
Selena sudah siap dengan kedua anaknya. Mereka akan bersepeda di sore yang cerah ini. Sengaja Ia tidak mengajak Sang suami karena pria itu masih tidur dan Selan tidak ingin membangunkannya. "Kalian di depan biar Ibu mudah mengawasi. Bawa sepedanya hati hati." Wanita itu mewanti wanti kedua anaknya. "Baik Ibu." Sky duluan di susul Shai kemudian Selena juga naik sepeda di posisi terakhir.
Mata Selen tak pernah lepas untuk mengawasi kedua anaknya. Ia selalu menuturi Sky maupun Shai ketika keduanya saling beradu cepat. Hal sederhana seperti ini sudah membuat ketiganya bahagia. Yang terpenting adalah kebersamaan. Suatu yang tidak dapat digantikan dengan apapun.
Mereka berhenti di sebuah taman sambil menikmati minuman yang dibeli dari minimarket di sebrang jalan. "Ibu." Panggil Sky. "Iya Sayang. Ada apa hm?" Selena mengusap kepala putranya dengan lembut. Ia tahu Sky hanya bisa bersikap manis padanya. Lelaki tampannya itu sungguh mengagumkan bagi Selen. Sky tersenyum kemudian membelai lembut pipi Ibunya. "Sky sayang Ibu." Ia memeluk Selena dengan erat. "Tidak boleh begini." Shai cemburu. Gadis kecil itu memisahkan kakak dan Ibunya. "Ibu punya Shai." Ia menggantikan posisi sang kakak untuk memeluk Selena. "Ibu milik kalian. Kalian berdua." Selen merengkuh tubuh anak kembarnya bersamaan.
__ADS_1
Sam baru bangun tidur. Pria itu menuju kamar mandi dan mencuci muka. Ia melangkahkan kaki keluar kamar langsung menuju ke lantai bawah. Suasana begitu sepi. Biasanya Sky atau Shai akan berdebat kecil. Jika tidak, pasti ada omelan istrinya untuk menegur si kembar. Sam menghampiri salah satu penjaga. Ia menanyakan keberadaan anak dan istrinya. "Nyonya sedang bersepeda dengan tuan dan Nona muda." Jawab pria itu membuat Sam mengangguk. "Kira kira kemana perginya?" Tanya Sam lagi. "Di taman Tuan." Sam bergegas keluar setelah mendapat jawaban.
Beberapa menit Sam sudah sampai di taman. Pria itu memarkirkan mobilnya dan segera turun. Ia tersenyum melihat Istri dan anak anaknya duduk di rerumputan sambil makan sesuatu. Mereka berceloteh ria. Tepatnya Shai yang sedang berceloteh. Gadis kecil itu begitu banyak bicara. "Honey." Panggil Sam lalu duduk di samping istrinya. Duduk di rerumputan dengan santai untuk pertama kalinya. "Kalian sudah lama hm?" Sam bertanya. "Lumayan. Ayah sama siapa?" Gadis itu menatap di sekitaran. Biasanya sang Ayah selalu bersama beberapa penjaga atau asistennya. "Ayah sendiri." Jawab Sam membuat Shai mengangguk. "Kepedasan ya?" Tanya Selen melihat wajah anak laki lakinya memerah. Sky mengangguk dengan cepat lalu Selena memberinya minum. "Aku mau." Sam semakin mendekatkan dirinya pada Selena. Ingin disuapi bakso oleh sang istri. "Sebentar." Selen menusuk bakso dengan garpu. Meniupnya hingga dingin dan menyuapkannya pada Sam. "Pedes banget." kata Sam kemudian meraih air mineral dan meminumnya dengan cepat.
Sesaat sebelum memasuki gerbang rumah Shai mendahului kakaknya. Gadis itu terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan. Selena dengan cepat turun. Membiarkan sepedanya begitu saja untuk menghampiri Shai. Gadis kecilnya sudah menangis karena lututnya terluka. Selena menggendong tubuh mungil itu sambil menenangkan. "Kan sudah Ibu bilang untuk hati hati." Tuturnya sambil membawa Shai masuk ke dalam.
__ADS_1
Selena mendudukkan anaknya di sofa. Mengambil kotak obat dan membersihkan luka di lutut Shaina. "Jangan cengeng. Itu hanya luka kecil." Kata Sky. "Sudah jangan menangis." Sam mengusap kepala anak perempuannya dengan lembut. "Lain kali jika di beri nasihat itu di dengarkan Shai. Jangan membantah apa kata Ibu." Sky menuturi sang adik. Ia tau betul jika saudara kembarnya itu sedikit badung. "Sudah selesai. Jangan menangis lagi hm." Selen selesai memasang plester kemudian memeluk anaknya.
Malam hari. Selen duduk di balkon sambil membaca buku setelah memastikan kedua anaknya tidur. Sepasang tangan kekar memeluknya dengan erat lalu ciuman bertubi tubi Ia rasakan pada wajahnya. "Kenapa tidak baca di dalam saja hm? Di luar dingin." Kata Pria itu namun Selena hanya menggeleng dan meneruskan kegiatannya. Sam merebut buku Istrinya dengan paksa. "Kamu kenapa sih?" Tanya Selena heran. Sam sedih. Ia tidak mau di abaikan seperti ini. Memang benar Ia banyak salah. Namun bisakah sang Istri memperhatikannya sedikit saja. Maksud Sam bukan hanya menyiapkan keperluannya. Namun Ia butuh di manja dan diajak mengobrol. "Aku mau di perhatikan sama kamu. Aku nggak mau di abaikan seperti ini." Sam akhirnya memberanikan diri mengungkapkan semua perasaannya. Selena menghela napas. Ia sebenarnya juga tidak mau seperti ini. Namun hatinya benar benar belum siap.
Sam dan Selena kini sudah berada di ranjang. Pria itu menyusul istrinya ketika ungkapannya tak mendapat balasan. Ia memeluk tubuh Selena dengan erat. Menangis. Kini Sam menangis sesenggukan. Menenggelamkan kepalanya di dada sang Istri. Ia menyesali segala yang telah di perbuatanya. "Sudah. Jangan menangis lagi." Selen mengusap kepala sang suami dengan lembut membuat Sam mendongak menatap istrinya. Wajah cantik itu begitu menenangkan untuk di pandang. Ia tak pernah bosan untuk menatap wajah istrinya. "Tidur. Ini sudah malam." Selen mulai merebahkan tubuhnya di ranjang diikuti Sam. Pria itu memeluk Sang Isteri dengan erat. Menggunakan lengan kekar miliknya sebagai bantalan kepala Selena. "I love you." Sam mengecup bibir sang istri dan menyesapnya lama. Ia tersenyum lalu ikut memejamkan mata.
__ADS_1