
Sam menghampiri istrinya. Wanita itu hanya menunduk dan sesekali mendongak dengan tatapan takut. "Makanlah sarapanmu Honey." Katanya dengan lembut sambil mendudukkan diri di samping Selena. Ia menghela napas ketika Sang istri menggeser tubuhnya menjauh. Sikap dingin wanita itu membuatnya tak nyaman dan merasa sangat bersalah. Sam takut jika nanti Selena sakit. Terlebih lagi dengan riwayat asam lambung yang di derita. "Makanlah sedikit saja." Bujuknya namun tak mendapat respon. Selena menatap suaminya sekilas kemudian menunduk lagi. Ia sangat kecewa pada Sam. Wanita itu terlalu berekspektasi tinggi jika suaminya akan berubah menjadi orang baik. Nyatanya tidak. Sam adalah Sam. Pria itu tak mungkin berubah dalam sekejap mata menjadi orang yang di harapkan Selena. Jujur Ia tak memaksa Sam menjadi Pria Soleh. Namun setidaknya berhenti membunuh dan menyakiti orang lain sudah lebih dari cukup.
Selena sedang jalan jalan dengan kedua kakaknya. Seperti biasa, wanita itu selalu berada di tengah dua pengawal tampannya. "Kakak. Tidak perlu seperti ini." Keluhnya saat mendapat perhatian dari semua orang yang ada di Mall. "Diamlah Sayang." Jawab Sean mengusap kepala sang adik sebelum mengecup kening itu dengan lembut. "Selen mau burger." Katanya sambil menunjuk restoran burger yang ada disana. "No sayang. Itu tidak sehat. Kita makan di restoran saja." Shon menolak dengan halus. Belum sempat melangkah tangannya sudah di cekal oleh Selen. Tatapan adiknya membuat pemuda itu akhirnya luluh juga.
__ADS_1
Mereka tersenyum memperhatikan Selen yang makan dengan lahap. "Enak." Celoteh gadis itu di sela sela kegiatannya. "Pelan pelan." Shon mengusap sudut bibir Selena. Keduanya tau jika wanita itu sedang tidak baik baik saja. Namun mereka tidak mau terlalu ikut campur dan memaksa. Mereka sudah paham jika Selen akan bercerita sendiri ketika waktunya sudah tepat.
Sam menerima setiap laporan kegiatan sang istri di luar sana. Ia tersenyum senang karena Selen mau makan. Ya meskipun bukan makanan sehat namun perut wanita itu sudah terisi. Ia sengaja membiarkan Selen keluar dengan kedua kakaknya. Berharap istrinya akan memaafkan dan tidak mendiaminya lagi. Sam ingin Sang Istri lebih rileks. Berbagai tekanan yang dialami membuat Selen membutuhkan waktu untuk menghibur diri.
__ADS_1
Selena sampai di rumah sore hari. Ia menyempatkan pulang sebentar untuk menemui Ayah dan Bundanya. Wanita itu mencium tangan Sang suami seperti biasa. "Lelah?" Tanya Sam hanya di jawab anggukan oleh istrinya. "Sudah mandi?" Tanya Selena membuat Sam tersenyum. Semenjak semalam bungkam akhirnya Sang istri mau bicara lagi dengannya. "Sudah Honey. Aku sudah menyiapkan air mandi untukmu juga." Katanya sambil menggenggam tangan Selen. "Terimakasih." Kata wanita cantik di depannya membuat senyuman pria itu semakin mengembang.
"Apakah semua ini berharga?" Tanya Selena yang sekarang sudah berada di meja bar bersama sang suami. Ia mengamati botol botol minuman haram itu masih berjejer rapi di kotak kaca. Padahal suaminya sudah berhenti minum sekarang. "Akan aku perintahkan orang untuk membuangnya." Jawab Sam. Selen mengangguk kemudian menyesap cappucinonya. "Enak." kata pria itu melihat keterkejutan sang istri atas ciumannya yang tiba tiba.
__ADS_1
Sam menggandeng tangan Selena. Mereka menyusuri jalan setelah selesai membeli beberapa makanan ringan di minimarket terdekat. Ia hanya menuruti keinginan istrinya. Wanita itu ingin pergi sendiri tidak mau menyuruh orang. Katanya agar lebih mudah memilih makanan yang di sukai. Jadi Sam mengantarkannya sendiri tak tega jika istirnya pergi dengan orang lain.
Pria itu tersenyum melihat istirnya yang mencicipi berbagai Snack tanpa henti. Begitu imut dan menggemaskan. Sam mencium pipi Selen dan mengigitnya hingga meninggalkan bekas gigi disana. "Sakit Om." Selen menatap suaminya itu. "Honey. Aku suamimu. Kenapa kau memanggilku begitu." Pria itu mencium pipi istrinya kembali. "Lalu?" Tanya Selena kebingungan. "Mas. Biasakan panggil suamimu seperti itu." Jawab Sam. "Kenapa?" Selen bertanya lagi. "Karna aku menyukainya Sayang." Pria itu menidurkan kepalanya di pangkuan sang istri dan memeluk perut rata itu dengan erat.
__ADS_1