Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Larangan Sam


__ADS_3

Sam membereskan semua berkasnya. Pria itu tak sabar untuk segera pulang bertemu sang istri. Ia menghela napas ketika mendapati halangan di depannya. "Kenapa?" Tanya Sam sambil berjalan terburu buru mengabaikan Julian yang berdiri di depannya. "Nanti malam aku ke rumahmu ya?" Tanyanya sambil menyusul Sam. "Kenapa tanya? Biasanya juga langsung datang." Jawab Sam acuh. "Hehe...Sebenarnya bukan aku saja sih. Saifan, Bill juga anak anak ikut. Mau bakar bakar." katanya namun Sam tidak peduli. "Terserah. Buang buang waktuku saja. Aku mau ketemu istri." Sam bergegas pergi meninggalkan sahabatnya yang mengucapkan sumpah serapah.


Selena sudah berada di butiknya setelah berbelanja kebutuhan untuk nanti malam. Wanita itu sedang menunggu seseorang untuk bertemu setelah sekian tahun lamanya. "Selena." Sapa seorang pria. "Mas Amir. Silahkan duduk." Selen mempersilahkan. Ia mengangguk kemudian duduk di sofa yang berada di depan Selena. "Lama tidak jumpa setelah kamu pulang dari Kairo." Amir berkata sembari mengangkat kedua sudut bibirnya. Mereka mengobrol mengingat masa masa kuliah bersama. "Bagaimana Istri kakak? apakah sudah sembuh?" Tanya Selen tau jika Istri Amir sedang sakit. "Dia sudah meninggal sebulan yang lalu." Jawabnya membuat wanita itu tersedak. "Hati hati Sel." Kata Pria itu dan Selena mengangguk. "Aku tidak tau. Maaf." Selena merasa tidak enak. "Tidak apa. Aku sudah ikhlas. Menikah karena perjodohan bukanlah hal yang mudah. Meskipun kami punya dua anak juga tidak menjamin hati kami bisa satu. Kamu sudah punya dua anak aku dengar?" Tanya Amir memastikan. "Ah iya. Kembar sepasang." Jawabnya dan Amir mengangguk paham.

__ADS_1


Sam mengeram kesal mendapati istrinya tengah mengantarkan seorang pria sampai parkiran. Wanita itu tampak tersenyum lepas dan melambaikan tangan mengantarkan kepergian pria itu.


"Honey." Panggil Sam dengan wajah kesalnya. "Mas. Kamu kok disini? Aku sudah mau pulang lo." Kata Selen namun Sama tidak menanggapi. "Siapa laki laki itu?" Tanyanya menahan emosi. "Dia kakak tingkat aku. Ayo pulang. Jangan buat ulah disini." Selena menggandeng tangan Sam untuk mengajaknya segera masuk ke mobil. Ia tak mau suaminya marah marah di tempat umum.

__ADS_1


"Ayo jelaskan." Sam tidak sabaran. Pria itu berdiri sambil bersedekap dada menatap tajam istrinya yang sedang duduk di sofa. "Duduk dulu. Sini." Selen berkata dengan lembut sembari meraih tangan suaminya. "Tidak mau." Jawab Sam. "Ayo duduk. Kalau emosi itu baiknya duduk." Rayu Selen akhirnya membuat pria itu menurut. Selena berdiri. Ia melepaskan jas suaminya. "Dia itu kakak tingkat aku waktu di Kairo. Mas nggak perlu cemburu. Dia sudah punya istri dan anak." Jelas Selena sembari melepaskan pakaian Sang Suami. "Tapi istrinya meninggal sebulan yang lalu." Lanjutnya lagi. "Nah itu. Dia deketin kamu nanti kalau istrinya sudah meninggal. Dasar laki laki buaya." Selena menggeleng. "Jangan suudzon. Nggak baik." Selena mengusap pundak Sam berharap emosi suaminya bisa diredam. Pria itu memejamkan mata menikmati sentuhan lembut istrinya. Sam menarik Selena hingga duduk di pangkuan. Memeluk sang istri dengan erat. Selen mengusap dada bidang suaminya yang berotot dan dipenuhi tato. "Um...Kamu menggodaku sayang?" Tanya Sam merasakan tubuhnya mulai memanas karena sentuhan jemari lembut istrinya yang menari di permukaan kulitnya. Pria itu menarik dagu Selena. Mencium bibir mungil itu dalam dalam. "Sayang. Aku menginginkanmu." Ucapnya dengan suara serak kemudian menggendong Selena dan merebahkan di ranjang dengan hati hati. Ia melepaskan jilbab istrinya dengan tidak sabaran. Meraba wajah cantik itu dan menatap manik mata sang istri dalam dalam. "Kamu hanya milikku sayang. Hanya aku dan tidak ada yang boleh dekat denganmu selain aku." Ucap Sam begitu posesif di sela aktifitasnya.


Sam menggendong tubuh istrinya memasuki kamar mandi. Pria itu mendudukkan Selen dengan hati hati di bathup. Ia ikut masuk sambil memangku tubuh ringan istrinya. "Sudah Mas. Aku lelah." Kata Selena karena Sam dengan usil bermain di bawah sana. Pria itu tak memberikannya jeda untuk beristirahat. "Baik. Istirahatlah sayang." Ucapnya dengan lembut sambil memeluk tubuh Selena. "Aku tidak mau kamu berhubungan dengannya lagi. Aku melarangmu Sayang." Sam berkata sambil meletakkan dagunya di punggung sang istri. "Kamu cemburu?'" Tanya Selen dan Sam mengangguk. "Tentu saja aku cemburu. Dengan keluarga saja cemburu apalagi melihat kamu dengan pria lain. Itu menyakiti hatiku." Sam berkata sejujur jujurnya. "Maaf." Lirih Selena. "Jangan diulangi lagi sayang. Itu menyiksaku." Sam mengeratkan pelukannya pada sang istri.

__ADS_1


Malam hari semuanya berkumpul di halaman belakang. Mereka mengadakan acara bakar bakar seperti yang sudah di rencanakan. "Kenapa Sam daritadi senyum? Kesambet setan darimana dia? Perasaan di kantor tadi marah marah mulu." Kata Julian ikut duduk bergabung sembari membawa sepiring sosis yang sudah di bakar. Sam menggeleng dengan senyum yang tak luntur. Tidak tau saja sahabatnya itu jika hari ini Ia menang banyak oleh sang istri. "Sayang. Jangan main di pinggir kolam nanti terpeleset." Tutur Selen yang baru kembali dari dapur dan Shai langsung berlari memeluk Ibunya. "Lihat dua pengganggu kecil itu sudah membuatku pusing dan sekarang ditambah kalian. Belum lagi mertua dan kedua Iparku. Haish benar benar. Hidupku tidak bisa tenang ya bersama istri saja." Keluh Sam membuat Julian tersenyum. Muncul ide jahil di otak pria itu. "Selen. Suamimu katanya...."Sam membekap mulut ember Julian sebelum mengadu. Wanita itu bisa saja ngambek ketika Ia mempermasalahkan anak anaknya. "Kenapa Om?" Tanya Selena. "Ah enggak sayang. Dia sedang mengigau." Jawab Sam asal membuat Bill dan Saifan tertawa.


__ADS_2