
Tepat tengah malam. Suasana Mansion keluarga Alister begitu mencekam. Beberapa pria bersenjata masuk setelah mampu menyingkirkan pertahanan di luar. Semua keluarga sudah lengkap berkumpul di ruang tengah dalam keadaan terikat kecuali satu.....Ya Selena tidak berada di sana. Gadis itu mungkin masih tidur dan belum menyadari kekacauan di lantai bawah. Ayah Selen sudah ketar ketir. Pria itu merutuki kebodohannya sendiri. Andai saja Ia mendengarkan kedua anak kembarnya pasti kejadian tidak akan seperti ini. Sebisa mungkin Ia menenangkan diri. Tak mau bertindak ceroboh karna jika demikian akan membuat beberapa algojo yang mendampingi anak dan istrinya langsung melakukan eksekusi. "Sam. Kau boleh ambil seluruh hartaku. Tapi lepaskan kami. Jangan ganggu keluargaku." Katanya mencoba untuk bernegosiasi. Sam tertawa kencang dengan apa yang di dengarnya barusan. "Aku ingin Selena." Jawabnya dengan cepat. "Aku mohon Sam. Jangan sakiti putriku." Pria itu tampak sudah berkaca kaca. Takut terjadi sesuatu pada anak perempuan satu satunya. "Keparat kau." Shon berkata dengan lantang membuatnya mendapatkan tamparan.
Selena masih menggunakan mukenanya. Gadis itu baru saja menyelesaikan sholat malam. "Kakak." Panggilnya ketika merasa ada seseorang yang membuka pintu kamar. "Selamat malam Honey." Jawab Sam menghampiri gadis itu dengan senyumnya yang lebar. Selena mundur mencoba untuk menghindar. "Pergi." katanya dengan gemetar. Sam mengangguk kemudian menyimpan senjata api itu di punggung. "Kau harus menyelamatkan keluargamu." Satu kalimat yang keluar dari mulut Sam membuat Selena membeku di tempat.
__ADS_1
Selena lemas saat semua anggota kelurganya terikat di kursi. "Sayang." Bunda tak kuasa menahan air matanya. Gadis itu mengambil langkah cepat untuk memeluk keluarganya satu per satu. Terakhir Ia mengelus pipi Kakaknya yang sudah membiru. Air mata Selena luruh perlahan. Gadis itu memohon pada Sam untuk segera melepaskan keluarganya. Namun pria itu bungkam. Ia malah mengajukan syarat seperti yang lalu lalu. "Jangan Sayang. Kau harus pergi. Jangan mau hidup dengan pria sepertinya." Kata Sean pada sang adik. Selen ingin menemukan cintanya secara alami. Namun Ia juga tak ingin membahayakan keselamatan keluarganya. Sam terus menggertak. Pria itu menghitung mundur. Semakin kecil angka yang diucapkan Sam membuat para bawahannya semakin mendekatkan senjata di kepala masing masing orang. "Baiklah." Kata Selen membuat senyuman kemenangan terbit di bibir pria itu. "Sayang. Jangan lakukan." mereka menentang keputusan yang telah di ambil Selena. "Aku akan baik baik saja." Jawabnya mencoba menenangkan mereka.
Pernikahan di lakukan pada malam itu juga. Pernikahan karena paksaan dari salah satu pihak. Namun mau bagaimana lagi. Keduanya sudah sah secara hukum dan agama sekarang. Dengan begini Selena sudah terikat dengan Sam yang resmi menjadi suaminya. Pria itu langsung membawa pulang Selen setelah terjadi perpisahan yang alot. Keduanya akan tinggal di rumah yang berada tepat di depan mansion keluarga Alister.
__ADS_1
Selena memasuki kamar utama diikuti sang suami. Disana terdapat buket bunga mawar yang indah memenuhi ranjang menghiasi kamar mewah dengan dominasi warna abu abu dan putih itu. Sam memeluk Selen membuat gadis itu sedikit terkejut karena tidak terbiasa. Ia merasa takut dengan Sam. Buru buru Selena menjauh Namun Suaminya dengan cepat merengkuh tubuh itu dengan erat. Selen memberontak namun percuma. Ia hanya bisa diam sekarang. Bagaimanapun juga Samuel sudah menjadi suaminya. Pria itu sudah menyiapkan segala kebutuhan sang istri dan menjelaskan bahwa Selen bisa mengganti apapun sesuka hati jika tidak menyukai dekorasinya.
Pagi hari Sam bangun telat. Pria itu menikmati tidurnya yang nyaman dengan sang istri sehingga enggan untuk membuka mata. Sam membuka layar tabnya mendapati Selena tengah sibuk di dapur. Ia tersenyum kemudian beranjak dari ranjang. Selen ternyata sangat perhatian. Semua kebutuhan Sam mulai dari baju, handuk sampai air mandi sudah disiapkan dengan baik.
__ADS_1
Sam langsung memeluk dan mencium kening sang istri begitu sampai di depan. Kedua iparnya menatap Sam dengan tajam. "Kakak ipar mau sarapan disini?" Tanya Sam namun mendapat respon yang pedas. Ia hanya tersenyum. Bukankah Ia menang sekarang. Bisa memperistri Selena dan selain itu semuanya tidaklah penting. " Nanti setelah sarapan Selen akan datang." Jawabnya. Kedua pemuda itu melangkah maju. "Singkirkan tanganmu." Kata Sean membuat Sam mengalah. Mereka memeluk dan mencium kening Selena sebelum pergi.
Sam menggenggam tangan Sang Istri tiba tiba sehingga membuat Selen menghentikan sarapannya. "Aku minta maaf atas semuanya. Aku terpaksa melakukan cara ini karena ditolak berkali kali oleh kamu dan keluarga. Jangan tatap aku dengan takut seperti itu. Ini sangat menyakitkan. Aku berjanji akan membuat kamu bahagia. Mohon buka hatimu untukku." Kata Sam dengan nada yang begitu serius dan tulus. Pria itu mencoba mengungkapkan semua isi hatinya dengan cara selembut mungkin.
__ADS_1