Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Pikiran Saifan


__ADS_3

Segala aktifitas Selen lakukan sembari menggendong Shai. Gadis itu tak mau lepas dari gendongan Ibunya. "Turun Shai. Ibu lelah gendong kamu terus." Kesal Sam melihat istrinya yang kerepotan saat menyiapkan pakaian untuknya. "Ga mau." Jawab gadis itu bersikeras ingin bersama Ibunya. "Aku ke bawah dulu siapkan sarapan Mas. Kamu cepetan mandi ya. Airnya juga sudah siap." Kata Selena sebelum pergi.


"Shai duduk dulu ya." Bujuk Selen saat menyiapkan makan. Gadis itu menggeleng membuat Sky kesal. Ia kasihan melihat Ibunya yang harus kerepotan. "Shai. Turun. Kamu merepotkan Ibu." Tegur Sky malah membuat adiknya menangis. "Sudah sudah. Ayo makan dulu." Selen duduk sembari memangku dan menyuapi putrinya. "Sayang. Surat dokter adeknya nanti jangan lupa dibawa ya." Selen mengingatkan. "Iya Bu." Jawab Sky sembari tersenyum. "Kamu berangkat sama Ayah saja." Kata Sam dan Sky mengangguk. Ini adalah pertama kalinya Sam mengantar anaknya ke sekolah.

__ADS_1


Selena merapikan rambut Putranya. "Sky berangkat dulu Bu." Ia mencium tangan, pipi dan dan kening ibunya. "Aku juga berangkat Sayang." pamit Sam kemudian memeluk dan menciumi wajah sang istri yang masih menggendong putrinya. "Hati hati." Kata Selen dan pria itu mengangguk.


Di sepanjang perjalanan Ayah dan anak itu hanya diam. Mereka tak berbicara sama sekali dan merasa canggung satu sama lain. Sam maupun Sky tidak ada yang berinisiatif memulai obrolan. "Sky turun Yah." Pamitnya. "Ah sudah sampai ternyata." Kata Sam tersadar dari lamunannya. "Hati hati. Belajar yang rajin dan jangan nakal." Pesan pria itu pada putranya. Sky mengangguk kemudian bergegas turun setelah mencium punggung tangan Ayahnya.

__ADS_1


Sore hari Selen mengajak anak anak ke taman. "Sudah mau lepas dia?" Tanya Sam melihat putrinya kini sudah mau duduk sendiri tanpa di pangku sang Ibu. "Sudah. Badannya sudah nggak panas lagi." Jawab Selena dan Sam mengangguk paham. Ia sangat kagum dengan istrinya. Wanita itu begitu sabar merawat anak anak yang sangat rewel dan manja. "Mama." Seorang gadis menghampiri sepasang suami istri yang sedang mengobrol. "Sayang. Sama siapa?" Tanya Selen membalas pelukan Safira. "Sama Papa. Itu dia." Tunjuknya pada Saifan yang berjalan menuju ke arah mereka.


"Ma." Panggil Maura sembari menggenggam tangan lembut Selena. "Ada apa Sayang?" Maura tersenyum menanggapi pertanyaan Mamanya. "Bantu Maura pilih kampus ya. Maura bingung." Selena mengangguk. "Pilihlah yang kamu suka Sayang. Pastikan kamu nyaman. Itu yang terpenting." Selen mengelus lembut remaja di depannya itu yang terpaut usia 4 tahun lebih muda dari Selena. "Kalau Fira sudah selesai memilih dan cocok. Mama mau kan antar Safira untuk mendaftar. Safira ingin daftar sendiri ditemani Mama." Pintanya dan Selena mengangguk cepat. "Makasih Ma." Gadis itu tak mampu menyembunyikan kesenangannya langsung memeluk Selen. Saifan tersenyum. Baru pertama kali Ia melihat putrinya sebahagia itu. Jika boleh ingin rasanya Selen menjadi istrinya saja. Pasti Ia akan sangat bahagia. Namun wanita itu sangat setia pada Suami. Begitupun Sam sangat setia pada istrinya. Sepasang suami istri itu sangat luar biasa. "Jangan kau pandangi istriku. Apalagi membayangkan wajah cantiknya di otakmu. Lebih lebih berandai andai menginginkan istriku menjadi milikmu. Aku bisa saja menghabisimu." Ucap Sam membuat Saifan tersedak. "Kau ini cenayang atau apa sih?" Tanya pria itu heran kenapa Sam bisa tau isi pikirannya. "Pria sepertimu mudah di tebak. Hilangkan angan angan itu dari otakmu. Bisa bisanya." Sam mendengus sebal sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


Sam tersenyum senang. Akhirnya Ia punya waktu berdua dengan Selena. Keduanya sedang duduk di ranjang. Sang Istri sedang fokus membaca buku sementara Sam tiduran dengan nyaman di paha Selena. "Honey." Panggil dengan lembut sembari mengelus dagu istrinya. "Hm." Jawab Selen singkat sembari bibirnya tak berhenti bergumam membaca. Sam kesal diabaikan. Pria itu merebut dan membuang buku Selena. "Mas." Tegus Selen. "Itu Ilmu Mas." Ia langsung beranjak memungut bukunya yang tergeletak di lantai. "Maaf." Sam memeluk istrinya saat wanita itu sudah kembali duduk di ranjang. "Kenapa hm?" Selen mencoba memahami suaminya sembari membalas pelukan pria itu dengan hangat. Ia tau kini Sam merasa kesal karena diabaikan. Selen sadar Ia lebih fokus ke hal lain dibanding suaminya. "Kamu cuekin aku." Lirih Sam. "Maaf." Selen mengusap lembut punggung pria yang sedang bertelanjang dada itu.


__ADS_2