
Samuel melangkahkan kaki dengan cepat keluar kamar. Pria itu takut jika Selena kabur lagi. Pikirannya sudah kacau saat ini. Di otaknya berputar kemungkinan kemungkinan buruk yang menghantui. Salah seorang penjaga menghampiri dan memberi laporan jika si gadis sedang berada di dapur bersama pelayan.
Suara gelak tawa terdengar bahagia dari sebuah ruangan. Tak jauh dari sana berdiri sosok pria yang sedang memperhatikan. Gadis itu bahagia hari ini sehingga tawa dan senyumnya mampu menutupi luka yang sedang dialami. Rasa sedih sedikit terobati ketika Ia bisa mengobrol dan memasak dengan orang orang yang ternyata tidak sekaku kelihatannya. Mereka awalnya sangat tegas namun semakin Selena mengajak mengobrol ternyata mereka suka bercanda juga. Mungkin karna pemilik rumah ini demikian jadi auranya ikut menempel pada para pekerja. "Sedang apa?" Tanya Julian sambil menepuk pundak Sam. "Kau lihat tawanya. Ini pertama kali dia tertawa selepas itu selama disini." Jawab pria itu. " Melembutlah. Gadis itu suka pria yang demikian." Katanya berlalu pergi setelah memberikan wejangan.
__ADS_1
Suasana hati seseorang tampak sedikit lebih lega. Gadis itu duduk di kursi kayu sambil membaca buku. Lembar demi lembar sudah diselesaikannya. Ia lalu mengambil pembatas untuk menandai di halaman terakhir yang telah dijamahnya. "Waktunya makan siang Honey." Kata pria itu menghampiri Selen dan duduk di kursi kosong yang hanya berjarak beberapa centimeter saja. "Bisakah aku keluar sebentar?" Satu pertanyaan yang diajukan gadis itu dengan nada yang penuh harap. Ia berkata butuh udara segar dan penasaran dengan hutan di sekelilingnya. "Makan siang dulu. Setelah itu kita keluar sesuai dengan keinginan mu." Jawab Sam dengan cepat. Pria itu seperti memberikan syarat atas permintaan gadis nya. Selena mengangguk paham dan menaruh bukunya di atas meja sebelum berdiri.
Selen tersenyum tipis pada Julian yang sudah siap di meja makan." Kalian lama." Keluh pria itu. "Maaf Om." Jawab Selen membuat Julian tersenyum. "Kamu cantik." Kata Julian keluar dari topik. "Jangan lihat dia. Jangan tersenyum padanya. Jangan dengarkan buaya itu." Sam memperingati sambil menyiapkan makan untuk gadis yang sudah Ia klaim sebagai Istrinya tersebut. Selen hanya diam. Ia memilih untuk segera makan daripada menjawab celotehan pria itu. "Kau begitu cerewet." Kata Julian hampir membuat Selena tertawa. Ekspresi pria itu terlihat sangat kesal. Namun beberapa detik setelah memandang Sam pria itu tersenyum. Ia tak banyak bertingkah jika sudah mendapatkan tatapan membunuh dari Sang Tuan.
__ADS_1
Pria itu berjongkok sambil membawa handuk yang diantarkan pelayan tadi. Ia sengaja menyuruh beberapa orang untuk mengantar handuk dan kaos kaki baru agar Selena tidak kedinginan. "Mau apa?" Tanya gadis yang tengah duduk di bangku itu. "Mau keringkan kaki kamu." Jawabnya hendak melepas kaos kaki Selena namun secepatnya di cegah. "Aku bisa sendiri." Katanya meraih handuk dan Kaos kaki dari Sam kemudian membelakangi pria itu. Sam tersenyum. Ia lupa jika Selena tak bisa menerima sentuhan apapun. Bahkan kakinya saja tak diizinkan untuk dilihat.
Sam mendudukkan diri di samping Selena ketika sudah selesai. "Orang tua Om dimana?" Tanyanya tiba tiba membuat Sam menoleh. Gadis itu menatap sungai di depannya dengan ekspresi datar. "Sudah tiada." Jawabnya. "Semuanya? Saudara dan lain sebagainya?" Tanya Selena lagi karena Sam hanya memberikan jawaban singkat. Pria itu menghela napas kemudian menceritakan sesuai yang di ceritakan Julian kemarin. "Hidupku malang bukan?" Sam menertawakan dirinya sendiri. Selena menoleh menatap pria itu. Ia menjelaskan apapun yang ada dalam hidup harus di syukuri. "Om masih beruntung. Di luar sana banyak yang lebih menderita." Lanjutnya setelah beberapa saat memilih untuk diam. Sam mengangguk. Ia membenarkan apa yang dikatakan Selena barusan. Selama ini Ia hanya mengambil sisi buruk dalam hidup tanpa memperdulikan sisi baiknya.
__ADS_1
Malam hari Selena hendak pergi ke ruang tengah untuk mengambil bukunya. Ia tak sengaja mendengar Sam berbicara dengan seseorang dan mengatakan jika Bundanya sakit. "Om." Selena menghampiri Sam dan Julian yang sedang bicara. "Bunda sakit?" Tanyanya dengan mata yang sudah berkaca kaca. Sam hanya bisa mengangguk lemah. Selena tiba tiba berlutut di kaki Sam. Gadis itu memohon untuk di pulangkan. Ia sangat khawatir dengan keadaan bundanya. "Aku mohon." Katanya sambil menatap wajah Sam dengan penuh harap. Mereka merasa kasihan dengan gadis itu. Perasaan tak tega muncul dari dua orang keduanya. Sam menghela napas. Hatinya bimbang dengan langkah selanjutnya yang akan Ia lakukan. Keputusan ini sangat berat untuk Ia ambil. Ia tak mau berpisah dengan Selena.