
Selen tengah menata perlengkapan kedua anak kembarnya dengan sang Bunda. Wanita itu sangat antusias menyambut kelahiran sang buah hati yang terhitung tinggal beberapa minggu lagi. "Istirahatlah. Kamu sedaritadi belum istirahat." Tuturnya pada Selen sambil menggandeng tangan untuk diajak duduk. "Selen tidak lelah Bun." Bunda menggeleng. Ia mengusap kepala anaknya dengan lembut. " Jangan terlalu lelah." Katanya dan Selen mengangguk patuh.
Sam sedang mengamati istrinya tengah tertidur pulas. Selepas mengobrol dengan mertua Ia langsung pergi ke kamar untuk menghampiri istrinya. Waktu berlalu begitu cepat. Tak menyangka Ia akan menyandang status baru sebagai seorang Ayah. Suatu hal yang tak pernah di pikirkannya sama sekali. Semua berjalan begitu natural dan tak terencana seperti hidupnya sebelum di babak ini. Sam jatuh cinta dan bisa memperistri Selena. Ia bahagia. Namun memiliki buah hati tak pernah sama sekali terbersit dalam pikirannya. Memang benar tujuan seorang menikah adalah untuk melanjutkan keturunan. Namun berbeda dengan Sam. Ia lebih mementingkan untuk hidup berdua saja dengan orang yang dicintainya daripada melangsungkan keturunannya di masa depan. "Um...." Selen menggeliat dalam pelukan suaminya ketika pria itu tengah hanyut dalam pikiran. "Kamu bangun Honey?" Tanyanya sambil mengecup bibir manis sang istri. "Jam berapa?" Selen memejamkan matanya lagi karena masih mengantuk. "Baru jam satu siang. Tidur lagi. Aku temani." Sam mengusap punggung istrinya sambil memeluk dengan nyaman.
__ADS_1
Dua orang pria tengah duduk berhadapan dalam satu ruangan yang di dominasi dengan warna abu abu dan hitam. Salah satu dari mereka memberi laporan. Menyerahkan beberapa Map untuk dibaca seseorang yang sedang duduk sambil menyesap winenya. "Jadi masih sama seperti sebelumnya?" Tanya pria itu dengan suara yang dingin. "Iya. Masih sama seperti sebelumnya. Kerja sama itu tak membuat hubunganku dengannya semakin dekat. Dia cukup sulit." Jawab Anthony. "Seperti biasanya. Di akhir pekan sore hari Ia akan mengajak Istri nya untuk berjalan jalan. Aku harap Kamu tidak akan terlambat." Lanjutnya kemudian berpamitan pergi.
Sam menggandeng tangan istrinya. Pria itu mengajak Selen untuk duduk beristirahat setelah beberapa saat berjalan mengelilingi taman. "Minum dulu Honey." Kata Sam sambil menyerahkan sebotol air yang dibawanya sedaritadi. "Nanti saja. Aku masih belum haus." Jawabnya. Sam menggenggam tangan lembut itu dengan erat. "Apakah kamu akan tetap melahirkan secara normal?" Tanyanya begitu khawatir Selan akan kesakitan. "Iya. Sudah kodratnya sebagai seorang wanita itu melahirkan bukan?" Sam menganggukkan kepalanya pelan. Pria itu setuju dengan penuturan sang istri namun kecemasan dan ketakutan tak bisa ditepis olehnya. "Aku Khawatir Honey." Tiba tiba saja Sam memeluk istrinya. "Tidak usah khawatir. Kan sudah konsultasi dengan dokter waktu itu. Jangan takut hm." Selen mengusap lengan kekar Sam. "Dokter bilang usiamu masih terlalu muda dan kemungkinan keberhasilannya 70 persen." Ia mengingatkan kembali saat keduanya berkonsultasi dengan dokter kandungan kemarin. " Aku bisa." Selena menatap suaminya lekat. Berusaha meyakinkan pria itu dengan tutur katanya yang lembut. "Masih ada 30 persen kemungkinan...." Kata Sam terhenti saat sang istri menggenggam tangannya dengan erat. "Aku bisa." Ia memotong ucapan suaminya.
__ADS_1
"Jangan gila." Ucap seseorang menggema memenuhi ruangan. "Aku tidak menyetujui ide bodohmu itu." Lanjutnya lagi dengan suara yang lantang. "Oh ayolah. Hanya itu satu satunya cara. Kau urus semua pekerjaanku selama itu." Jawabnya dengan santai. "Sudah lama aku menunggu momen ini. Dan ini adalah kesempatanku." Ia berkata sambil mengusap dagunya. "Keluarga mereka bukan sebuah hal yang rahasia lagi di mata publik. Jika kau berniat mengganggu pikirkan terlebih dahulu. Identitas mu juga akan terbongkar. Mundurlah sebelum terlambat." Anthony menasihati pria yang ada di depannya itu. " Kau mengenalku sedari kita masih sama sama seorang bocah. Kau tau aku orang yang seperti apa. Aku rasa mundur bukanlah pilihan yang tepat. Hm. Aku harus pulang. Anakku akan merajuk jika aku pulang terlambat." Katanya sembari berdiri dari duduk. "Dasar gila." Gumam Anthony sambil memandangi punggung sahabatnya yang mulai menjauh.
"Daddy." Teriak seorang remaja langsung menyambut kedatangan duda satu anak itu. Meskipun buah hatinya adalah salah satu dari kesalahan yang tak dikehendakinya namun Ia menyayangi dengan tulus. "Hy anak Daddy. Kamu sudah makan?" Tanya pria itu sambil mengusap kepala anaknya dengan lembut. "Safira menunggu Daddy." Jawabnya sambil tersenyum. "Umurmu sudah 13 Sayang. Jangan terus menunggu Daddy ketika akan makan. Makanlah. Jangan biarkan perutmu kelaparan." Tuturnya membuat si cantik mengangguk. Ia lalu menggandeng tangan sang Ayah untuk diajak berjalan bersama. Dia satu satunya yang Gadis itu punya setelah sang Ibu meninggal dengan selingkuhannya dalam kecelakaan mobil dua tahun yang lalu. Safira tau Ayahnya tidak mencintai sang Ibu. Hubungannya dengan sang Istri hanya sebuah ikatan perjodohan tanpa cinta.
__ADS_1