
Selen Selalu menemani suaminya ke rumah sakit. Pria itu kini rajin berobat. Tekadnya untuk sembuh sangat kuat. Sam ingin memperbaiki semua kesalahannya. Membina kehidupan baru yang lebih baik. Sebisa mungkin Ia akan menebus kesalahan yang dulu pernah dilakukannya pada sang Istri. "Ayo masuk. Kenapa berhenti?" Tanya Selen melihat Sam mencekal tangannya ketika hendak memasuki ruangan. "Aku mencintaimu." Pria itu berkata dengan lantang dan memeluk sang istri erat. Selen menyembunyikan wajahnya. Ia sangat malu karena menjadi pusat perhatian oleh semua orang yang ada disana. "Masuklah. Jangan membuat drama." Selen berbisik sambil mencubit pinggang suaminya.
"Bagaimana Dok?" Tanya Selena begitu tak sabaran ingin mendengar penjelasan dokter mengenai keadaan suaminya. "Alhamdulillah. Sejauh ini perkembangannya sangat pesat. Keadaan Tuan Sam membaik dengan cepat. Obat herbal yang dikonsumsinya selama ini bekerja nyata. Jika keadaan terus seperti ini, bisa dipastikan Tuan akan sembuh total dalam waktu dekat." Jawab Dokter membuat Selen menitihkan air matanya. Perjuangannya merawat sang suami beberapa bulan ini tidak sia sia. Ia mendapat angin segar dan berita membahagiakan pagi ini. Selena. Wanita itu dengan setia menjaga dan menemani suaminya. Memberikan semangat, menyiapkan makanan khusus yang sehat dan memberikan obat herbal setiap hari. Semua yang dilakukannya berbuah manis. Sam mendapat mukjizat dan kesempatan. Pria itu bisa sembuh total.
__ADS_1
Sam sangat bahagia. Ia bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh sang pencipta. Seperti ini membuatnya sadar jika Tuhan itu maha baik. Sam berjanji akan menjadi lebih baik lagi ke depannya. Ia akan memperbaiki kesalahan yang pernah Ia lakukan. Terutama pada Istri tercinta.
Sam memeluk istrinya sangat lama. Pria itu hendak berpamitan sesaat setelah sampai di rumah. Ada hal penting yang harus segera Ia selesaikan. "Aku akan menemui seseorang sebentar Honey. Hanya sebentar saja. Setelah itu aku langsung pulang." Katanya sambil mengusap punggung sang istri. Selena mengangguk. Ia membiarkan apa saja yang hendak dilakukan pria itu. Jujur saja. Meski mulutnya sudah memaafkan. Namun hatinya masih sakit mengingat semua perlakuan pria itu padanya. "Pergilah. Hati hati." Lirih Selena. Sam melepaskan pelukannya. Menangkup wajah cantik sang istri dan mencium bibir mungil yang beberapa bulan setelah kejadian itu tak pernah Ia rasakan langsung saat istrinya tersadar. Biasanya Ia akan mencuri ciuman ketika wanita itu terlelap. Selen menolak berciuman dan Sam memakluminya. Anggap saja ini adalah hukuman. Suaminya melakukan ciuman dengan cepat membuat Selena mengerjapkan matanya beberapa kali karena terkejut. Dengan senyum menyebalkan pria itu kemudian berlari keluar rumah sambil mengucapkan salam. "Waalaikumsalam." Jawab Selen sambil cemberut.
__ADS_1
Beberapa saat diam Sam angkat bicara. "Kau salah jika ingin membalaskan dendam atas kematian keluargamu padaku. Kau salah orang kawan." Sam membanting sebuah map dan dengan cepat Saifan membacanya. Mata pria itu membola. Membaca setiap bukti yang begitu rinci mulai dari foto dan dokumen. "Lama aku mengumpulkan hal ini karena aku tau kau akan terus memburuku. Bukannya aku takut. Aku hanya tidak mau istriku menyaksikan hal yang membuat traumanya kembali." Sam menyesap teh yang sedaritadi di anggurkannya. Saifan menggeleng. Semua bukti mengarah pada adik Sam. Bertrand. Pria itu dalang di balik pembunuhan keluarganya dan penjebakan dirinya dengan seorang wanita. "Kau memanipulasi ku? Jelas jelas mereka mengatakan jika mereka orangmu." Saifan tak akan mudah percaya dengan orang di depannya. "Aku bersumpah. Bukan aku pelakunya. Dia Bertrand. Kami satu Ibu dan beda Ayah. Sepuluh tahun yang lalu dia dan Mamaku yang mengendalikan sebagian perusahaan. Papaku punya dua perusahaan induk. Mama dapat satu dengan persetujuan Papa. Pria malang itu dipaksa tanda tangan saat kondisinya sakit. Bertrand dan Mamaku lah yang menginginkan pulau pribadi milik Ayahmu untuk membangun sebuah resort yang menguntungkan disana." Jelas Sam panjang lebar. "Dimana mereka?" Tanya Saifan. Ia sudah percaya dengan semua bukti yang Sam berikan. "Mamaku sudah meninggal. Kalau Bertrand....." Sam menghela napasnya. "Aku tidak pernah bertemu dengannya sekarang. Terakhir aku membuangnya di Jerman karena telah mengganggu istriku." Tutur Sam membuat Saifan tersedak. "Separah apa?" Tanyanya mulai penasaran dengan kisah cinta pria di depannya itu. "Dia memeluk istriku." Jawab Sam dengan santai membuat Saifan mengangguk. Ia tak meragukan lagi keposesifan Sam. Semenjak menjadi bodyguard Selena pria itu selalu membatasi sang istri.
Senyuman mengembang dari seorang pria ketika memasuki ruang keluarga. Sam mendengar istrinya sedang menegur kedua anaknya. "Pasti mereka berulah." Gumam Sam sambil terus berjalan mendekat. Begitu sampai Ia langsung memeluk sang istri dan mencium pipi mulus itu beberapa kali. Selena tidak menghiraukan. Wanita itu melanjutkan penuturannya pada si kembar. "Jangan di ulangi lagi. Ibu tidak suka. Itu hal yang buruk dan tidak sopan. Kalian harus bersikap sopan kepada siapapun tanpa memandang status." Kata Selana di akhir. "Baik Bu. Kami minta maaf." Mereka menatap Selena dengan penuh penyesalan. "Oh kemarilah." Selen memberikan pelukan dan ciuman kepada kedua anaknya. Ia sangat menyayangi mereka melebihi apapun. Sam mengusap kepala dua bocah itu bergantian. Ia sangat kagum dengan cara Selena mendidik Sky dan Shai. Namun sikap yang sudah menurun dari Sam membuat si kembar seperti itu. Padahal Selen sudah mengajarkan hal baik setiap harinya.
__ADS_1