
Sam baru saja pulang dari kantor. Ia begitu lemas karena cuaca hari ini sangat panas. Mata pria itu menelisik sekitar namun tak mendapati sang istri yang biasa menyambutnya. Ia bertanya pada salah satu bawahannya dan mengatakan jika Selena sedang berada di rumah sakit untuk menjenguk sang mertua. Mendengar jawaban tersebut Sam kesal. Padahal Ia tak mengizinkan Selena untuk pergi keluar tanpa dirinya. Baru beberapa langkah hendak menyusul. Suara salam terdengar dari luar. Sam segera menghampiri sang istri dan menarik tangan wanita itu menuju kamar.
Tak dapat menahan emosinya. Sam memarahi Selena habis habisan. Padahal sang istri sudah menjelaskan jika keadaan Mertuanya darurat. Selen tadi di hubungi dokter jika kondisi Sarah melemah. Oleh karena itu Ia segera kesana karena Sam tidak bisa di hubungi. "Aku minta maaf. Jangan diulangi lagi hm. Aku Khawatir jika kamu keluar sendiri." Sam merasa bersalah langsung memeluk istrinya. Wanita itu hanya mengangguk tak menjawab atau sekedar membalas ucapan suaminya. Jujur saja. Jika Sam marah seperti ini membuat Selen takut. Ingatannya saat dulu sang suami menculiknya kembali muncul.
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka. Pria itu mendapati istrinya sudah tertidur pulas sambil bersandar di headboard ranjang sambil memegang Al Qur'an. Sam tersenyum. Ia melepaskan mukena dan jilbab sang istri perlahan dan membenarkan posisi tidur Selen dengan hati hati agar tidak terbangun. Jemarinya terulur mengelus lembut pipi Istrinya. Sam benar benar merasa bersalah karena tadi sempat marah marah. Ia kemudian ikut berbaring dan tidur sambil memeluk tubuh istri tercinta.
Cuaca sore yang cerah. Untuk meminta maaf pada Selena Sam membawa wanita itu untuk jalan jalan di taman. Ia menggenggam tangan istrinya begitu erat. "Aku ingin duduk." Keluhnya karena merasa sudah lelah berjalan dari tadi. Sam mengangguk langsung membawa Selen untuk duduk di bangku terdekat. "Mas. Kondisi Mama...." Ia menjeda kalimatnya tak tau harus menyampaikan bagaimana pada sang Suami. Sarah semakin parah karena penyakitnya. Beberapa kali wanita itu pingsan. "Aku sudah tau." Jawab Sam membuat Selen menoleh pada pria yang duduk merangkulnya itu. Suaminya berkata jika Ia selalu memantau kesehatan Sang Mama. Bahkan dokter terbaik sudah di datangkan untuk menyembuhkan wanita itu. "Aku sudah berusaha. Tinggal tuhan yang menentukan." Lanjutnya lagi sambil menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Di hari terakhir puasa ini. Selen di ajak kedua kakaknya untuk keluar sebentar. Hanya mereka bertiga karena Sam masih mengobrol dengan mertuanya. Pria itu sedikit cemas. Namun Ia percaya Sean dan Shon bisa menjaga istrinya dengan baik. "Bagaimana keadaan Mamamu?" Tanya Sang mertua dan Sam menjawab sesuai dengan kenyataan yang ada. " Bertrand sudah kembali. Dia juga sesekali menjenguk." Lanjut Sam sembari menaruh cangkir teh di meja.
Di sisi lain Selena di dampingi kakak kembarnya sedang berjalan di taman menikmati suara takbir yang menggema dari mushola dan masjid sekitar. "Kakak, Selen mau itu." Tunjuknya pada penjual jagung rebus di pinggir jalan. "Hm. Ok. Ayo kesana." Keduanya langsung menggandeng tangan sang adik. Wanita itu sibuk mengamati sekitar ketika Sam dan Shon sedang sibuk berinteraksi dengan penjual. "Kamu mau apalagi Sayang?" Tanya Sean namun Selena menggeleng. "Kakak. Aku merasa melihat seseorang yang familiar." Katanya membuat kedua pemuda itu penasaran. "Siapa?" Tanya Shon khawatir. "Entahlah. Mungkin hanya mirip saja." Jawab Selena. Mereka buru buru mengajak adiknya untuk segera pulang karena takut akan terjadi sesuatu.
__ADS_1
Sampai di rumah mereka hanya memandangi ketiga orang yang baru ikut duduk bergabung. Sudah keluar tiga jam lamanya ternyata hanya untuk membeli jagung rebus. "Adek pengen Bun." Kata Sean. "Kan minta Bibi bisa. Nggak perlu keluar malam malam. Kita Khawatir udah tiga jam kalian keluar di hubungi juga nggak bisa." Omel sang Ayah. "Maaf." Lirih keduanya. "Biar kakak aja. Ini masih panas." Sean mengupas kan jagung lalu meniupnya sebelum membantu sang adik untuk makan. "Manis." Kata Selen membuat suaminya tersenyum. Wanita itu sangat lucu dan menggemaskan. Jika tidak ada mertua dan iparnya mungkin Sam akan langsung melahap bibir mungil sang istri dengan rakus. Namun Ia cukup tau diri untuk tidak melakukan di depan mereka.