
Pangutan dua orang yang tengah dimabuk asmara terlepas tatkala pintu ruangan tempat mereka hendak bercinta terbuka. Suara tembakan menggema membuat seorang wanita berteriak histeris menangisi kepergian kekasihnya. Ia mendongak menatap pria yang berdiri dengan raut wajah marah. "Kalian apakan istriku." Bentaknya berjalan mendekat kemudian mencengkram rahang sang Ibu kuat kuat. "Kau membunuhnya. Keparat kau Sam." Teriak Sarah. "Ikut aku." Kata Sam dingin menarik wanita itu keluar dari ruangan. "Jangan biarkan wanita ini terlepas. Aku akan mengurusnya nanti." Titahnya sambil mendorong keras tubuh Mamanya pada beberapa orang yang berdiri menunggu.
Cuaca hari ini begitu terik. Sebuah keluarga lengkap tengah berkumpul di teras belakang setelah menyelesaikan makan siang. Keadaan sangat damai dan tentram seperti waktu lalu. Jujur saja suasana seperti ini begitu mereka rindukan. Saling bercerita dan bersenda gurau bersama. Dua pemuda kembar itu tak berhenti mengelus wajah adiknya yang semakin lama semakin memejamkan mata. Selena benar benar sudah tidur sekarang. Mungkin karena efek obat yang beberapa saat lalu diminum. Sean beranjak. Ia menggendong tubuh adiknya dengan hati hati untuk dibawa ke kamar.
Sam membersihkan tubuhnya sebentar lalu mengganti pakaian. Pria itu termenung sesaat. Biasanya setiap hari yang menyiapkan semuanya adalah sang istri. Namun kini berbeda. Selena masih belum boleh pulang oleh keluarganya. Setiap hari Sam kesana. Hanya untuk melihat kondisi dan meminta maaf ratusan kali. Sam tak bisa memaksa, Ia takut tekanan yang dialami istrinya akan semakin parah.
__ADS_1
Julian memijit pangkal hidungnya. Pernikahan Sam di Unjung tanduk membuat pria itu juga berpikir keras. Ia sudah bersahabat dengan Sam sangat lama. Bahkan hubungan keduanya seperti saudara. Tak mungkin jika ada masalah dari salah satu diantara mereka diabaikan. "Apa kiranya yang bisa membuat kami terus bersama?" Pria itu bertanya tanya. "Mungkin jika Selen hamil kamu tidak bisa menceraikannya." Jawab Julian dengan santai.
"Aku hanya ingin hidup berdua dengannya." Sam berkata demikian membuat lawan bicaranya tak percaya atas pemikiran pria itu. Bagaimanapun juga tujuan menikah adalah untuk mempunyai anak dan melanjutkan keturunan. "Tapi jika itu yang bisa membuat dia terus bersamaku. Akan aku lakukan." Kata Pria itu langsung beranjak dari duduk.
Julian menandatangani semua kertas yang di berikan oleh mertua dan iparnya. Lembaran lembaran yang berisi perjanjian dan syarat untuk mendapatkan izin membawa Selena pulang. Kesempatan kedua Sam terima. Mereka ingin adanya perbaikan dari pernikahan anak perempuan satu satunya. Bagaimanapun juga perceraian bukanlah hal yang baik. Jika bisa di perbaiki maka jalan itu yang mereka ambi saat ini.
__ADS_1
"Kamu tidak suka dengan tempat ini Honey? jika iya katakanlah. Kita akan pindah ke rumah baru." Sam berkata dengan lembut sambil membawa istrinya duduk di ranjang. "Tidak perlu." Selen menggeleng pelan. "Baiklah. Kamu istirahat dulu. Aku ambilkan minum dan vitamin." Sam pergi setelah mengecup kening dan bibir istrinya.
Pintu kamar terbuka. Pria itu tersenyum mendapati istrinya sudah tertidur pulas di ranjang. Sam mendekat. Ia ikut berbaring merengkuh tubuh Selena dengan erat. Hati Sam menghangat. Kini istrinya telah kembali. Ia berjanji tak akan menyakiti lagi. Tak akan membuat sang istri menangis untuk yang kesekian kalinya. Sam akan terus menjaga Selen. Wanita yang begitu Ia cintai.
Sam dan Julian mengamati Selen yang sedang menggendong Maura. Senyuman terbit dari bibir mungil wanita itu. "Sudah aku katakan jika dia menyukai anak anak." Kata Julian membuat Sam menatap pria itu. "Iya. Aku tau." Jawab Sam kembali memfokuskan pandangannya pada sang istri. "Turunlah. Kasihan Mama menggendong tubuh beratmu sejak tadi." Kata Julian pada putrinya. "Tidak mau." Gadis kecil itu mengalungkan lengannya pada leher Selena. Wanita itu duduk sambil memangku Maura. Sam seketika berpindah tempat di samping istrinya membuat Julian mendengus sebal. "Papa. Kenapa Mama Maura yang dulu bajunya tidak seperti Mama Maura yang sekarang? Kenapa Mama yang dulu paha dan dadanya terlihat?" Tanya Maura dengan polos membuat Sam dan Selena terkejut sedangkan Julian tertawa. "Mamamu yang dulu itu wanita penghibur. Dia pergi sama laki laki selain papa." Jawab Julian membuat Selen memeluk Maura. "Om." Tegurnya. "Memang benar. Cepat atau lambat dia akan tau." Julian mengangkat kedua bahunya sambil menaruh cangkir teh di meja. "Dasar gila." Sam berkata langsung mendapat cubitan istrinya. "Sakit Honey." Keluh pria itu sambil mengusap lengannya.
__ADS_1