Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Sky dan Shai


__ADS_3

Suasana di ruang persalinan tampak tegang. Sam menggenggam tangan sang istri ketika wanita itu di beri arahan oleh dokter. Bulir keringat membasahi kening dan seluruh tubuh Selena. Ia hanya bisa mengejan sesuai dengan arahan wanita paruh baya yang menanganinya itu. Sam tak tega. Benar benar tak tega melihat sang istri yang kesakitan. Jika boleh di gantikan Sam akan dengan senang hati menanggung rasa sakit yang di derita istrinya. Suara tangisan bayi pertama terdengar lalu beberapa menit lagi terdengar suara tangisan bayi kedua. Ia langsung mengecup kening sang istri yang nampak sangat kelelahan.

__ADS_1


Skyler dan Shaina. Selen memberikan nama anak anaknya demikian. Wanita itu mengamati Putra putrinya yang tertidur lelap dalam gendongan paman kembarnya. Begitu tampan dan cantik mirip seperti Ibunya. "Makan dulu Honey." Sam menghampiri Istrinya sambil membawa makanan. Ia mulai menyuapi Selen dengan telaten sambil sesekali memberikan minum pada sang istri. "Dia membuka mata." Bunda begitu antusias melihat bayi tampan itu membuka matanya. "Tidak menangis. Cucuku pintar." Sambung Ayah Selen sembari mengusap pipi Sky dengan lembut. "Kapan boleh pulang?" Tanyanya tak sabar ingin segera keluar dari rumah sakit yang menurutnya sangat membosankan. "Nanti aku tanyakan Honey." Jawab Sam membuat sang istri mengangguk.

__ADS_1


Ruangan tampak ramai di sore hari karena semua tengah berkumpul menyambut keluarga baru. Kakek Nenek Selena sudah datang sejak tadi. Julian, Bill serta Maura juga turut ikut bergabung disana. Hadiah memenuhi sebagian ruangan itu. Oleh oleh yang di bawa kerabat dan orang orang yang menjenguk Putra Putri sang penguasa. "Kenapa Sayang?" Tanya Selen dengan lembut karena melihat Maura hanya diam tanpa memeluknya seperti biasa. Gadis kecil itu tampak menggeleng pelan. Beberapa saat kemudian air matanya mengalir membuat Selena panik. "Kenapa menangis?" Tanyanya sembari memeluk dengan hangat. "Nanti Mama nggak sayang lagi sama Maura." Ia menangis dengan kencang. "Maura. Diam. Nanti adiknya bangun." Julian mencoba menenangkan putrinya. "Shut...kenapa berkata begitu Sayang?" Tanya Selen dengan lembut. "Mama sudah punya twin. Nanti Mama nggak sayang lagi sama Maura." Jawabnya sambil sesenggukan. Selen menggeleng "Mama akan selalu sayang sama Maura. Tidak akan berubah." Tutur Selena. "Janji?" Tanya Maura sambil mengacungkan jari kelingkingnya. "Janji." Selena mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking mungil putri sahabat suaminya. "Terimakasih Mama." Ia memeluk Selen dengan erat.

__ADS_1


Keesokan paginya. Suasana rumah Sam sangat ramai menyambut kedatangan twin. Putra putri Selena tak berhenti di buat mainan oleh semua orang. Mereka begitu antusias ingin menggendong kedua bayi yang menuruni gen Ibunya itu. "Sayangnya Ibu bangun ya..." Selen menimang bayi cantik yang membuka mata dengan perlahan itu. "Istirahatlah. Biar kakak yang gendong." Sean mengambil alih keponakannya. "Honey. Aku ke ruang kerja dulu. Bill ingin bicara." Sam berpamitan sembari mengecup kening sang istri. "Sam." Panggil Kakek membuat pria itu menghentikan langkahnya. "Iya Kek." Jawab Sam sambil menghadap pria paruh baya yang duduk dengan sang mertua. "Jauhkan benda itu." Katanya sambil menunjuk beberapa set katana di sudut ruangan. "Baik Kek." Sam langsung memerintahkan beberapa orang untuk memindahkan senjata itu.

__ADS_1


Hembusan napas kasar baru saja keluar dari mulut pria yang tengah duduk sembari membaca beberapa biodata. "Yang ini terlalu muda." Sam membuang kertas sembarangan. "Yang ini terlalu.....Sedikit tampan." Kesalnya meremas kertas dan membuangnya lagi. Bill menggeleng pelan. Ia tau Sam orang yang teliti. Namun tidak seperti ini. Semenjak mempunyai Istri Ia begitu selektif dalam memilih pengawal. Bukan hanya yang pintar melindungi. Kriteria pria itu merambah ke ketampanan dan karisma seseorang. Semua pengawal yang dipekerjakannya tidak boleh lebih tampan dan berwibawa darinya. Karena khawatir Selena akan berpaling. Itu semua membuat Bill dan Julian frustasi ketika mereka menyeleksi orang yang cocok dengan kriteria pria itu. "Ada sepuluh kandidat yang tersisa. Aku akan menyeleksinya sendiri. Tepat pukul 8 malam di tempat biasa." Sam langsung pergi meninggalkan Bill yang tentu saja mengumpat dalam hati. "Jangan mengumpatiku Bill." Kata Sam membuat Bill tersentak. Ia lupa jika Bosnya itu kadang seperti seorang cenayang yang bisa membaca pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2