Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Aku mencintaimu. Sangat


__ADS_3

Selen tidak ikut sarapan. Hanya suami dan kedua anaknya yang berada di ruang makan. Sementara wanita itu sibuk menyiapkan bekal untuk Sky dan Shai. Menata dessert, buah dan juga sandwich ke dalam kotak. Tak lupa Selen juga membawakan susu dengan rasa vanilla dan coklat kesukaan mereka.


"Sayang. Habiskan susunya. Jangan mubazir." Tutur Selen melihat gelas susu anaknya masih ada seperempat. "Shai kenyang Bu. Shai kebanyakan makan pancake. Jadi tidak bisa menghabiskan susunya. Nanti perut Shai sakit." Kata Shai sambil mengelus perutnya. Selen tersenyum Ia kemudian duduk di dekat anak anaknya. "Baiklah. Ini bekal kalian." Keduanya mengangguk. "Terimakasih Bu. Nanti Ibu jemput kita kan? Kita jalan jalan dulu sebelum pulang." Ajak Shai sambil mengguncangkan tangan Ibunya. Sky hanya diam. Drama pagi yang di buat kembarannya sudah membuat bocah tampan itu terbiasa. Sam hanya memperhatikan mereka. Sikap istrinya masih sama dan Ia memaklumi. Asal Selen tetap mau bersama dengannya Ia tak masalah dengan segala perlakuan wanita itu. "Hm...Ibu akan usahakan. Ibu sebenarnya masih ada sedikit pekerjaan. Tapi tidak apa. Nanti Ibu jemput dan jalan jalan." Jawab Selen sambil mengusap lembut kepala kedua anaknya. "Terimakasih Bu." Shai memeluk wanita itu dengan erat. "Sama sama. Ayo segera berangkat nanti kalian telat." Selen memperingati. Sky turun perlahan sedangkan Shai sudah melesat dengan cepat meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


Selena masih berada di teras rumah. Ia baru saja mengantar kedua anaknya sampai ke depan. "Aku berangkat dulu Honey." Kata Sam menghampiri istrinya. Wanita itu mengangguk kemudian meraih tangan Sam dan menciumnya sekilas. Semarah apapun Selen Ia tak melupakan hal itu meskipun ada kenangan pahit di dalamnya. "Hati hati." Katanya pelan kemudian hendak melangkah pergi. Sam mencekal tangan istrinya. Pria itu memeluk Selena dengan erat sambil mencium pelipis sang istri beberapa kali. "Aku mencintaimu." Katanya kemudian melepaskan pelukan dan pergi.


Sam duduk di kursi kerjanya. Pria itu nampak pucat sambil memijit pelipisnya yang berdenyut. Badannya terasa lemas. Padahal tadi Ia sudah sarapan. "Kenapa?"Tanya Julian tiba tiba masuk dan duduk di depan sahabatnya. "Sedikit pusing saja." Jawab Sam. "Wajahmu pucat. Aku panggilkan dokter ya." Tawar Julian dan Sam menggeleng. "Tidak perlu. aku baik baik saja." Tolaknya. "Em... Bagaimana hubungan kalian?" Tanya Julian sedikit pelan. "Masih sama. Aku terima segalanya. Memang aku yang salah." Tutur pria itu. "Kau tidak menandatangani surat cerai itu? bukankah Selen sudah berkali kali minta cerai padamu?" Sam mengangguk. "Sudah aku bilang. Aku akan memperbaiki yang telah rusak. Memang tidak akan bisa sempurna. Namun kesempatan kedua selalu ada bukan?" Kata Sam membuat sahabatnya itu mengangguk.

__ADS_1


Pukul 11 Selena sudah sampai di sekolahan anak anak. "Ibu." Keduanya langsung berhambur memeluk Selena begitu wanita itu turun dari mobil. "Kita jalan jalan kemana?" Tanya Selan kepada kedua anaknya. "Terserah Ibu saja." Jawab Shai. Selena mengangguk. Ia kemudian menyuruh anaknya masuk ke dalam mobil. Ketika hendak ikut masuk juga tiba tiba Ia mendapat telpon. "Iya Om." Jawab Selen sembari membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. "Kapan? Sekarang di mana?" Tanyanya pada orang di sebrang sana dengan raut wajah khawatir. "Baik. Aku pulang." Jawabnya dengan cepat lalu menyuruh supir kembali ke rumah. "Kenapa kita pulang Bu?" Tanya Shai. "Ayah pingsan. Jalan jalannya di tunda dulu ya." Kata Selen dan mereka mengangguk.


Selena berjalan mendekat ke arah ranjang. Di tatapnya wajah Sam yang pucat. Selen meneteskan Air matanya. Ia melepaskan jas suaminya perlahan. Menanggalkan dasi dan alas kaki pria itu dengan hati hati. "Honey...." Panggil Sam dengan mata yang masih terpejam. Selen menduga pria itu mengigau. "Honey...Maafkan aku." Tuturnya membuat Selena semakin terisak. Ia memilih pergi kamar mandi agar suara tangisan nya tidak terdengar.

__ADS_1


Sam sudah bangun. Waktunya pria itu untuk minum obat dan makan. Selena memasuki kamar sambil membawa nampan. Meletakkannya di atas nakas kemudian meraih piring itu dan menyangganya sambil duduk di tepi ranjang. "Ibu...." Teriakan Shai terdengar memasuki kamar. Gadis itu berjalan membawa piring sambil diikuti kakaknya yang berwajah kesal. "Kan Ibu suruh kalian makan." Kata Selena. "Kita makan disini." Shai menaiki ranjang. Duduk bersila di depan makanannya. "Shai. Nanti kotor. Makanlah di meja. Kemari." Sky menuturi adiknya. "Tidak mau. Shai mau dekat Ibu." Jawab gadis kecil itu mulai menyantap makan siangnya dengan lahap. Selena menghela napas sementara suaminya hanya tersenyum. Wanita itu mulai menyuapi Sam membuat hatinya menghangat. "Setelah ini minum obatnya." Kata Selen dan Sam mengangguk sambil tersenyum.


Hanya tersisa Selena dan Sam di dalam kamar setelah drama panjang makan siang si kembar. Wanita itu menghela napasnya melihat sprei tempat tidurnya kotor karena ulah Shai. Gadis itu makan dengan berantakan. "Biar aku yang ganti." Kata Sam sambil membawa Sprei dan selimut baru. "Tidak aku saja." Tolak Selena. Wanita itu dengan cepat melepaskan sprei lama dan menggantinya dengan yang baru di bantu suaminya. "Prankk.." Selen menoleh mendapati kaki suaminya terluka karena pecahan Vas bunga. Ia dengan cepat membantu pria itu duduk dan membersihkan lukanya. "Kenapa kamu ceroboh? Kenapa suka sekali membuat diri sendiri terluka? Kenapa membuatku terluka? Kenapa kau selalu egois? Tidak taukah jika aku khawatir." Selen menangis. Sam memeluk tubuh ramping itu dengan sangat erat. Mengusap punggung Selen dan mengecup pucuk kepala wanita itu beberapa kali. "Maaf Honey. Maafkan aku Sayang. Aku akan perbaiki. Maafkan aku." Sam terus berkata seperti itu. Ia melepaskan kacamata istrinya. Mengecup kedua mata indah itu bergantian. "Aku mencintaimu. Sangat." Kata Sam jujur dari hati yang terdalam.

__ADS_1


__ADS_2