Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Malu


__ADS_3

Selena kini tengah berada di butik. Duduk di kursi kerjanya dengan mata yang tanpa henti menatap laptop sedaritadi. Ia memeriksa setiap laporan keuangan yang masuk dan mencocokkan nya dengan beberapa Map yang di tumpuk di meja. "Semuanya baik." gumamnya sambil menandatangani kertas yang ada di meja. Setelah selesai Ia merenggangkan otot ototnya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk.


"Bu Selana." Sapa para karyawan melihat kedatangan wanita itu. Selen tersenyum kemudian ikut duduk bergabung. "Jangan lupa Istirahat." Pesannya selalu begitu. Mereka mengangguk dan membalas senyuman atasannya. Selen begitu perhatian. Memberi makan siang dan istirahat yang cukup untuk para karyawan. Wanita itu tidak pernah memandang para pegawainya sebagai pekerja namun malah cenderung seperti kawan. Tidak ada jarak ketika Selena berinteraksi. Ia sangat baik. Bahkan selalu membantu kesulitan pribadi mereka. "Kainnya sudah datang?" Tanya Selen. "Sudah Bu. Mari Saya antar untuk melihat." Kata salah satu dari mereka dan Selen mengangguk.


Mata Selena begitu cermat. Kini Ia sedang mengecek beberapa gulung kain dengan berbagai warna jenis yang berjejer rapi di atas meja besar. Selena harus teliti untuk memastikan kain yang datang sudah sesuai dengan kemauannya. Bagi Selena kualitas dan kepuasan pelanggan adalah nomor satu. Pakaian yang diproduksi butiknya harus nyaman dan sesuai dengan keinginan pelanggan.

__ADS_1


Sam sudah menghubungi istrinya berkali kali namun tidak di jawab. Pria itu sangat rindu. Padahal pagi tadi mereka juga bertemu. Ia ingin sekali mendengar suara Selena. Mengobrol dengan wanita itu sembari menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu menghela napas. Ia kemudian menutup berkasnya berdiri. "Mau kemana?" Tanya Julian memasuki ruangan sahabatnya. "Mau ketemu istri." Jawab Sam acuh. "Dasar. Mentang mentang sudah baikan. Ini baru jam berapa? Main pergi aja. Situ kerja nggak sih?" Julian menatap pria di depannya itu dengan kesal. "Jangan mengomel seperti Ibu Ibu. Aku pergi dulu." Sam menepuk pundak Julian kemudian mulai melangkah pergi. "Tunggu." Kata Julian membuat pria itu menghentikan langkahnya. "Ada apa?" Tanya Sam. "Berkas yang aku berikan tadi sudah kamu tandatangani?" Sam berdecak kesal. "Sudah. Itu ada di meja. Aku pergi dulu." Jawabnya sambil berlalu.


Selena baru saja menemui beberapa pelanggan nya. Wanita itu duduk di salah satu sofa sambil memainkan ponselnya untuk melihat jam. Satu jam lagi anak anak akan pulang. Ia bergegas mengambil tas di ruang kerjanya.


Selen melihat menghampiri karyawannya yang sedang berdiri di pintu kaca melihat ke arah luar. Ia ingin berpamitan untuk pulang. "Ibu Selena." Kata Salah satu dari mereka terkejut karena Selen sudah berada di belakangnya. "Aku pulang dulu ya." Kata Selen dan mereka mengangguk sambil senyum senyum tidak jelas. "Sudah di jemput Bu. Hati hati di jalan ya. Sikap pak Sam manis sekali." Kata Mereka membuat Selena mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


Sam berjalan menghampiri sang istri. Merengkuh pinggang ramping wanita itu dan mencium keningnya dengan lembut. Selena malu. Lebih malu dari yang tadi. Ia menarik tangan Sam dan segera masuk ke mobil. "Jalan pak." Kata Selen. "Baik Bu." Jawab supir yang duduk di depan lalu melajukan mobilnya. Selen diam. Ia akan menegur suaminya di rumah nanti karena disini masih ada orang lain.


"Honey. Tunggu." Sam mengikuti langkah lebar sang istri memasuki kamar. "Kamu marah hm?" Tanyanya sambil memeluk tubuh Selena dengan erat. "Kamu bikin malu." Jawab Selen kesal. "Maaf. Hanya ingin buat kejutan saja." Jawab Sam. "Lain kali jangan diulangi lagi." Tutur Selen dan suaminya mengangguk paham.


Selena selesai mengaji bersama kedua anak dan suaminya. Mereka belum beranjak. Selena kini tengah memangku putra putrinya. Mereka terus menempel tak mau lepas dari Sang Ibu. "Ibu. Kenapa Ibu selalu pakai jilbab?" Tanya Shai. "Untuk menutup aurat. Kau nanti juga harus memakainya." Sky yang menjawab. "Aku kan tanya Ibu." Gadis itu cemberut. "Benar yang Abang katakan. Jilbab untuk menutup aurat."

__ADS_1


"Aurat itu apa Bu?" Tanya Shai penasaran. "Aurat itu bagian tubuh yang tidak boleh di perlihatkan pada lawan jenis yang bukan mahram." Jawab Selena. "Shai bingung." Katanya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Selena menjelaskan lagi dengan pelan dan detail membuat anak perempuannya mengangguk paham.


Malam hari setelah menidurkan kedua anaknya Selena pergi ke dapur. Ia duduk sambil minum air dingin yang baru saja di ambilnya dari kulkas. "Honey." Sam mencium pipi istrinya kemudian duduk di kursi dekat istrinya. "Jangan minum es malam malam. Nanti kamu pilek." Sam mengambil gelas itu. Selen menghela napas. Kumat lagi sikap menyebalkan Sam. Ketika Ia marah. Apapun yang ingin dilakukannya tidak dilarang sama sekali. Dan sekarang.....Sam kembali lagi. "Aku haus Mas. Kembalikan." Selena meminta. "No Honey. Minum air biasa saja." Katanya sambil menyerahkan air mineral pada Sang istri. Wanita itu meneguknya sampai habis kerena benar benar haus kemudian membuang botolnya ke tempat sampah. "Mau aku bikinkan sesuatu?" Tawar Sam membuat Selen bergidik ngeri mengingat masakan pria itu. "Aku mengantuk." Jawabnya memberi alasan. "Baiklah Cintaku. Mari kita tidur." Sam berdiri. Berjalan mendekat kemudian menggendong tubuh Istrinya. Memberikan wanita itu ciuman di sepanjang perjalanan menuju kamar.


__ADS_2