Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Kamu Milikku


__ADS_3

Sam berjalan mendekati Selena yang sedang duduk di ranjang. Tangannya terulur melepas kain yang menutupi bagian kepala gadis itu. Tidak ada penolakan. Senyuman manis terbit dari bibir pink Cherrynya. Suatu keindahan yang membuat Sam takjub. Rambut yang begitu halus Ia rasakan. Sesuatu yang begitu membuatnya penasaran dan berfikir setiap hari akhirnya dapat disentuh. Pria itu memejamkan mata menikmati aroma yang begitu menenangkan. Sejenak kemudian Ia duduk merengkuh tubuh gadisnya dan membawa ke dalam pangkuan. Diusap bibir lembab itu ddan di kecupnya dengan sangat lembut. Selen hanya diam menelisik wajah tegas Sam dengan cermat. Sam langsung menciumnya bibir itu lagi. Begitu panas dan menuntut. Tangannya bergerak meraih kancing baju Selena. Sudah menyelesaikan tiga posisi teratas, Pria itu dengan gencar ingin melanjutkan dan.......Suara panggilan dari dunia nyata datang. Sam membuka matanya menatap langit langit kamar. Pria itu mengalami mimpi yang manis. Ia menyibakkan selimutnya ternyata yang di bawah sana benar benar bangkit.


"Kau mimpi basah kawan?" Katanya sambil terkekeh melihat keadaan sahabatnya.


Julian duduk di ranjang setelah Sam beranjak. Disana terdapat tumpukan foto yang sedikit berantakan. Tangannya dengan spontan meraih satu. Ia tersenyum melihat foto gadis cantik disana.


"Ada apa?" Tanya pria itu masih menggunakan handuk sebatas pinggang.


"Menarik." Jawab Julian yang keluar dari topik.


"Jangan kau usik. Dia milikku." Sam memperingati. Si lawan bicara hanya menganggukkan kepalanya. Pria itu memilih untuk berdiri sambil menepuk punggung sahabatnya. "Kita akan ke Alister Grup. Aku tunggu di bawah." Katanya sambil berlalu pergi membiarkan Samuel mempersiapkan diri.


Semua menunduk hormat dan menyapa dengan ramah tatkala melihat Putra dan Putri dari pimpinannya. Sean tidak menghiraukan. Pemuda itu lebih memilih terus menggandeng tangan sang adik untuk segera menuju ke ruangan Ayahnya.


Sean mengangkat panggilan telpon dari saudaranya. "Ya. Aku masih di ruangan Ayah." Katanya sambil merengkuh tubuh Selena.


"Hm..Aku akan kesana. Putri kecil kita juga meminta nasi Padang." Ia tersenyum pada sambil mencubit pipi itu dengan gemas.


"Ya. Aku kesana." Sean mengusap kepala adiknya dengan lembut.


"Ingat Sayang. Jangan kemana mana. Kakak akan segera kembali." Tuturnya dijawab anggukan oleh Selena. Setelah mengecup kening sang adik sekilas, Ia bergegas pergi untuk menyelesaikan beberapa hal sekaligus menjemput saudaranya.


Selena mengamati ruang kerja Ayahnya. Ia melangkahkan kaki mendekati lemari Es yang menyatu dengan tembok di sisi kanan. Isinya hanya air putih dan berbagai jenis susu dan juga jus. Ia meraih satu kotak susuk coklat dan membawanya ke sofa. Minum beberapa teguk membuat matanya mengantuk. Gadis itu merebahkan diri di sofa sambil menunggu kakaknya datang.

__ADS_1


Obrolan tiga orang seketika terhenti saat memasuki ruangan. Mereka tengah melihat malaikat cantik sedang tidur dengan pulas dan tenang. Ketiganya sama sama menggulumkan senyum. Pria yang berada di posisi paling depan mengambil langkah maju dan berjongkok. Ia mengecup kening dan kedua pipi itu pelan agar tidur sang putri tidak terganggu.


"Kenapa tidur disini sayang." Lirihnya langsung menggendong Selena untuk dipindahkan.


"Kau menyukai gadis itu?" Tanya Julian namun tak mendapat jawaban. Sahabatnya itu tengah mengamati dengan serius kemana gadis itu dibawa.


"Seperti orang bisu saja." Keluhnya melihat Sam melenggang pergi tanpa menjawab pertanyaannya.


Sean dan Shon memasuki ruangan Ayahnya. Kedua pemuda itu tersenyum sekilas untuk sekedar basa basi.


"Hy Boys. Kalian darimana saja?"


"Adik dimana Ayah?" Daripada menjawab mereka lebih tertarik untuk menanyakan keberadaan Selena.


Mereka mengangguk langsung pergi meninggalkan mereka yang melanjutkan mengobrol.


"Jadi Tuan Julian ini sekertaris barumu?"


"Panggil Julian saja. Saya hanya menggantikan Billy yang sedang bertugas di luar kota."


"Oh..." Jawabnya mengangguk paham.


Ketiga saudara itu tengah makan bersama dengan menu yang berbeda beda. Kedua kakak Selen tak berhenti menyuapinya agar gadis itu merasakan juga makanan mereka.

__ADS_1


"Sayang. Ayo kalian ikut kita makan siang sama sama. Bunda sudah menunggu di restoran juga."


"Kami sedang makan Yah. Ayah saja yang pergi."


"Baiklah. Pulangnya hati hati."


Pria itu pergi setelah meninggalkan kecupan pada kedua putra dan putrinya.


Sepasang suami istri dan dua orang pria lajang tengah menikmati makan siang di restoran mewah milik keluarga Alister. Mereka membahas bisnis ataupun urusan pribadi sebagai obrolan.


"Tuan. Apa putrimu sudah memiliki kekasih?" Tanya Julian membuat Sam mengumpat dalam hati.


"Ah. Dia itu tidak berpacaran. Keyakinannya memang begitu. Di lebih memilih untuk langsung menikah."


"Oh. Bagus. Apakah sedang dekat dengan seseorang?"


Bunda menjelaskan jika anak gadisnya pernah dipinang beberapa orang namun belum siap untuk menikah.


"Namun aku rasa ada yang dekat dengannya akhir akhir ini. Seorang teman mengaji."


Satu kalimat yang membuat Sam mendidih. Julian menyadari perubahan Sahabatnya langsung mengalihkan pembicaraan.


Sam mengamati bayangan wajahnya di cermin. Pria itu memilih untuk berpamitan sebentar daripada lepas kendali saat berada di sana. Ia benar benar marah. Tak ada seorang pun yang dapat memiliki Selen kecuali dirinya. Gadis itu harus menjadi milik Samuel seorang. Tangan kokoh itu mengepal. Beberapa saat kemudian cermin itu hancur karena ulahnya. Rasa sakit tak Ia hiraukan. Darah yang terus menetes bukan masalah baginya. "Kau milikku." Katanya dengan sorot mata tajam mengamati bayangan diri di cermin yang sudah tak sempurna.

__ADS_1


__ADS_2