
Selena sedang menemani anak anaknya bermain basket di lapangan belakang rumah. Jangan dikira tidak bisa. Wanita itu begitu hebat bermain. Ia beberapa kali memasukkan bola ke dalam ring. "Ibu. Ayo istirahat dulu." Sky menggandeng tangan sang Ibu untuk duduk di bangku dan memberinya minum. "Terimakasih Sayang." Selen tersenyum atas sikap manis putranya. "Sama sama Bu." Shai beranjak dari duduknya kemudian duduk di pangkuan sang Ibu. "Shai turun. Ibu sedang lelah." Tegurnya pada sang adik. "Tidak apa." Selena merangkul tubuh Skyler untuk mendekat. Putra tampannya itu sangat mengerti dirinya. Di usia yang masih anak anak Sky sangat paham semua tentang sang Ibu. "Rambut kamu mulai panjang Sayang." Selena menyugar rambut lurus Skyler ke belakang. "Iya Bu. Sudah waktunya potong." Jawabnya sambil tersenyum. "Ibu temani Sky potong rambut ya." Pintanya dan Selena mengangguk dengan cepat.
Sam buru buru pulang setelah pekerjaannya selesai. Ia baru saja mendapat telpon dari sang istri. Wanita itu ingin pergi mengantar Sky untuk potong rambut dan Sam menolak dengan keras. Pria itu tak ingin Istrinya berada di sekeliling para pria yang selalu menatap Selena dengan memuja. Sam berkata agar mereka menunggu sampai Ia pulang.
Sam sampai di rumah langsung melesat menuju ke kamar. Disana Selena baru selesai menyiapkan pakaian ganti untuknya. Sam memeluk tubuh ramping itu dengan erat. Menghirup aroma yang selalu membuatkannya mabuk kepayang. Jatuh cinta memang sangatlah indah. Sang Istri adalah cinta pertama dan terakhirnya. Wanita yang telah membuatnya luluh dan membuka hati hanya dengan foto tanpa melihat wujud aslinya. Jodoh memang tidak kemana. Berkali kali ujian menerpa namun rumah tangga mereka tetap kuat bertahan. Selena membalikkan badan menghadap sang suami. Membantu pria itu melepaskan pakaiannya agar segera mandi agar tidak membuat anak anak menunggu terlalu lama. "Nanti aku antar. Aku sudah pesan satu Barbershop untuk Skyler." Kata pria itu menatap istrinya yang tampak serius membuka kancing kemeja. "Hanya sebentar. Kenapa harus memesan dan mengosongkan barbershop. Buang buang uang." Jawab Selen sambil cemberut membuat Sam tak tahan. Pria itu menarik dagu istrinya dan mencium bibir lembab itu dengan sangat lembut. "Aku tidak mau milikku di lihat oleh orang lain. Hanya aku yang boleh." Sam tersenyum manis menatap manik mata istrinya. Memeluk wanita itu. Mendekap Selena dengan erat hingga wanita itu mendengar detak jantung suaminya. Selena meraba tato di dada Sam. Tato bertuliskan namanya. "Ah...Honey..." Kata Pria itu merasakan sentuhan sang istri yang membuat hasratnya bangkit.
__ADS_1
Sam juga merapikan rambutnya sekalian. Biasanya pria itu menggenggam tangan sang Istri ketika duduk namun tidak untuk sekarang. Posisi sang kaisar telah di gantikan oleh putra mahkota. Ya Skyler. Bocah tampan itu kini menggenggam tangan Ibunya dengan erat. Alhasil Selena harus duduk di dekat putranya sambil memangku Shai dan meninggalkan Sam sendiri di posisi yang tak jauh dari tempat ketiganya. "Wah... Tampannya anak Ibu." Kata Selan membuat Sky tersipu. Ia langsung menggandeng si kembar menghampiri Sam yang sudah menunggu karena pria itu telah selesai terlebih dahulu.
Mereka tiba di rumah Ayah sore hari. Sky langsung turun dan masuk ke dalam sedangkan Selen menggendong putrinya yang sedikit rewel. "Biar aku gendong saja. Kamu lelah Honey." Kata Sam kasihan sedaritadi harus memangku dan menggendong putri manjanya. "Kalau Shai mau tidak apa." Jawabnya. "Shai. Ayo sama Ayah." Bujuk Sam namun gadis itu menggeleng dan mengeratkan pelukannya pada Sang Ibu.
Selena meletakkan tubuh Shai di atas ranjang dengan hati hati kemudian melepas sepatu gadis kecil itu. Ia merindukan kamar ini. Selalu sama sejak dulu. Tak ada yang berubah sedikitpun. Wanita itu berjalan meraih kotak obat dan membawanya kembali ke ranjang. Selen mengecek suhu tubuh Shai kemudian memasangkan plester demam. Ia ikut berbaring sambil memeluk Shaina. Menyelimuti tubuh mungil itu agar merasa hangat.
__ADS_1
Malam hari hujan begitu deras disertai kilatan petir. Mereka memutuskan untuk menginap karena tak mungkin pulang dalam kondisi seperti ini karena terlalu berbahaya.
Selesai mengobrol dengan mertuanya Sam masuk ke kamar sang istri. Dilihatnya wanita itu tengah sibuk menutup gorden agar cahaya kilat dari luar tidak masuk. Di ranjang sudah ada Sky dan Shai yang tertidur lelap. "Honey." Panggil Sam sembari memeluk erat tubuh istrinya. "Hm. Baju kamu sudah aku siapkan. Ayo tidur." Ajak Selen karena sudah benar benar mengantuk. Sam mengangguk. Ia mencium bibir lembab itu dalam dalam. "Love you." Ungkap pria itu sambil tersenyum manis.
Sam ikut naik ke atas ranjang. Ia Memeluk tubuh sang istri dari belakang. Hujan di luar masih sangat deras. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Menghangatkan tubuhnya sendiri dan tubuh Sang Istri.
__ADS_1