Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Balas Budi


__ADS_3

Sam tidak membawa Selena ke kantor seperti biasa. Ia membiarkan istrinya di rumah atau pergi ke rumah mertua dengan penjagaan yang begitu ketat. Ia takut terjadi sesuatu pada Selena. Takut wanita itu di sakiti atau sekedar kelelahan. Menurut yang pernah Sam tanyakan pada dokter, wanita hamil itu sensitif dan mudah lelah. Maka dari itu Sam benar benar menjaga sang istri.


Berbeda dengan sang suami. Selena begitu jengah di perlakukan seperti ini. Sudah Ia katakan pada keluarga dan suaminya jika jangan terlalu berlebihan karena Ia baik baik saja. Namun mereka tak mau dengan alasan apapun. Keras kepala keluarganya sama dengan Sam. Mereka saling bekerja sama sekarang. Selen begitu pusing sekarang harus menghadapi tujuh orang dengan kelakuan yang sama termasuk kakek dan Neneknya. Dua orang paruh baya itu sering berkunjung semenjak Selen mengandung. Perjalanan jauh tidak masalah bagi mereka untuk bertemu cucu tercinta.

__ADS_1


"Kenapa cemberut begitu hm?" Tanya Sam setelah melepas pangutannya dari bibir sang istri yang sedang merapikan dasinya. Sam hanya mengangguk sambil tersenyum mendengarkan rengekan sang istri untuk menyudahi semua peraturan yang di berlakukan. Wanita itu tampak menggemaskan jika seperti ini. "Demi kamu. Kami tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu Honey." Pria itu berkata dengan lembut berharap istrinya akan mengerti. "Bahkan kamu tak mengizinkan Maura untuk main kesini." Kata Selen di akhir ocehannya. Sam menggeleng pelan. Ia mengatakan pada istrinya jika gadis kecil itu kemari maka akan membuat Selena kerepotan dan kelelahan. "Ingat kata dokter. Kamu tidak boleh kelelahan Cintaku." Sam menangkup wajah sang istri dan memberikan ciuman lembut beberapa kali.


Sam telah menghabiskan sarapannya. Masakan sang istri begitu enak sampai membuatnya menambah beberapa kali. Selena di perbolehkan memasak. Hanya memasak tidak lebih. Semua bahan dan yang lainnya tentu sudah di siapkan oleh ART di rumah. "Kenapa tidak dihabiskan Hm?" Tanya Sam melihat istrinya hanya makan sedikit. Selen menggeleng pelan. Wanita itu meraih gelas dan meneguk susunya sampai tandas. "Aku kenyang." Katanya dengan cepat sebelum sang suami menyuapinya. Sam tersenyum. Istrinya begitu banyak akal. Ia tau Selan meminum susunya agar tidak di paksa untuk menghabiskan sarapan. Pria itu menghela napas pelan kemudian menggenggam tangan sang istri dengan lembut. "Hari ini kamu ada jadwal cek kandungan Honey. Aku sudah menyuruh dokter untuk kemari." Kata Sam membuat Selen tercengang. Wanita itu mulai merengek. Meminta suaminya untuk membawa ke rumah sakit saja.

__ADS_1


Semua keluarga tampak bahagia. Mereka begitu antusias melihat foto hasil USG yang baru saja Selena lakukan. Dua janin yang ada di perutnya baru sebesar kacang. "Lihatlah. Kembar." Sean tak berhenti berkata demikian. Ia tak percaya sebentar lagi akan menjadi paman untuk dua keponakan kembarnya. Sam tersenyum melihat wajah sang istri yang begitu sumringah. Wanita itu sampai meneteskan air mata haru karena bahagia.


Sam meninggalkan mereka sejenak untuk berbicara pada Bill dan Julian yang sudah menunggu di ruang kerjanya. Pria itu menutup pintu rapat rapat agar obrolan penting mereka tak sampai di luar. "Bagaimana?" Tanya Sam sambil mengambil duduk di singgle sofa menghadap keduanya. "Semuanya sudah beres. Sudah aku pastikan Mama dan adik tirimu itu tak akan kembali lagi kesini. Mereka tidak akan berani mengusikmu atau istrimu lagi." Jelas Julian membuat sahabatnya itu mengangguk. "Bill. Ada yang ingin kau sampaikan?" Tanyanya melihat Bill hanyut dengan pikiran. Pria itu tak menyangka jika Sam akan menjadi seorang Ayah. Bagaimana pria kejam itu akan mendidik anaknya. Jika Selena Bill sudah yakin. Namun Sam membuatnya meragu. Pria itu bukanlah orang yang menyukai anak anak. Keputusannya berkeluarga dan memiliki anak cukup membuatnya merasa aneh. "Bill." Panggil Sam dengan nada tinggi membuatnya tersentak. "Apa yang kau pikirkan?" Tanya Julian. "Tidak ada. Maaf." Katanya. "Kau banyak melamun akhir akhir ini. Apa ada masalah?" Tanya Sam. Pria itu bengis namun tetap perduli pada orang terdekatnya. "Katakan saja. Aku tidak akan membunuhmu hanya karna bercerita." Lanjutnya membuat Bill menceritakan semua yang ada di pikirannya. Julian tertawa kencang sedangkan Sam tersenyum tipis. "Aku menikah karna mencintainya. Seberapa besar cintaku pada pada istriku tidak mungkin kau tidak tau. Semua aku lakukan untuknya. Semuanya. Bahkan nyawa pun aku berikan. Dan untuk anak. Benar sebenarnya berat bagiku dan tidak pernah terpikirkan sama sekali. Namun melihatnya begitu senang saat bersama Maura membuat aku luluh. Ada buah hati diantara kita yang pada awalnya aku hanya ingin menua bersamanya. Ketika istriku tersenyum saat mengetahui dirinya hamil itu membuatku sangat bahagia. Aku ingin dia selalu bahagia. Dengan cara apapun." Jelas Sam membuat Bill mengangguk. "Tapi kawan. Kami sudah melakukan tugas dengan baik. Kau harus membalasnya. Aku ajarkan kau apa itu balas budi kawan." Kata Julian sambil tersenyum pada Sam. "Izinkan Maura bertemu dengan Mamanya." Lanjut pria itu membuat Sam membuang pandangan. Sahabatnya itu sangat perhitungan. Dengan terpaksa Sam mengangguk membuat Julian tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2