Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Surat Misterius


__ADS_3

Sam memasuki sebuah kapal pesiar kemudian segera menuju tempat yang telah di sepakati untuk bertemu dengan seseorang. Sam mendekat dan langsung mengambil duduk begitu melihat sosok pria tengah duduk sendiri disana. "Tuan Sam. Saya Anthony." Katanya sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan. Sam mengangguk dan menjabat tangan dingin pria itu.


Sebuah obrolan panjang bisnis telah dilakukan keduanya. Kini mereka sama sama diam setelah menandatangani bukti pemesanan dan pembayaran. "Silahkan di minum Tuan." Kata pria itu menuangkan minuman di gelas Sam yang masih kosong. Lama berbincang membuat Anthony lupa menyajikan minum untuk pria di depannya. "Maaf. Saya tidak minum." Kata Sam membuatnya mengurungkan niat. Anthony menaruh kembali botol wine yang sempat diangkat. "Saya pikir Tuan minum." Ia menegapkan tubuhnya kembali menghadap langsung pada sang penguasa. Menampilkan ekspresi tidak enak hati. Sam merasa aneh pada patner bisnisnya kali ini. Ia merasa tatapan Anthony begitu mengintimidasi. "Tidak masalah." Jawab Sam singkat. "Saya rasa pertemuan kali ini sudah cukup. Sisanya bisa Anda bahas dengan Bill ataupun Juan. Saya permisi. Istri saya sudah menunggu di rumah." Lanjut Sam berpamitan. Anthony tersenyum. Pria itu berdiri kemudian sedikit membungkuk. Ia mengamati langkah Sam yang mulai menjauh. "Aku menemukanmu." Gumamnya pelan.


Sam baru sampai di rumah. Ia tersenyum melihat Selen sedang tertidur pulas menunggunya di ruang tengah lengkap dengan piyama dan jilbabnya. Pria itu mengecup kening istrinya beberapa kali sebelum menggendongnya dengan hati hati menuju kamar.

__ADS_1


Sam meletakkan tubuh Selena perlahan di atas ranjang. Melepas jilbab sang istri dan menyelimutinya dengan hangat. Ia bergegas membersihkan diri sebentar dan kembali lagi. Sam ikut naik ke atas ranjang dan berbaring sambil memeluk istrinya. "Um...." Selen mencengkram lengan Sam dengan erat. Wanita itu menangis dengan mata terpejam membuat Sam khawatir. Ia mencoba membangunkan sang istri berkali kali namun Selen belum bangun juga. "Honey. Bangun. Honey....Sadarlah." Pria itu menepuk pipi istrinya berkali-kali. Selena terbangun dengan napas yang terengah engah. Sam membantunya duduk dan memeluk dengan erat untuk menenangkan. Ia memberi Selen minum agar lebih rileks. "Jangan takut Honey aku disini." Pria itu memeluk dan mengusap punggung istrinya dengan lembut. Selen menceritakan jika Ia bermimpi didatangi seseorang yang penuh dengan luka berdarah darah dan meminta tolong padanya. "Jangan takut. Kita tidur lagi." Kata Sam dan Selena mengangguk.


Pagi hari Selena demam membuat semua orang panik. Mereka bergegas memanggil dokter untuk memeriksa keadaanya. "Sudah Bunda. Selen hanya kecapean." Katanya lelah harus minum obat terus. "Diminum dulu dong obatnya sayang." Kedua kakaknya ikut membujuk. Selen menggeleng. Ia hanya ingin istirahat saja. "Baiklah. Kamu istirahat. Buahnya jangan lupa dimakan." Kata Sean memperingati. Mereka pamit setelah mengecup Selen bergantian sebelum pergi meninggalkan kamar.


"Ya ada apa?" Tanya Sam sesaat setelah sampai di balkon kamar. Pria itu mendengarkan penjelasan dari orang di sebrang sana sembari mengetukkan jemarinya di meja kaca. "Aku tau." Jawabnya. "Kau urus semuanya. Aku tidak mau tahu. Aku sudah curiga pada orang itu sejak awal." Kata Sam langsung memutuskan panggilannya.

__ADS_1


Selen hanya makan Buah dan beberapa kue kering tanpa menyentuh nasinya padahal semua orang sudah membujuk. "Makan Honey. Nanti kamu kelaparan." Tak mau menyerah. Sam tetap berusaha untuk menyuapi istrinya. "Satu sendok saja." Tuturnya dengan lembut namun Selen tatap menggeleng. "Kamu sedang sakit sayang. Harus makan biar cepat sembuh." Ayah kini yang bersuara untuk membujuk putrinya. "Ayah. Selen kenyang. Nanti malah muntah kalau di paksa makan." Jawab wanita itu yang pada akhirnya membuat semua orang menyerah.


Seorang penjaga rumah tiba tiba menghampiri Sam. Ia menyerahkan amplop merah pada Tuannya yang tengah bersama istrinya sambil memberi tanda tangan pada beberapa Map di atas meja. Sam menghentikan pekerjaannya sesaat. Pria itu membuka isi amplop yang beraroma mawar yang sangat menyengat. Sam meremat surat di dalamnya hingga kelopak mawar berjatuhan. Ia buru buru menyembunyikan sebelum sang Istri tersadar. "Ada apa Mas?" Tanya Selen mengalihkan pandangan dari layar besar di depannya. "No Honey. Hanya orang salah kirim." Kilahnya sambil memeluk sang istri.


Sam memasuki ruang kerjanya dengan napas yang memburu. Ia mengeluarkan lagi surat yang masih di simpan di saku celananya. "Selena." Gumamnya membaca nama sang istri yang tertulis cantik di kertas putih dengan beberapa kelopak mawar yang masih tersisa. "Aku akan menemukanmu." Ia membanting kertas yang sudah tak berbentuk itu di atas meja dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2