
Selena sedaritadi membangunkan suaminya namun tetap tidak membuahkan hasil. Pria itu hanya menggeliat sambil menarik selimutnya. "Ayo dong bangun. Keburu imsak nanti." Ia terus mengguncangkan lengan suaminya agar segera membuka mata. Sam mendudukkan diri dengan mata yang masih terpejam. Pria itu memeluk tubuh sang istri yang duduk di sisi ranjang. "Cium dulu." Kata Sam membuat Selen menghela napas. Ia mencium pipi suaminya sekilas lalu berdiri.
Sam duduk dengan tenang. Ia makan sahur di suapi bergantian dengan istrinya. Makan langsung dari tangan Selena membuatnya merasakan lebih nikmat. "Susunya jangan lupa di minum." Sam mengingatkan sang istri. "Kamu kalau besok masih susah di bangunin sahur mending makan sendiri. Jangan minta suapi aku." Ancam Selena membuat suaminya kalang kabut. Sam langsung minta maaf dan berjanji akan segera bangun. "Janji." Kata pria itu sambil memeluk manja lengan istrinya.
__ADS_1
Selen membiarkan suaminya untuk tidur. Ia sengaja tidak membuka gorden kamar supaya tidur Sam tidak terganggu dengan cahaya mentari yang menyapa.
"Mama." Teriakan itu ikut menyambut pagi Selena yang cerah. Gadis kecilnya langsung berlari memeluk Selen. "Sayang. Maura sama siapa?" Tanyanya sambil mengecup pipi gembul anak sahabat suaminya. "Sama aku. Sam mana?" Julian baru masuk menghampiri keduanya. "Masih tidur Om." Jawab Selen. "Mau aku bangunkan?" lanjutnya lagi membuat lawan bicaranya menggeleng. "Gausah. Nanti ngamuk kalo aku Dateng pagi pagi." Julian duduk di sofa. Raut wajah pria itu tampak tak biasa. "Om ada yang mau diomongin penting? Kalau iya. Aku bangunin." Sam tetap menggeleng. Pria itu tersenyum sambil mengatakan jika Ia kemari hanya untuk main sama Maura. "Mama. Lebarannya masih lama ya?" Gadis itu menatap wajah Selen. Maura mulai belajar puasa meskipun hanya setengah hari. Selena yang mengajarinya. Ia menjanjikan akan memberi hadiah jika Maura bisa menyelesaikan puasa sampai lebaran tiba. "Satu Minggu Lagi sayang. Sabar ya." Selen mengelus kepala Maura dengan lembut. "Iya. Papa aja kuat. Masa kamu enggak." Julian menyahuti obrolan keduanya. Yah sekarang Julian si playboy itu juga ikut puasa semenjak Sam puasa. Merasakan suasana Ramadhan ternyata sangat menyenangkan. Mereka sering buka dan tarawih bersama.
__ADS_1
Julian memasuki kamar Sam. Pria itu geram karena sudah menunggu 4 jam Sam belum juga bangun. Ia menarik selimut Sahabatnya begitu sampai di sana. "Em...Honey...Aku masih ngantuk." Keluhnya sambil menari tangan Julian hingga terjerembab di atas ranjang. Sam memeluk tubuh itu namun ia merasakan beda. "Sial." Teriaknya sambil membuka mata. Ia menendang Julian membuat pria itu jatuh dari ranjang. "Keparat kau." Kesal Sam langsung beranjak untuk ke kamar mandi.
Hanya ada dua orang sekarang setelah Selen dan Maura pergi. Mereka hanya mengamati keduanya yang sedang berjalan di taman sambil sesekali tersenyum entah apa yang menjadi topik pembicaraan. "Sam. Ada sesuatu." Kata Julian membuat Pria itu menoleh. Ia kemudian menjelaskan jika kondisi Mama Sam semakin memburuk. "Dokter mengatakan jika umurnya tidak akan lama lagi." Lanjutnya di akhir cerita. "Aku sudah tau. Aku kemarin kesana bersama istriku." Jawab Sam membuat Julia tercengang. "Aku rutin kesana bersama istriku tanpa kau ketahui. Semua istriku yang minta." Sam berkata karena menyadari keterkejutan Sahabatnya.
__ADS_1
Julian dan Sam hanya memperhatikan Selena yang menyuapi Maura dengan telaten. Ini adalah waktunya buka puasa untuk gadis kecil itu. Tepat di tengah hari pukul 12. "Enak kamu jam segini udah buka." Julian memalingkan wajahnya. "Papa. Maura kan masih kecil. Boleh buka di siang hari. Iya kan Ma?" Tanyanya di jawab anggukan dan senyuman oleh Selena.
Buka puasa telah tiba. Maura cemberut karena harus makan sendiri. Sam tidak mau mengalah. Pria itu meminta di suapi istrinya. "Om Sam." Bocah itu menatap Sam dengan memelas. "Jangan mengeluh. Tadi siang kamu sudah minta di suapi. Sekarang giliran suaminya." Balas pria itu sambil tersenyum menang. Julian menggeleng pelan. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika anak Sam lahir nanti. Apa pria itu masih sama seperti ini. Ia tak mau mengalah dengan kedua anaknya. Pantas saja Sam tidak mau mempunya anak. Pria itu tak mau kebersamaan dengan sang istri terganggu. Ipar dan dua mertua Sam sudah cukup mengganggu. Pria itu pasti akan sangat terbebani dengan kehadiran baby twins kelak.
__ADS_1