
"Mama." Teriakan seorang gadis kecil membuat Sam dan Selena menoleh ke sumber suara. "Jangan lari Maura." Tutur Julian berjalan mengikuti putrinya. "Maura kangen Mama. Om Sam sama Papa ngelarang Maura ketemu Mama. Katanya Mama ga boleh lelah karena mau punya babies." Celotehnya sambil memeluk Selena dengan erat. "Dasar bocah petakilan." Kata Julian melihat tingkah anaknya. "Mama juga kangen Maura." Selena tersenyum kemudian mengajak Maura duduk di sofa karena mereka melarang Selen untuk memangku gadis kecil itu. "Adik Maura masih di perut?" Tanyanya polos. "Kamu banyak tanya. Kan sudah janji sama Papa kalo nggak akan nakal." Julian sewot sendiri karena sedaritadi bocah itu terus bertanya. "Iya Sayang. Masih di dalam perut." Jawab Selen dengan sabar. "Masih di sini ya." Tangan mungil itu mengelus lembut perut Selena yang masih datar membuat Selen mengangguk.
Maura mengamati Selena yang sedang meminum susunya. Gadis itu bolak balik membandingkan susu miliknya dengan milik sang Mama. "Papa. Maura ingin yang seperti punya Mama." Pinta gadis itu membuat Sam dan Julian tersedak. "Kamu jangan aneh aneh." Pria itu kesal dengan anaknya. "Ini susu hanya boleh diminum Mama Sayang." Kata Selen langsung menjelaskan semua pada gadis kecil itu. Maura mengangguk paham. Ia tersenyum kemudian memeluk Selena dengan erat.
__ADS_1
Sam memeluk tubuh istrinya. Membawa wanita yang tengah duduk sambil membaca buku itu untuk menyandarkan kepala di dada bidang miliknya. Pria itu akhirnya punya waktu ketika Maura sudah tertidur pulas di kamar tamu. "Sedang baca apa Honey?" Tanya Sam dengan lembut sembari mengecup pipi sang istri. "Sedang membaca fikih." Jawab Selen membuat Sam mengangguk. Ia tak paham tentang itu. "Apa isinya hm?" Selen mulai menjelaskan fikih merupakan persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Allah, Tuhannya. Sam mengangguk. Hanya ingin tau saja. Untuk lebih jelasnya Ia akan tanya pada sang istri nanti. "Honey. Maukah kamu mengajari aku adzan. Jika anak kita lahir nanti katamu aku harus mengadzaninya." Sam berkata dengan serius membuat Selen tersenyum. Wanita itu menoleh dan menatap suaminya. Ia mengangguk dengan semangat.
Selena memberikan catatan latin untuk dibaca suaminya. Pria itu memang belum bisa membaca huruf Arab. Bisa, namun hanya huruf Hijaiyah saja. Sam tidak fokus. Ia malah terus menatap sang istri yang sedang sibuk menjelaskan. Pria itu tersenyum. Istrinya begitu cantik. Ia benar benar terpesona wanita itu. "Bagaimana Mas?" Tanya Selen yang tiba tiba membuat Sam gelagapan. Ia tak tau apa yang dijelaskan istrinya tadi. "Maaf Honey. Bisa diulangi lagi?" Jawabnya membuat Selen menghela nafas. Ia tersenyum kemudian mengulangi lagi apa yang telah di jelaskan. "Maaf Honey." Sam memeluk istrinya dan merasa begitu merasa bersalah. "Tidak apa." Selena berkata dengan lembut. "Maafkan Aku Cintaku. Aku akan lebih fokus lagi." Sam berkata dengan sungguh sungguh dan Selen mengangguk kemudian melanjutkan lagi.
__ADS_1
Sam menunggu istrinya yang sedang sibuk mencuci muka. Pria itu dengan segera meraih tissue untuk mengeringkan wajah Selena. Ia meraih dagu sang istri dan mencium bibir lembab itu berkali kali. Selen dengan tiba tiba memeluk Sang suami dengan erat membuat hati Sam menghangat. "Mas. Aku ingin sesuatu." Katanya membuat Sang Suami tersenyum. "Kamu mau apa cintaku? akan aku berikan semua yang kamu inginkan." Jawabnya sambil mengelus punggung sang istri dengan lembut. "Aku ingin jalan jalan dengan Maura."Lirih Selena. Sam menolak keras. Ia takut terjadi sesuatu pada istrinya. "Aku mohon. Sebentar saja." Melihat tatapan Sam istri membuat Sam luluh. Ia mengangguk sembari menunjuk bibirnya untuk meminta imbalan.
"Makannya pelan pelan sayang." Selen berkali kali mengusap bibir Maura. "Setelah ini kita pulang." Tegas Sam. Pria itu tak menerima bantahan dari istrinya. Padahal Selena sudah merengek minta waktu sebentar lagi namun Sam tetap menolak. "Kalau bersikeras akan aku cium kamu disini. Mau?" Selena menggeleng cepat. Ia malu jika suaminya itu berbuat nekat. "Bagus." Pria itu tersenyum sambil mengusap kepala Selena dengan lembut.
__ADS_1
Sam keluar dari mobil dengan cepat. Ia mencegah istrinya untuk menggendong Maura. Sam lebih memilih memanggil Julian untuk mengangkat anaknya yang sedang tertidur. "Maaf Selena. Dia pasti merepotkan mu." Pria itu merasa tidak enak. "Tidak repot Om. Tidurkan di dalam sebelum dia bangun." Kata Selena di jawab anggukan. "Huek...." Selena menutup mulutnya. Sam begitu panik langsung membawa istrinya masuk ke dalam.
Wajah wanita itu sangat pucat. Baru saja Ia memuntahkan apa yang barusan di makan. Dokter sudah memeriksa dan kondisinya baik baik saja. Selen menghela napas mendengarkan Sam yang terus memarahinya. "Sudah Sam. Kamu berlebihan. Jangan marah marah terus." Tutur Julian. "Maaf Honey. Aku hanya khawatir padamu." Pria itu merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan.
__ADS_1