "Bolehkah saya duduk?" tanya Ali sambil menarik kursi.


"Silahkan!" ujar kepala sekolah, kemudian ia mematikan laptopnya.


"Pak, ada yang ingin saya tanyakan." Ali menggabungkan tangannya dan melihat kepala sekolah serius.


"Tanyakan saja," kepala sekolah tersenyum ramah.


"Apa benar Bu Kharisma mentor untuk peserta cerdas cermat?" tanya Ali dengan sorot mata serius.


"Iya benar," jawab kepala sekolah santai.


"Mengapa saya tak diberi tahu, saya kan wali kelas para peserta. Dan anehnya sudah tertera bahwa saya mentor mereka, mengapa mengubahnya sesuka hati?" tanya Ali dengan perasaan kesal.


"Pak Ali, sadarlah tentang kemampuanmu. Kau diterima jadi guru disini atas dasar apa kau sudah tahu itu kan?" kepala sekolah merasa terusik atas pertanyaan Ali.


Ali hanya diam tak menjawab pertanyaan kepala sekolah.


"Mungkin kau sudah lupa, kau hanya guru pengganti, kau bisa menjadi guru disini karena rekomendasi dari pemilik sekolah. Kami bahkan menaruh curiga padamu. Mana bukti bahwa dirimu seorang sarjana pendidikan?" tanya kepala sekolah yang mengejutkan Ali.


Aku bukan seorang sarjana pendidikan, aku hanya tamatan diploma 3 sekolah inteligen negara. Batin Ali.


"Mengapa diam saja? Jangan mimpi untuk mendapatkan posisi jadi mentor mereka. Dan satu lagi, kalau Pak Iman selesai dengan urusannya, pak kau akan terusir dari sini." kepala sekolah menyeringai.


Baik, baik aku bisa jadi mentor satu-satunya untuk Luna dan aku akan tunjukkan bahwa aku punya kemampuan.


"Hahaha Pak, saya hanya mempertanyakan hal itu. Saya juga tak suka bermimpi yang bukan-bukan." ucap Ali sambil menggaruk kepalanya.


Jam pulang sekolah, Ali masuk ke mobil, ketika hendak pulang ada seorang wanita cantik melambaikan tangan untuk meminta Ali berhenti.


"Amel, ada apa?" tanya Ali ketika kaca jendela mobil terbuka.


Wahh...Benar apa yang dikatakan Reno dia sangat tampan.


"Bolehkah aku mengajakmu makan siang?" tanya Amel yang membuat Ali terkejut.


Bukankah dulu ia tak suka melihatku?


"Aku sudah makan siang di sekolah, lagi pula ini sudah sore." ujar Ali dan ingin menutup kaca jendela mobil.


"Tunggu, maksudku temani aku makan. Ayo lah, kita menjalin tali ikatan persahabatan. Bukankah itu akhlak mulia?" tanya Amel sambil menyembunyikan tawa jahatnya.


"Baiklah, silahkan masuk ke mobil!"

__ADS_1


__ADS_2