
Selen sekarang sedang berada di rumah Ayahnya bersama suami juga anak anak. Mereka tengah mengobrol santai di taman belakang sambil menikmati suasana pagi yang cerah. Suara tangisan Shai terdengar kencang membuat Selena menghela napas. Sean menghampiri mereka sambil menggendong gadis kecil itu. "Kenapa hm?" Selen berdiri kemudian menggendong anak perempuannya. "Kenapa Sayang?" Tanya Bunda Selena ikut menenangkan. "Jatuh Oma. Kebanyakan lari. Dia tidak bisa diam." Jawab Skyler dengan wajah datarnya. "Tersenyumlah Boy. Masa kamu senyum hanya dengan ibumu saja." Shon mengejek keponakannya. "Paman seperti tidak mengenalku saja." Jawabnya sambil cemberut. "Sudah. Jangan menangis. Kan Ibu bilang untuk hati hati. Shai tidak mendengarkan Ibu ya..." kata Selen namun gadis itu malah menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang Ibu.
Hanya tersisa Sam, kedua ipar dan Ayah mertuanya setelah yang lain masuk ke dalam. Mereka tampak canggung satu sama lain. Maklum. Hubungan keempatnya baru membaik akhir akhir ini. "Kau tau kenapa kami memberimu kesempatan.?" Tanya Ayah Selen membuat menantunya mengangkat pandangan kemudian menggeleng pelan. "Karna kami tau Cinta yang kau berikan pada Putri kami melebihi apapun." ungkap Ayah Selena tanpa ada keraguan sedikitpun. Mereka tau begitu besarnya cinta Sam pada Selen. Pria itu bahkan rela mati demi sang istri. Diam diam Sam juga melindungi Selen dari orang orang yang ingin menyakiti wanita itu. Baik dari pihak musuh sang Ayah maupun musuhnya sendiri. "Aku harap kau tidak berulah lagi Sam. Jangan sakiti putriku lagi. Aku tau kau berlaku kasar karena cemburu. Namun itu bukan alasan untuk membuatnya terluka." Tutur Sang mertua. "Maaf Yah. Sam minta maaf. Sam akan perbaiki semuanya." Katanya dengan sungguh sungguh membuat Ayah mertuanya mengangguk.
__ADS_1
Sam, Istri dan anak anaknya sudah sampai di rumah Julian. Mereka memutuskan untuk mampir sebentar. "Mama." Teriak Maura langsung berhambur memeluk Selena. "Wah. Sudah wangi. Sudah mandi ya?" Tanyanya sambil membalas pelukan gadis itu. "Iya dong. Kan Mama mau datang. Maura kangen sama Mama." Selena tersenyum. Padahal hanya kemarin saja mereka tidak bertemu. "Masuk yuk. Kenapa di luar aja." Ajak Julian.
Mereka duduk bersama di ruang keluarga sambil menikmati cake yang di bawa Selena. "Enak Ma." Kata Maura. Gadis itu sedaritadi tak berhenti mengunyah. "Kalian tau nggak Safira masuk rumah sakit." Kata Julian membuat Selen tersedak. "Hati hati Honey." Sam mengusap punggung istrinya dengan lembut. "Sakit apa Om?" tanya Selen khawatir. "Psikologinya terganggu. Fira menolak makan dan bertemu dengan siapapun." Jelas Julian membuat Selena mengangguk paham.
__ADS_1
"Mas. Kita ke rumah sakit jenguk Safira yuk." Kata Selen saat sudah berada di kamar selesai menidurkan kedua anaknya. "Ini sudah malam Sayang. Kenapa nggak besok saja." Jawab Sam lembut. "Aku khawatir Mas. Kamu dengar sendiri kan dia nggak mau makan. Ayolah Mas. Kasihan. Aku kepikiran terus jadinya" Selen menggenggam tangan suaminya. Sam mengangguk. Mana bisa Ia menolak permintaan sang istri jika sudah begini. "Makasih Mas." Selena tersenyum senang. "Eh. Nggak gratis. Cium dulu." Kata Sam membuat Selen menghela napas. Ia mencium pipi suaminya sekilas. "Lagi...." Pria itu mencari kesempatan. "Lagi...Kalau tidak mau kita tidak jadi pergi." Ancamnya membuat Selena menurut. "Kamu terlalu lama Honey." Sam meraih tengkuk istrinya dan mencium bibir mungil itu dalam dalam.
Selena memasuki ruangan tempat Safira di rawat. Gadis itu duduk di ranjang sambil memeluk kedua lututnya. "Sayang." Panggil Selen dengan lembut. "Mama." Safira mendongak kemudian memeluk Selen dengan erat. Gadis itu menangis sesenggukan dalam dekapan Selena. "Ada Mama disini. Jangan khawatir sendiri. Mama selalu ada untuk kamu Sayang." Selen menenangkan sambil mengusap punggung Safira dengan lembut. Setelah cukup tenang Safira bercerita. Safira beberapa kali hampir dilecehkan dan di bully oleh temannya. Itu yang membuat Safira tertekan. Terlebih lagi Papanya yang sibuk jadi tidak ada tempat untuknya mengadu. "Mulai sekarang jika Fira ada masalah cerita sama Mama. Cari Mama. Kapanpun Mama akan ada untukmu sayang." Tutur wanita itu. "Fira takut Mama akan terbebani." Lirihnya. "Tidak. Mama tidak akan terbebani sama sekali. Mama adalah Mama kamu. Segala keluh kesah kamu ceritakan pada Mama." Jawab Selen. "Makasih Ma." Gadis itu memeluk Selen lebih erat.
__ADS_1
Selena keluar dari kamar. "Bagaimana?" Tanya Saifan. "Sudah aku suapi Om. Sekarang sedang tidur. Fira bilang Om boleh masuk." Kata Selena membuat Saifan lega. Wanita itu bagaikan malaikat penolong baginya. "Terimakasih banyak ya." Ucapnya sambil tersenyum. "Sama sama Om." Jawab Selen. Sam mendengus sebal melihat keduanya berbagi senyuman. "Menyebalkan." Gerutunya dalam hati. Ia menarik pinggang sang istri untuk mendekat kemudian mencium kening Selen dengan lembut di depan Saifan. "Kami pamit dulu ya." Kata Sam dan Saifan mengangguk. "Hati hati. Terimakasih oleh olehnya." Jawab menahan tawa melihat kecemburuan Sam. "Sama sama." Sam cepat cepat membawa istrinya pergi.
Sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah Selena hanya diam dan menjawab pertanyaan sang suami seperlunya. "Kamu marah Honey?" Tanya pria itu sambil memeluk Istrinya. "Jangan Marah Sayangku. Cintaku. Aku hanya cemburu kamu berbalas senyum dengannya." Tutur Sam sambil mengecup bibir Sang Istri.
__ADS_1