
Selena kesal dengan suaminya. Pria itu membuat Shai menangis dan tidak mau bertanggung jawab. Siapa lagi kalau bukan Selen yang kena Imbasnya. "Ayah nakal." Teriak gadis itu menangis kencang di gendongan sang Ibu. "Sudah sudah. Shai jangan nangis lagi ya." Kata Selena dengan lembut sembari mengusap punggung anak perempuannya. "Kamu apain sih Mas?" Tanyanya sambil menatap suaminya dengan sebal. "Nggak aku apa apain Sayang." Jawabnya tak mau mengaku. Selena meninggalkan suaminya membawa Shai keluar rumah. Mengajaknya ke taman mungkin akan membuat gadis itu berhenti menangis.
__ADS_1
Safira menghampiri Selen dan kedua anaknya yang sedang bercengkrama di taman belakang. "Mama." Panggilannya sambil ikut duduk memeluk Selena. "Eh. Sayang. Kamu sama siapa?" Tanya Selen membalas pelukan. "Sama Papa Ma. Lagi ngobrol sama Om di depan." Jawabnya. "Kenapa nangis?" Fira bertanya sembari mengusap kepala Shai yang berada di pangkuan ibunya. "Ayah yang bikin nangis." Jawab Skyler dengan wajah datarnya. Safira menggeleng pelan. Sudah tau dengan Sam dan tingkah pria itu yang selalu membuat ulah. Terlebih lagi sangat senang menjauhkan anak anak dari Ibunya. Safira sudah dewasa. Ia juga paham dan tau arti cemburu Sam karena Selena terlalu fokus pada anak anak. Padahal tidak demikian. Selen selalu bersikap adil. Mungkin karna Sam yang terlalu posesif jadi pria itu merasa kekurangan kasih sayang dari sang istri. "Om Sam. Ada ada aja." Gumam Safira. "Mama." Fira menatap wajah Selen dengan mata berkaca kaca. "Eh Sayang. Kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Selena khawatir. Fira menggeleng. Gadis itu memeluk Selen dengan erat. "Terimakasih selalu ada untuk Fira. Terimakasih sudah merawat Fira. Terimakasih sudah memberi kasih sayang yang selama ini Fira tidak pernah dapatkan. Mama adalah Mama terbaik." Ungkapnya dari hati yang paling dalam. "Sama sama sayang. Mama senang melakukannya." Selena mengelus lembut punggung gadis itu. "Kakak. Jangan peluk Ibuku " Shai yang berada di tengah keduanya cemberut. "Ini Mama kakak juga." Kata Fira membuatnya kesal. Ia dan Sky langsung memeluk Selena dengan erat. "Posesif. Seperti ayahnya." Gumam Selena.
__ADS_1
Dua orang pria sedang duduk bersama sambil menikmati kopi. Mereka tampak mengobrol dengan santai. "Bagaimana kondisi Safira?" Tanya Sam. "Seperti yang kau lihat. Dia baik baik saja sekarang. Semua berkat istrimu. Terimakasih." Ucap pria itu tulus. Memang selama masa pemulihan Selen lah yang selalu merawat Safira hingga sembuh seperti sekarang. "Tidak masalah. Istriku senang membantu." Jawab Sam. "Kau ini. Bagaimana bisa lalai dalam menjaga putrimu. Aku heran. Kenapa kau tidak memberi pelajaran pada pecundang yang telah membuat putrimu menderita?" Saifan menggeleng atas pertanyaan pria di depannya. "Bukannya tak ingin memberi pelajaran. Tapi Safira melarang ku." pria berkata sesuai kenyataan. Beberapa kali Ia akan bertindak tetapi anaknya selaku mencegah. Mau tidak mau Saifan hanya bisa menuruti.
__ADS_1
Sam menghampiri Istrinya yang sedang mencuci muka di kamar mandi. Pria itu dengan cepat meraih tissue dan mengeringkan wajah Sang Istri. Ia mengecup bibir Selen beberapa kali dengan tangan yang tidak di kondisikan. Membuka satu per satu kancing gamis Selena tanpa melepaskan pangutan. "Ah..." Sam mengeluarkan suara itu padahal Selen sedang mencubit pinggangnya. "Kenapa Honey?" Tanyanya dengan suara serak menahan gairah yang sudah memuncak. "Aku halangan. Sudah dibilangin." Jawab Selen mengaitkan kembali kancing gamis yang sudah terbuka. "Ih..Kok nggak selesai selesai." Kelu pria itu. "Baru tiga hari." Selena melangkah pergi meninggalkan suaminya. "Masa tiga hari. Aku rasa sudah seminggu." Sam mengekori istrinya. Wanita itu tampak menaiki ranjang dan langsung berbaring. Tak mau jauh jauh. Ia juga menyusul sang istri dan berbaring di samping Selena. Memeluk tubuh ramping itu dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Sang Istri. "Honey. Kamu sudah lama halangan nya. Masa belum selesai juga?" Tanyanya lagi. "Belum." Jawab Selen singkat lalu memejamkan mata. "Kalo gitu minta ***** aja." Tutur Sam membuat Selena membuka matanya kembali. "Nggak." Jawab Selen memunggungi suaminya. Pria itu terus merengek namun Sang istri tidak peduli. "Kamu kok tega sama suami." Kata Sam tapi tidak di hiraukan. Pria itu membalikkan tubuh Selena hingga menghadapnya. Menaikkan kaki untuk mengapit tubuh Istrinya agar tidak bisa bergerak. "Mas. Aku mau tidur." Kesal Selen. "Iya. Kita kan memang tidur." jawab Sam sambil tersenyum. "Lepasin. Aku tidak nyaman." Selen berusaha memberontak tapi sia sia. Ia lalu memejamkan matanya karena benar benar mengantuk. Sam mencuri kesempatan saat Selena sudah tertidur pulas. Pria itu membuka kancing gamis sang istri. Melepas penutupnya. Melahap benda kenyal itu dengan rakus sambil memejamkan mata.
__ADS_1