
Sam sembuh total dan hari ini adalah hari pertamanya Ia mulai bekerja lagi. Pria itu sangat bersyukur karena telah diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya terutama pada sang istri. Hanya wanita itulah alasannya berjuang untuk sembuh dan tetap ingin hidup sampai saat ini.
Selena tengah sibuk mendesain pakaian untuk koleksi di butiknya. Kini wanita itu sudah memiliki beberapa cabang di kota kota besar. Namun Ia tetap bekerja dari rumah karena tak ingin melewatkan tumbuh kembang putra putrinya. Si kembar merupakan prioritas utama. Sebisa mungkin Ia akan selalu ada untuk kedua buah hatinya itu. "Honey." Panggil seseorang dengan lembut. Selen kemudian merasakan pelukan erat diiringi kecupan di pipi kanannya. Sam begitu menjengkelkan membuat Selen menghela napas. Pekerjaannya sekarang menjadi berantakan karena pria itu. "Mandi dan makan. Sudah aku siapkan." Tuturnya masih fokus dengan kegiatan yang Ia lakukan. "Temani." Lirihnya. "Aku sibuk." Jawabnya masih dingin seperti biasa sambil merapikan peralatan dan meninggalkan suaminya sendiri. Sam menatap nanar kepergian wanita yang begitu Ia cintai. Memang pantas Ia mendapatkan semua ini. Rasa sakit hati Selena tak mungkin bisa ditebus dengan apapun.
__ADS_1
Pekerjaan Selena tertunda lagi. Wanita itu duduk di teras belakang agar tenang namun ternyata tidak. Kini Ia tengah memangku anak perempuannya sambil mengusap kepala gadis itu dengan lembut. Shai menangis. Menenggelamkan kepalanya di dada sang Ibu. "Abang jahat." Kata gadis kecil itu sambil sesenggukan. Panggilannya pada sang kakak mulai beralih sekarang karena kebiasaan Nenek buyutnya. Kejadian ini sudah biasa. Mereka sama sama salah jadi Selen tidak akan membela salah satu dari keduanya. "Shai yang Salah Bu." Sky tiba tiba datang dan duduk sambil memeluk Ibunya. "Adeknya di apain lagi Bang?" Tanya Selena dengan lembut sambil mengusap kepala putranya. Ia tak mau dianggap menjadi orang tua yang tidak adil. Perlakuannya harus sama pada Sky maupun Shai. "Dia merobek bukuku. Aku memarahinya. Tidak salah kan?" Tanya Sky tidak menyesal sama sekali telah membuat adiknya menangis. Selena menghela napas. Ia menuturi kedua anaknya agar sama sama bersabar. "Kalian yang akur. Jangan suka bertengkar. Shai juga begitu. Jangan suka buat Abang kesal. Abang juga, harus lebih sabar sama adiknya. Sudah Ibu katakan jika Shai nakal di nasehati saja. Kalo nggak nurut bilang ke Ibu. Nanti Ibu yang akan bicara." Tutur Selena dan kedua anak itu mengangguk. "Sudah, sekarang Shai minta maaf." Selena mengusap air mata di pipi anaknya. "Maaf." Kata Shai dan Sky menjabat tangan sang adik. Gadis kecil itu memeluk kakaknya dengan erat kemudian mereka memeluk sang Ibu. "Begini kan enak. Jangan tiap hari berantem mulu." Selen tersenyum. Ia Sedikit heran dengan tingkah kedua anaknya. Mereka kembar tapi tidak pernah akur dan sejalan.
Sore hari Selena dan kedua kakaknya mengajak anak anak untuk jalan jalan. Sengaja tidak mengajak Sam karena mereka ingin menikmati waktu bersama tanpa pria itu. "Paman. Shai mau eskrim." Bocah itu menarik tangan Sean menuju sala satu restoran dekat pantai. "Hey. Pelan pelan. Iya. Kita kesana." Sean melangkah lebih cepat. Mengimbangi kedua kaki mungil Shai yang berlari kecil.
__ADS_1
Selen dan kedua anaknya baru saja sampai di rumah. "Kalian bersih bersih dulu ya." Tuturnya sambil mengusap lembut kepala si kembar bergantian. "Baik Ibu." Jawab Mereka patuh. "Honey." Sam berhambur memeluk istrinya. "Kita perlu bicara Mas. Tunggulah di ruang keluarga " Selena perlahan melepaskan pelukan suaminya dan berjalan meninggalkan Sam.
Cukup lama menunggu akhirnya Selena datang. Wanita itu duduk di depan Sam hingga keduanya saling berhadapan. Beberapa kali Ia tampak menarik napas dan menghembuskannya perlahan dari mulut. "Ada apa Honey?" Tanya pria itu karena sang istri tak kunjung bicara. "Aku senang dan bersyukur kau bisa sembuh Mas. Aku rasa tugasku sudah selesai. Hiduplah dengan baik ketika tanpa diriku nantinya." Napas Sam tercekat mendengar penuturan sang istri. Hendak bercerai berkali kali namun ini adalah pertama kalinya sang Istri berkata sedalam itu. "Jujur saja semua kejadian yang telah berlalu tak bisa aku lupakan dengan mudah. Aku butuh waktu yang lama......."
__ADS_1
"Aku minta maaf. Aku akan menunggumu. Aku akan menerima semua hukumanmu. Jangan tinggalkan Aku." Potong pria itu. Selena menggeleng pelan. "Memang sudah seharusnya. Kita akhiri sampai disini saja." Ia menyerahkan sebuah map di depan suaminya. "Tandatangani itu Mas. Aku tunggu besok. Jangan dipersulit." Wanita itu berdiri kemudian berjalan keluar meninggalkan ruangan. Sam menitihkan air matanya. Hanya wanita itu alasannya untuk hidup. Dan sekarang wanita itulah yang membuatnya tak ingin berada di dunia ini lagi.