Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

Selena merasakan pergerakan dari jemari suaminya. Wanita itu mendongak menatap Sam yang sudah membuka mata dengan sempurna. "Alhamdulillah." Kata wanita itu karena doanya telah dikabulkan. "Honey." Panggilnya pelan dan Selen segera mendekat. "Aku panggilkan dokter dulu." Kata Selen langsung bergegas pergi ke luar setelah menaruh kitab yang sepat dibacanya di atas nakas.


Begitu sampai dokter langsung memeriksa keadaan Sam. Pria itu masih berbaring sambil menggenggam tangan sang istri kuat kuat. "Tuan ada keluhan?" Tanya dokter sembari melepas gips pada kedua kaki Sam. "Kaki saya tidak terasa apapun dok." Jawabnya membuat semua yang ada disana khawatir. Dokter mencoba memberi rangsangan kepada kedua kaki Sam. Namun pria itu tetap tidak merasakan sesuatu. "Maaf. Sepertinya kaki Tuan mengalami kelumpuhan." Dokter dengan berat hati menyampaikan hasilnya. "Apa tidak bisa di sembuhkan dok?" Tanya Selena dengan cepat. "Kemungkinan untuk sembuh kecil Nyonya. Saraf pada kaki Tuan banyak yang tidak berfungsi karena cedera yang dialami." Jelasnya membuat Sam lemas seketika. Sam berteriak. Ia marah dan kecewa dengan kondisinya yang seperti ini. "Kami permisi." Dokter berpamitan memberikan waktu agar pasiennya tenang.

__ADS_1


Ruangan begitu kacau sekarang. Sam tidak berhenti melemparkan semua barang yang ada di sekitarnya. "Tenanglah. Aku tau ini berat." Selena memeluk suaminya yang tengah menangis pilu. Ia begitu tak tega dengan kondisi Sam yang seperti ini. "Aku cacat. Aku lumpuh." Teriak pria itu untuk melampiaskan kesedihannya. "Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku." Sam memeluk istrinya dengan erat. Ia sangat takut jika Selena akan meninggalkannya dengan keadaan dia sekarang sebagai pria cacat yang tak berguna. "Lihat aku." Wanita itu duduk kemudian menangkup wajah suaminya. Ia menghapus air mata itu dengan kedua ibu jarinya. "Aku istrimu. Bagaimanapun kondisi kamu. Aku akan tetap bersamamu." Kata Selen dengan lembut berharap Sam akan tenang. "Terimakasih." Jawab pria itu memeluk istrinya kembali.


Wanita itu merasa tenang kini suaminya sudah tertidur pulas. Ia bergegas memunguti semua pecahan Vas dan barang barang yang berserakan di lantai. "Selen." Julian dan Bill memasuki ruangan Sam. "Apa yang terjadi?" Tanyanya melihat keadaan yang begitu berantakan. Selena mengajak kedua orang itu untuk duduk. Ia menjelaskan semua yang terjadi pada suaminya. "Aku tidak menyangka akan separah ini." Gumam pria itu.

__ADS_1


Sam hanya sesekali tersenyum. Ia tak menyangka jika keluarga istrinya masih menerima dia dalam keadaan seperti ini. Mereka tak berhenti menenangkan dan memberi semangat. Sam merasa berdosa dengan apa yang telah dilakukannya waktu itu. Keluarga Alister memang baik. Beruntung Sam bisa menjadi bagian dari mereka meskipun dengan cara yang tak biasa. Sean dan saudara kembarnya mendekat. Ia menatap iparnya itu dengan iba. " Jangan tatap aku seperti itu." Kata Sam sambil tersenyum tipis. "Awalnya Kami memang tidak menyukaimu. Entah bagaimana kini Kami sudah mulai terbiasa. Berat mengatakan ini. Tapi percayalah Kami tulus."


Suasana tampak sepi setelah semua orang pulang. Hanya tersisa Sam dan istrinya di dalam ruangan luas itu. Selena beranjak sebentar untuk mengambil kotak makan yang berada di atas meja. Ini adalah waktunya Sam minum obat. Dan pria itu harus makan terlebih dahulu. "Waktunya makan." Selen mendudukkan diri di dekat ranjang Sang suami. Sam mengangguk dan tersenyum. Pria itu makan dengan lahap di suapi istrinya. "Kamu makan juga." Kata Sam sambil mengusap wajah istrinya dengan lembut. "Nanti aku makan. Masih kenyang." Jawab Selen. "Maaf." Katanya tiba tiba membuat Wanita itu menghentikan kegiatannya sejenak. "Karena aku cacat." Lanjut Sam sambil menunduk. Selena menghela napas. Ia menangkup wajah Sam dengan kedua tangan lembutnya. "Aku sudah bilang jika akan menerima kamu apa adanya. Ini bukan salahmu. Ini semua sudah menjadi takdir." Katanya mencoba memberikan pengertian pada pria itu.

__ADS_1


Selena memakaikan baju ganti pada Sam setelah selesai membersihkan tubuh pria itu. Semuanya Ia lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Sam merasa kasihan pada istrinya. Pasti wanita itu sangat lelah harus menunggu dan mengurusinya. Namun Selen tidak mengeluh. Wanita itu selalu tersenyum sembari mengajak suaminya berbincang membahas berbagai hal. "Mau buah?" Tawar Selen langsung di jawab anggukan oleh suaminya.


Selena sekarang duduk di ranjang sambil di peluk suaminya. Ini kemauan Sam dan Selena hanya menuruti. Wanita itu mengupas apel dengan telaten kemudian memotongnya kecil kecil. Selen mulai menyuapi suaminya. "Manis." Kata pria itu sambil mengunyah. "Iya. Apel yang di bawa Bunda memang manis." Selen mengangguk setuju. "Manis." Kata Sam lagi setelah berhasil mencium bibir mungil sang istri. Wanita itu menatap Sam sambil terbengong. Suaminya dalam keadaan seperti ini masih sepat sempatnya mencuri ciuman dengan tiba tiba. Mata Selena membola dan tersadar dari lamunannya setelah Sam mengecup bibirnya berkali kali lagi. Wanita itu menatap Suaminya yang tersenyum menang. Pria itu benar benar pencuri ciuman yang handal. Namun Selen senang. Setidaknya Sam tidak bersedih lagi. Mungkin dengan seperti ini pria itu bisa sedikit melupakan semua bebannya. "Ini obat yang paling mujarab untuk semua sakitku." Sam mengusap bibir istrinya dengan lembut dan membawa wanita itu dalam dekapan hangat.

__ADS_1


__ADS_2