Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Malam Mencekam


__ADS_3

Semua detektif terbaik dibantu polisi dan pengawal yang mereka kerahkan tidak mendapatkan petunjuk apapun.


"Plak...." Sagar menoleh ke samping setelah tangan pria paruh baya yang masih gagah itu mendarat di pipinya.


"Dimana cucuku." Katanya dengan penuh emosi mencengkram kerah kemeja anak semata wayangnya.


"Pa. Maaf. Kami masih mencarinya." Hanya itu yang bisa Ia sampaikan, Sesuai dengan kenyataan yang ada saat ini.


"Jika kau tidak bisa menjaganya. Biarkan dia bersamaku."


"Kakek. Sudah cukup. Pertengkaran tidak akan menyelesaikan semua." Sean mencoba meredam amarah sang kakek sementara Nenek dan kembarannya menenangkan Bunda. Seorang pria tegap yang merupakan salah satu dari bagian Tim menghampiri mereka.


"Tuan. Saya menemukan ini." Katanya.


Tanpa menjawab Kakek merebut amplop itu.


"Kalian jangan khawatir. Selena baik baik saja bersamaku." Dua baris kalimat dari kertas yang sedang Kakek pegang sekarang.


Sam memperbolehkan gadis itu untuk keluar kamar. Mansion yang Ia bangun di kelilingi hutan Pinus yang terpencil. Jadi tidak mungkin Selena akan kabur dari sini terlebih dengan penjagaan yang begitu ketat.

__ADS_1


"Kenapa tidak makan Honey?" Tanyanya Sam menahan kesal karena gadis itu tak menyentuh makan siangnya.


"Pulangkan aku." Kata Selena membuat si pria naik darah. Sam menghentakkan garpu dan pisaunya di atas meja hingga terdengar suara nyaring yang membuat Selena terlonjak. Ia begitu kesal karena Selen terus mengucapkan kata kata itu.


"Kita harus menikah jika kamu ingin pulang."


"Aku tidak mau." Jawabnya dengan cepat.


"Baiklah. Selamanya akan disini." Pria itu beranjak pergi setelah mengecup kening gadis itu dengan lembut mampu membuat Selen menangis lagi.


Sam menghampiri Billy yang sudah menunggu di ruang tengah. Pria itu duduk dengan tegap sambil mendengarkan Informasi dari tangan kanannya. Bill menjelaskan jika keluarga Selen sedang melakukan pencarian secara besar besaran. Media juga turut turun tangan dalam kasus ini.


"Baik." Jawabnya langsung berpamitan untuk melaksanakan siasat sang Tuan.


Selena duduk termenung di sofa. Menatap kaca besar yang menghadap langsung ke taman belakang. Ia mengabaikan pria yang tiba tiba sudah duduk di sampingnya.


"Makan Honey." Kata Sam selembut mungkin. Gadis itu tak menjawab ataupun menoleh menatap lawan bicaranya. Ia lebih memilih untuk diam masih dengan posisi ternyaman. Pria itu menaruh nampannya dengan kasar di atas meja. Ia berdiri kemudian menindih tubuh Selena.


"Jangan sentuh aku. Jangan perlakukan aku seperti ini. Aku mohon." Katanya sambil menangis. Sam merasa tidak tega kemudian menjauh.

__ADS_1


"Makan. Kesabaranku ada batasnya." Mau tidak mau Selen mulai makan menerima suapan dari Sam membuat pria itu tersenyum senang.


"Mau kesana?" Tanya Sam dengan lembut melihat Selena yang sedaritadi menatap taman. Selena tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya pelan. Tangan Sam terulur menggenggam tangan gadis itu sontak membuat Selen menghempaskannya. "Maaf. Ayo pergi." Katanya setelah sadar dengan apa yang Ia lakukan barusan. Kata Maaf pertama yang pernah Ia ucapkan untuk kesalahan yang tidak Ia sengaja. Sam orang yang keras dan juga angkuh. Pria itu tak pernah meminta maaf sekalipun Ia telah bersalah. Dan gadis di depannya itu telah membuatnya melakukannya. Bahkan dengan sangat tulus dan lembut.


Siang berganti malam. Selena selesai melaksanakan sholat. Ia bergegas ke dapur untuk mengambil minum karena merasa haus. Bukannya sudah nyaman dan terbiasa disini. Namun Ia butuh untuk tetap sehat untuk tenaganya kabur nanti. Langkah gadis itu terhenti tatkala mendengar suara keributan dari halaman belakang. Ia semakin mendekat dan mendapati Sam dan beberapa orang sedang berdiri disana. Suara tembakan membuat Selena terkejut. Sosok pria terlihat ambruk dengan luka di dadanya. Selena mulai merasakan pusing, tubuhnya bergetar hebat dan tiba tiba keringat dingin muncul di keningnya.


"Brug...."


"Sial." Sam mengumpat kemudian segera berlari menggendong tubuh Selen untuk dibawa masuk ke dalam.


Selen mengerjapkan mata. Ia merasakan kepalanya yang berdenyut hebat.


"Jangan mendekat." Gadis itu memaksakan duduk ketika Sam datang dan duduk di tepian ranjang. Ia merasa semakin takut dengan pria di depannya itu. Malam ini begitu mencekam bagi seorang Selena. Dengan mata kepalanya sendiri Ia melihat Sam menghabisi nyawa seseorang.


"Aku tidak akan melukaimu." Katanya dengan sorot mata keseriusan yang melembut. Sam merasa terpukul dengan tatapan ketakutan dilayangkan Selen padanya.


"Minumlah dulu agar tenang." Sam menyerahkan segelas air namun tak mendapatkan respon dari gadis itu. Ia memilih untuk menaruhnya di atas nakas dan pergi. Membiarkan Selena agar lebih tenang adalah langkah terbaik agar keadaan tidak semakin memburuk.


Pukul 12 malam Sam kembali ke kamar mendapati gadis itu sudah tertidur dengan pulas. Ia mengamati wajah Selena yang begitu lelah dan penuh ketakutan. Kening gadis itu sesekali mengkerut kentara sedang terjadi sesuatu di alam bawah sadarnya. Sam mengelus lalu mengecup pipi dan kening Selen dengan lembut. Ingin sekali Ia mendekap tubuh itu untuk menenangkan. Sam menghela napas kemudian melangkah pergi ke ranjang sebelah. Pria itu mulai saat ini tidur dengan ranjang terpisah dari Selen. Ini semua adalah kemauan gadis itu dan Sam menurutinya. Pengetahuannya tentang agama memang buruk. Jadi Ia harus menghargai yang Selena inginkan. Gadis itu tak mau di sentuh oleh laki laki lain. Begitu menjaga kehormatan sebagai seorang muslimah. "Selamat malam Sayang." Kata Pria itu mengamati Selena dari jarak yang memisahkan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2