Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Beruntung Memilikimu


__ADS_3

Selen membiarkan suaminya tidur lagi setelah sempat bangun untuk ikut sholat subuh bersama. Kini Ia tengah berada di dapur. Menyiapkan sarapan di bantu dengan beberapa ART. Mereka nampak canggung dan tidak enak hati. Takut takut nanti jika Sang Istri kesayangan Tuan akan terluka. Pasti mereka yang akan mendapat masalah. Awalnya mereka pikir Selen seperti nyonya nyonya di luar sana. Yang manja dan tidak tau apa itu masalah dapur. Ternyata anggapan itu salah. Selena begitu lihai dalam memasak. Hasil masakan Wanita itu juga sangat enak. Mereka pernah merasakannya sendiri. "Ini sudah siap semua. Kku tinggal dulu ya Bi." Kata Selen setelah menyajikan menu terakhir yang dibuatnya. "Baik Bu. Nanti kami siapkan di ruang makan." Jawab mereka.


Pintu kamar terbuka menampilkan sosok wanita cantik disana. "Sudah bangun." Katanya melihat Sam duduk di ranjang dengan penampilan yang masih acak acakan. Pria itu tersenyum lebar. Tanpa menjawab Ia langsung beranjak. Berlari kecil untuk memeluk sang istri tercinta. Bibir Sam langsung mengecup beberapa kali bibir mungil istrinya. "Morning kiss." Kata Pria itu tersenyum puas. Selen menghela napasnya. Wanita itu melepaskan pelukan sang suami dengan pelan. "Mandi dulu. Aku siapkan baju dan airnya." Selen dengan cepat melangkah namun tangannya di cekal oleh seseorang. "Kenapa hm?" Tanya Selen sambil membalikkan badannya. "Pen peluk." Jawab Sam dengan wajah yang begitu imut. Wanita itu ingin sekali tertawa. Kemana perginya singa galak itu sehingga berubah seperti ini. Apakah Sam kerasukan sesuatu? Batin Selena dalam hati. Ia mengangguk kemudian memeluk tubuh kokoh itu dengan hangat. "Setelah ini mandi." Katanya mendapat anggukan dari sang suami.


Sam sudah menghabiskan sarapannya sampai tak tersisa sedikitpun. Pria itu tak membuang makanan seperti biasa. Semenjak Istrinya yang memasak Ia selalu menyantap hidangannya sampai tandas. "Honey. Bisakah kamu mengantarkan makan siang untukku nanti?" Tanya Sam penuh kelembutan. "Bisa." Selen mengangguk dengan cepat. "Terimakasih Honey." Sam begitu senang. Ia mendekat dan mencium bibir istrinya untuk berterimakasih.

__ADS_1


Sam mendongak menatap dua orang yang tiba tiba sudah berdiri di depannya. Pria itu menutup laporan yang tengah di baca dan meletakkannya di atas meja. "Silahkan duduk." Ajak Sam menatap kedua iparnya yang masih berdiri. "Tidak ada minum?" Tanya Sean sambil menyenderkan punggungnya di sofa. "Akan aku pesankan." Kata Sam meraih ponselnya yang ada di saku jas. "Mau apa?" Tanyanya setelah terhubung ke telpon kantin. "Dua Caramel macchiato." Kata Shon dan Sam mengangguk lalu memesankannya.


Sosok wanita memasuki gedung Elexander group. Semua orang menyambutnya dengan antusias. Mereka kagum dengan kecantikan dan keramahan Istri Samuel yang begitu luar biasa. "Mbak. Ruangan Pak Samuel ada dimana ya?" Tanyanya sopan pada resepsionis. "Ah. Di lantai tiga belas Bu. Eh. Nyonya. Mari saya antar." Jawabnya gugup kemudian mengarahkan Selena untuk mengikutinya.


Sean dan Shon heran. Sedaritadi Sam terus mengusir keduanya. Pria itu seperti menyembunyikan sesuatu. Mereka masih tak beranjak. Beberapa menit kemudian pintu ruangan terbuka. "Sayang." Keduanya langsung menyambut kedatangan Selena dengan pelukan dan ciuman. "Pantas saja dia menyuruh kami untuk segera pulang." Shon melirik iparnya itu dengan tatapan tajam. "Aku mengantar makan siang." Jawab Selena kepada kedua kakak kembarnya. "Kita makan juga. Boleh kan ipar?" Tanyanya membuat Sam mengangguk pasrah sambil mengumpat dalam hati.

__ADS_1


Selena menyiapkan makan. Beruntung tadi Ia membawa tiga kotak yang rencananya satu untuk sang suami dan dua untuk Bill serta Julian. Namun karena dua kakaknya berada disini Selen memberikannya kepada mereka. Sam makan dengan tenang. Ia hanya mengamati tiga orang yang sedang makan dan saling suap di sofa depannya. Beginilah yang Sam kesalkan. Jika sudah ada dua iparnya itu maka perhatian sang istri padanya akan teralihkan.


Sam dan istrinya tiba dirumah. Mereka di kejutkan oleh dua wanita yang sudah menunggu di ruang tamu. Ia begitu geram dan akan membuat perhitungan kepada penjaga yang telah mengizinkan mereka masuk. "Mama." Selena hendak mencium tangan mertuanya namun langsung di tepis oleh Bella. Sam tidak terima. Pria itu menarik sang istri dan memeluknya dengan hangat. "Mau apa kalian?" Tanya Sam sudah menahan emosi. "Duduk dulu. Ada yang ingin Mama bicarakan." Katanya membuat sepasang suami istri itu mendudukkan diri di sofa yang agak berjauhan. "Aku beri waktu lima menit." Tegas Sam dijawab anggukan oleh keduanya. "Manikahlah dengan Bella. Jadikan dia istri keduamu." Katanya membuat Sam naik pitam. Bella disana juga memohon untuk di peristri seorang Samuel. Pria itu muak dan marah. Sam meraih Vas dan membantingnya di meja kaca sehingga membuat kedua benda itu pecah seketika. Selen mencoba menenangkan suaminya namun tidak berhasil. Pria itu berdiri di depan keduanya sambil bersedekap dada. "Memangnya siapa kalian berani memerintahku? Istriku hanya satu dan untuk selamanya. Jadi sebelum aku melenyapkan kalian pergi dari sini jangan temui aku lagi. Kalian sama. Sama sama murahan dan perayu para lelaki. Aku benar benar jijik." Kata Sam menarik tangan istrinya untuk masuk dan menyuruh beberapa orang untuk mengusir dua wanita itu.


Selena mengajak Sam duduk dan mengelus punggung pria itu untuk meredam emosinya. Ia juga sakit hati Mama Sam berbicara seperti itu secara langsung di depannya. Pria itu menoleh ke samping dan memeluk Selen. Ia sangat bersyukur mempunyai pendamping hidup yang begitu sabar. "Terimakasih Honey. Kamu selalu menenangkanku. Beruntung memilikimu." Lirihnya sambil Menenggelamkan kepala di pundak Sang istri.

__ADS_1


__ADS_2