
Ruangan tampak hening beberapa saat setelah perdebatan yang berlangsung sedaritadi. Tiga orang pria yang sedang duduk disana hanyut dalam pikiran masing masing. Satu orang teguh dengan pendiriannya, yang satu mencoba mencegah dan yang satunya lagi bersikap netral.
"Kau tidak perlu senekat ini." Kata Julian. Sam memukul meja dengan keras. Ia begitu marah dengan ucapan sahabatnya itu. "Aku bukan orang yang mudah menyerah." Katanya sambil berdiri dari duduk. "Bill. Persiapkan semuanya. Kita eksekusi hari ini." Kata Sam sambil berlalu pergi dari ruangan itu.
Selena sedang berada di Mall bersama sang Ayah. "Ayah Selen mau ke toilet dulu ya."
"Hati hati. Ayah tunggu disini." Kata pria itu memberi pesan dan dijawab anggukan oleh putrinya.
Selen sempat melihat bayangan seorang laki laki lewat cermin di depannya. Namun Ia tak berburuk sangka. Lagipula ini adalah toilet perempuan. Jadi tidak mungkin ada laki laki disini. Beberapa detik setelah pemikirannya berakhir. Tiba tiba sosok pria berdiri tepat di belakang Selen. Belum sempat membalikkan tubuh, pria itu sudah membekap mulutnya hingga tak sadarkan diri.
Ayah Selena begitu panik. Ia sudah mencari anaknya di seluruh Mall dibantu para security namun tidak membuahkan hasil. Selena sudah menghilang satu jam yang lalu. Kamera CCTV juga tidak menangkap kemana perginya gadis itu.
Suasana Mansion keluarga Alister tampak sangat terpukul. Ini sudah lima jam lebih namun semua yang mereka kerahkan untuk mencari Selena belum memberi kabar. Gadis itu belum ditemukan juga sampai sekarang. Hingga detektif kepercayaan keluarga juga masih menyelidiki hal ini namun juga belum menemukan hasil. Si penculik begitu menyipkan rencananya secara matang. Tidak meninggalkan jejak atau petunjuk sama sekali.
"Untuk sementara jangan sampai berita ini bocor pada Mama dan Papa." Kata sang kepala keluarga memperingati anak dan istrinya.
Sean dan Shon beranjak dari duduk. Mereka tak bisa hanya diam seperti ini.
"Mau kemana kalian?" Tanya Sang Ayah sambil menenangkan istrinya yang tak berhenti menangis.
"Kita akan memastikan sesuatu. Kita akan ke rumah Sam."
"Dia sudah pergi pagi tadi."
__ADS_1
"Kemana?"
"Dia akan ke Jepang. Kemarin berpamitan dengan Ayah." Kata Pria itu membuat kedua putranya kembali duduk.
Samuel turun dari mobilnya. Pria itu menggendong tubuh seseorang yang tertutup kain. Obat bius dengan dosis yang sudah di tentukan akan membuat si gadis tidur dengan waktu yang cukup panjang. Setidaknya sampai keduanya tiba di tempat tujuan. Sam merebahkan tubuh Selena di kamar pesawat pribadinya. Ia memberikan kecupan dengan lembut di kening sebelum pergi ke luar untuk berbincang dengan seseorang.
Selena mengerjapkan mata hingga terbuka sempurna. Ia mendudukkan diri perlahan. Mengamati kamar mewah yang di tempatinya saat ini. Kamar dengan dominasi putih abu abu dengan fasilitas lengkap dan barang barang berkelas di dalamnya. Selen turun dari ranjang tidak menghiraukan kepalanya yang berdenyut. Ia berjalan menuju pintu dengan perlahan.
"Sayang. Sudah bangun?" Tanya Pria itu berjalan mendekat dengan senyuman yang begitu manis.
"Om. Selen dimana?" Daripada menjawab gadis itu lebih memilih untuk mengajukan pertanyaan dasar.
"Ini kamar kita sayang."
Selena mengambil langkah mundur saat pria itu semakin maju.
"Terpaksa. Mulai sekarang kita akan hidup bersama." Jawab Sam dengan entengnya.
"Selen mau pulang Om." Katanya menanggapi kegilaan pria itu.
"Kita akan memulai hidup baru disini Sayang."
"Aku tidak mau." Selen berlari menuju ke arah pintu. Baru beberapa langkah menjauh dari ruangan itu sepasang tangan kekar memeluk dan membawanya kembali ke dalam. Selen tak bisa lagi menahan air matanya. Gadis itu tak terbiasa dengan sentuhan seorang pria tiba tiba di perlakukan seperti ini. Ia berusaha memberontak namun Sam tidak perduli. Pria itu malah mendorongnya ke tempat tidur dan mengungkung tubuh Selen sambil tersenyum bangga. Selen menangis lebih kencang tatkala Samuel mulai mengendus wajahnya kemudian mengecup kening itu dengan lembut.
__ADS_1
Sam memasuki kamar sambil mendorong troli makanan. Hal yang baru pertama kalinya Ia lakukan demi gadis pujaan. Ia akan melayani sendiri kebutuhan Selen.
"Waktunya makan Sayang." Kata Pria itu melihat Selen keluar dari walk in closet. Ia menduga pasti Selen selesai membersihkan diri dan beribadah.
"Aku tidak mau." Jawabnya sambil duduk di ranjang. Sam menghela napasnya. Pria itu geram. Ia tak mau jika Selena sakit karena telat makan.
"Aku ingin pulang." Selena mulai menangis lagi.
"Makan Honey." Tegasnya.
"Aku tidak mau."
"Oh. Mau dengan cara kasar." Pria itu meraih dagu Selena dan mulai membuka kancing kemejanya.
"Jangan sentuh aku." Selena memberontak. Ia marah diperlakukan seenaknya seperti ini.
"Makan. Aku tak segan untuk memperkosamu." Pria itu sudah bertelanjang dada menampilkan tubuh atletis yang bertato membuat gadisnya takut.
Malam hari Selena sudah berada di ranjang setelah membaca beberapa Ayat yang akan menenangkan hatinya.
"Om mau apa?" Tanyanya pada Sam yang ikut naik ke ranjang.
"Tidur Sayang."
__ADS_1
"Aku tidur sendiri. Setidaknya hargai aku."
Selen beranjak dari ranjang hendak tidur di sofa namun Sam menarik tangan gadis itu hingga terjatuh di ranjang. Selena mulai menangis dalam dekapan pria itu. "Aku mencintaimu." Kata Sam. "Tidurlah. Atau aku akan membunuh keluargamu." Selen memilih untuk diam. Gadis itu meminta maaf pada Tuhan karena merasa hina dan bersalah. Terpaksa Ia tidur dengan Sam yang bukan muhrimnya. Ia menangis dalam diam ketika tubuhnya di dekap pria itu. "Selamat malam sayang." Kata Sam menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Selena.