Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Banyak Pengganggu


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin Selen melahirkan dan sekarang Anak anaknya sudah berumur lima tahun. Perhatian dan kasih sayang selalu Ia curahkan kepada kedua buah hatinya. Tak sedikitpun melewatkan momen tumbuh kembang mereka. "Ibu." Sky dan Shai Langsung berlari memeluk Ibunya begitu turun dari mobil. "Salamnya mana Sayang?" Tanya Selen sambil membalas pelukan si kembar. "Assalamualaikum Ibu." Mereka mengucapkannya bersamaan. "Waalaikumsalam Sayang." Jawab Selen dengan lembut. "Ucapkan terimakasih pada Paman karena sudah menjemput kalian." Tutur Selen membuat Sky dan Shai mengucapkan terimakasih pada Alex. "Sama sama." Alex tersenyum hangat pada dua bocah itu.


Selena menyiapkan makan siang. Ia sudah memerintahkan anak anaknya untuk bersih bersih terlebih dahulu. "Honey." Sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. "Kamu sudah pulang? Bajunya sudah aku siapkan. Bersih bersih dulu. Kita makan siang sama sama." Kata Selen namun Sam tidak beranjak. Pria itu malah mengeratkan pelukannya. "Temani aku." Bisiknya tepat di telinga sang istri.

__ADS_1


Sam tersenyum menghampiri Selena yang menunggunya. "Maaf lama." Pria itu langsung menghujani Sang Istri dengan ciumannya. "Ayo makan. Kasihan anak anak sudah menunggu." Jawab Selen dan Sam mengangguk.


"Maaf Sayang. Kalian nunggu lama ya?" Selen dan suaminya ikut duduk bergabung. "Tidak lama Bu. Kita juga baru duduk." Jawab Sky. "Bagaimana sekolah kalian?" Tanya Sam basa basi untuk memulai obrolan dengan kedua buah hatinya. "Lancar Yah. Namun...." Shai tidak melanjutkan ceritanya. "Kenapa Sayang?" Selen bertanya dengan lembut sambil menyiapkan makan untuk suami dan anaknya. "Kakak bilang katanya tidak betah bersekolah disana." Jawab Shai membuat kembarannya itu melotot tajam. Mereka sudah sepakat untuk merahasiakan hal ini namun dengan entengnya Shai bilang pada sang Ibu. "Sayang? Apa ada yang mengganggumu?" Sky menggeleng sambil tersenyum pada Ibunya. Ia tak mau membuat Sang Ibu khawatir. "Sky Baik Bu. Hanya saja Sky tidak nyaman dengan teman Sky yang terlalu berisik." Jawabnya jujur. Jika fisiknya seperti sang Ibu namun sikap Sky sangat mirip dengan Ayahnya. Dingin, cuek, tegas dan arogan. Bahkan adiknya pernah berkali kali menangis karna di bentak olehnya. "Kamu ingin pindah?" Tanya Sam dan anaknya menolak dengan cepat. "Tidak perlu Yah. Sky akan beradaptasi." Jawabnya. Ia tak mau bersekolah di asrama seperti yang Ayahnya katakan. Sangat berat rasanya jika harus berpisah dengan Sang Ibu.

__ADS_1


Sky menghampiri Ibunya dengan wajah masam. Melihat wanita itu tengah berbincang dengan beberapa orang yang menurutnya sangat menyebalkan. "Banyak sekali Penganggu." Batin Sky. Maura sudah cukup mengganggu dan kini harus ditambah lagi penderitaannya karena harus berjauhan dengan sang Ibu ketika kedua anak dari Bill sering berkunjung. Apalagi mereka memanggil Ibunya dengan sebutan Mama. Membuat bocah itu sangat cemburu. "Sayang. Mana adikmu hm?" Selen memeluk hangat anak laki lakinya membuat Sky tersenyum. "Sedang di kamar Bu." Jawabnya sambil membalas pelukan Selena. "Ma. Adikku ini sangat lucu." Maura mengacak acak rambut Sky. "Hentikan Maura. Dia tidak nyaman." Tutur Bianca dan Bisma sang adik juga ikut mengangguk setuju. Daripada Maura, Sky rasa dua remaja keturunan Bill itu lebih normal. "Mam. Aku ingin mengatakan sesuatu." Bianca kini melanjutkan ceritanya yang sempat tertunda. Gadis SMA itu bercerita tentang temannya di sekolah. Sky bosan dan tidak mendengarkan. Namun Ia juga tidak beranjak dan tetap duduk di pangkuan sang Ibu dengan nyaman.


Malam hari Selen terbangun. Ia mendengar percakapan suaminya dengan seseorang lewat telpon. Pria itu memutuskan panggilannya kemudian masuk ke dalam dan mengunci pintu balkon. "Honey. Kamu terbangun karena aku terlalu keras bicara ya?" Tanya Sam berjalan kemudian menaiki ranjang dan memeluk istrinya. "Tidak. Aku haus." Selen meraih segelas air di atas nakas kemudian meminumnya. "Siapa tadi yang telpon?" Tanya Selen. "Alex memberi kabar jika Ia akan cuti beberapa hari. Anaknya masuk rumah sakit karena menjadi korban Bully." Jelas Sam membuat Selena terkejut. " Kita besok jenguk ya." Wanita itu menggenggam tangan suaminya untuk meminta izin. "Ada bayarannya." Sam tersenyum penuh misteri. "Aku lelah." Keluh Selen. Ia baru saja beristirahat beberapa jam yang lalu karena di gempur habis habisan oleh suaminya. "Kalau begitu cium dan tidur di atasku." Sam dengan cepat meraup bibir istrinya karena wanita itu tidak merespon. Ia membaringkan tubuhnya dan memeluk Selen yang berada di atas seperti guling. "Kamu begitu perhitungan." Selen mendengus sebal. Apapun yang Ia minta seluruh tidak gratis. "Kau tau prinsipku Honey? Memanfaatkan peluang dengan baik." Katanya sambil tersenyum menang.

__ADS_1


__ADS_2