Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Mereka Butuh Waktu


__ADS_3

Semenjak menikah Sam selalu bangun telat. Pria itu sangat menikmati tidurnya sehingga sulit membuka mata. Ia segera beranjak untuk mandi. Ia tersenyum karena semua keperluannya sudah disiapkan sang istri semenjak subuh tadi.


Pria itu nampak gagah dan berwibawa mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja maroon di dalamnya. Senyuman terbit di bibir Sam tatkala seorang gadis cantik memasuki kamar. "Aku kira belum bangun." Katanya hendak berbalik untuk keluar. Dengan langkah cepat pria itu langsung memeluk istrinya erat. Tak membiarkan Selena lolos begitu saja. " Honey. Pasangkan dasiku." Pintanya sambil mengecup pipi sang istri beberapa kali. Selena mengangguk dan berbalik. Ia meraih kain panjang tak bermotif itu dari tangan suaminya. Selen berjinjit untuk meraih leher Sam. Begitu lucu dan menggemaskan. Tak menyia nyiakan kesempatan, Sam menunduk dan mengecup bibir yang menjadi candunya itu beberapa kali. Sam terbuai hingga ciuman panjang terjadi. Selen segera mendorong dada bidang Suaminya. Ia menghirup napas dalam dalam ketika pangutan itu sudah tidak terjadi. "Maaf." Kataya dan di jawab anggukan. Sam mengamati wajah cantik dengan lekat. Wajah mereka begitu dekat karena Sam menunduk menyesuaikan tinggi Selena. "Sudah selesai." Kata Selen sambil merapikan kerah kemeja. "Terimakasih Honey." Jawab Sam lalu mengecup bibir mungil itu lagi dan lagi.


Selena mengantarkan suaminya sampai ke depan rumah. Ia mencium tangan Sam membuat hati pria itu menghangat. Beruntungnya dia memiliki Istri yang patuh dan baik Seperti Selen. Ia sadar sebenarnya jauh dari kata layak untuk mendampingi gadis itu. Namun Selen menerima Sam apa adanya. Tidak menuntut apapun. Hanya saja beberapa kali Selen mengingatkan untuk beribadah. Sam belum bisa mengabulkannya sekarang. Tapi mungkin nanti atau di lain waktu Ia akan belajar. Pria itu membawa tubuh Selen dalam pelukan hangat. Ia mengecup kening istrinya beberapa kali sambil terus mengatakan perasaannya yang penuh cinta pada sang istri. "Aku mau ke rumah Bunda boleh?" Tanya Selen di jawab anggukan dan senyuman oleh suaminya. Bukankah Selen sangat menghargai dan menghormati Sam sebagai seorang suami. Buktinya gadis itu meminta izin hanya untuk ke rumah Sang bunda yang berjarak beberapa meter saja.

__ADS_1


Sam sudah sampai di perusahaan setelah mengalami perpisahan manis dengan istrinya. Ia memasuki gedung dengan wajah datar dan tegas seperti biasa.


"Ada apa?" Tanya Sam mendapati sosok Julian dan Billy tengah duduk bersama di ruangan tempat Ia bekerja. Mereka tidak langsung menjawab melainkan memilih untuk mengajak Sam duduk. Secangkir kopi sudah tersaji di depan Sam. Namun pria itu tak menyentuhnya malah mengajukan pertanyaan yang sama. Julian menghela napas. Ia menjelaskan pada Sam untuk berhati hati. Julian mendapatkan Informasi jika Bertrand telah tertarik pada Selena. Bukan hanya pendapat pribadi. Namun mereka mendapati Bertrand tangah mengamati foto Selena dalam beberapa kesempatan. Pria itu juga telah menggali informasi mengenai Selen. Itu semua tak sengaja Bill dengar ketika mereka sama sama berada di club' malam. "Entah apa yang akan dilakukan bocah itu. Tapi yang pasti bukan hal yang baik. Aku kira Bertrand dan Mamamu kembali karna harta. Namun ternyata lebih dari itu." Jelas Julia pada Sam. "Dia licik. Tapi aku akan lebih licik." Kata Sam dengan penuh keyakinan. Ia akan mengikuti semua permainan yang telah mereka ciptakan.


Sam menghela napas ketika sang istri tengah tertawa bersama dua iparnya. Memang Sam tidak membenci mereka. Namun sikap dua orang kembar itu sangat menyebalkan dan tengil. Selen berjalan lalu mencium tangan suaminya dibalas kecupan lembut di kening gadis itu. "Jangan lakukan itu di depan kami. Atau kami tidak akan menerimamu sebagai ipar." Kata Shon hanya di tanggapi senyuman oleh Sam. "Sayang ayo makan siang." Ajak Sean lembut. "Kau sekalian." Katanya dingin di akhir langsung menarik tangan Selen untuk pergi.

__ADS_1


"Terimakasih makan siangnya Bunda, Ayah. Kami pulang dulu." Sam berpamitan kepada kedua mertuanya. "Ya. Sering seringlah datang." Jawab Bunda. Mereka mencoba memahami dan menerima. Mau Bagaimanapun juga Sam sudah menjadi menantu keluarga Alister. Sam menggandeng tangan sang istri di sepanjang perjalanan tanpa melepaskan. Kedua orang itu masih mengamati anak dan menantunya yang berjalan menjauh.


Langkah Sam terhenti ketika sampai di depan rumah. Ia merasakan jika Sang istri tidak lagi berjalan."Maafkan Kakakku." Lirih Selen merasa tidak enak pada suaminya. "Tidak masalah Honey. Aku paham. Mereka butuh waktu." Kata Sam dengan lembut sambil menangkup wajah cantik Selana.


Selen memutuskan untuk duduk sambil membaca buku setelah semuanya keperluan suaminya siap. Tetesan air tiba tiba mengenai tangan dan buku yang Ia pegang. Gadis itu mendongak menatap Sam yang tersenyum lebar sedang mengungkungnya dari belakang. "Bisa bantu keringkan rambutku Honey?" Tanya Sam. Selen menutup bukunya. Ia meraih handuk yang di pegang oleh Sam. Pria itu mendudukkan sang istri di pangkuan sambil memeluk dengan erat. Menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Selen dan mencium aroma wangi itu dalam dalam. Ia tak peduli Selena yang kerepotan atas tingkahnya yang seperti ini. "I Love You." Kata Sam mendongak. Tiba tiba saja buket bunga mawar dan satu box besar coklat sudah berada di tangannya. "For you." Kata Sam sambil menatap istrinya penuh cinta. "Terimakasih." Jawab Selen sambil tersenyum. "Kiss me." Sam memberi kode hingga Selen mendaratkan ciuman di pipi pria itu. Sebenarnya Ia ingin memberi kejutan di pagi hari. Namun apa boleh buat, Istrinya selalu bangun subuh sedangkan Ia bangun jam tujuh. Jadi Ia tak bisa melakukan itu. Sam tak menyangka bisa bersikap seromantis ini. Kekejamannya seketika hilang saat berhadapan dengan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2