
Sam menggenggam tangan istrinya berharap wanita itu bisa luluh. Selen memaksakan diri untuk ikut puasa besok padahal dia sedang hamil. Tentu saja Sam khawatir jika berpengaruh pada kesehatan Istrinya. "Kan sudah konsultasi sama dokter kandungan. Katanya boleh." Selena tetap pada prinsipnya. "Iya Honey. Cintaku. Tapi aku khawatir." Jawab Sam sambil menggenggam tangan sang istri. Selena menatap wajah suaminya dengan ekspresi memohon. Membuat pria itu membuang muka. Ia tak mau lagi luluh lagi. "Mas. Ayolah. Memangnya kamu nggak mau nanti ngabuburit sama aku." Bujuk Selen membuat Sam menoleh. "Ngabuburit apa?" Sam bingung. Ini adalah puasa pertama kali bagi Sam semenjak sang Ayah meninggal. Jadi Ia lupa bahkan cukup asing dengan istilah istilah itu. Selena tersenyum sambil menceritakan keseruan di bulan ramadhan. "Boleh ya..." Rengek Selena di akhir ceritanya. Sam menghela napas. Ia tersenyum kemudian mengecup bibir istirnya. "Boleh." Jawab Sam membuat Selena memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Selena menyebutkan semua yang bisa membatalkan puasa membuat Sam menatap istrinya dengan wajah di tekuk. "Ciuman tidak boleh? Minta jatah tidak boleh?" Tanyanya di jawab anggukan oleh sang istri. "Kalau begitu aku tidak puasa saja." Putus pria itu. "Mana boleh begitu. Kalaupun kamu tidak puasa aku puasa kamu juga tidak boleh melakukannya." Sam memeluk istrinya. Ia harus tahan sebulan penuh. "Masa berciuman saja tidak boleh Honey?" Tanya Samuel lagi memastikan. Selen menjelaskan dengan detail bahwa meskipun tidak membatalkan puasa. Berciuman ketika puasa Ramadhan dianjurkan untuk tidak dilakukan. Terutama bagi pasangan muda, atau pengantin baru yang gairahnya masih menggebu-gebu dan belum mampu menahan gejolak hasrat seksualnya. Mereka disarankan untuk menghindari ciuman saat sedang berpuasa. Tujuannya agar puasanya tetap terjaga. Sam lagi lagi menghela napas dengan penjelasan istrinya.
__ADS_1
Selena mengusap perutnya yang kini sudah sedikit membesar. Ia tengah menunggu suaminya yang masih di kamar mandi. Wanita itu sangat senang karena hari ini akan berbelanja kebutuhan ramadhan sendiri. "Ayo Honey." Sam membantu istrinya untuk berdiri. "Jika lelah kamu harus berhenti." Katanya langsung di jawab anggukan mantap oleh sang istri.
__ADS_1
Sam memasuki kamar dan tidak menemukan keberadaan istrinya. Pria itu kemudian menuju balkon. Ia tersenyum melihat sang istri sedang duduk sambil membaca buku. "Ada apa?" Tanya Pria itu sedang berbicara dengan seseorang lewat earphon blotooth yang terpasang si telinganya. Sam menaruh nampan kemudian mencium istrinya beberapa kali sebelum menyuapi wanita itu. "Hm." Suara Sam terdengar santai dan tidak tertarik dengan topik yang sedang di bicarakan. "Urus saja. Aku sedang bersama istriku. Aku mengandalkan mu." Jawabnya terakhir lalu memutus panggilan.
__ADS_1
"Kenapa? Jika ada sesuatu yang perlu diurus pergilah." Sam menggeleng mendengar penuturan sang istri. "Tidak ada yang lebih penting darimu." Kata Pria itu. "Aku tidak papa. Pergilah. Pasti sangat penting." Selen bersikeras menyuruh suaminya pergi. Wanita itu tidak ingin terlalu di utamakan sehingga urusan suaminya terbengkelai. "No Honey. Aku tetap disini. Bill sudah mengurusnya dengan baik." Jawab Pria itu meyakinkan. "Honey. Kenapa kurmanya berbeda beda?" Tanya Sam memperhatikan kurma di piring yang sudah di siapkan Bibi untuk sang istri. Selen menjelaskannya dengan telaten satu persatu. "Cobalah. Ini kurma Barhi rasanya yang renyah dan manis seperti karamel." Selen menyuapi suaminya. "Enak?" Tanya Selena dan suami mengangguk. Ini adalah pertama kali bagi pria itu makan kurma. Ya meskipun dia muslim tapi hanya sebatas identitas belaka. Pengetahuannya tentang agama sangat rendah. Namun berkat sang istri kini Sam berubah menjadi lebih taat. "Dulu pertama kali aku merasakan kurma ini ketika di beri oleh seorang teman." Selan menceritakan kejadian yang dulu saat masih bersekolah di Kairo Mesir. "Laki laki atau perempuan?" Tanya Sam serius. "Ikhwan." jawab Selan sambil tersenyum. "Maksudnya?" Sam kebingungan. "Laki laki." Selen berkata dengan lirih membuat Sam membuang pandangannya. "Kenapa Hm?" Selena memeluk tubuh suaminya. "Aku cemburu." Kata pria itu dengan kesal. Selen memberikan pengertian jika itu hanyalah masa lalu dan mereka hanya sebatas teman. Namun Sam yakin jika laki laki itu pasti tertarik pada istrinya. Tidak mungkin tidak jatuh cinta dengan pesona sang Istri. "Aku bersungguh sungguh." Selen menatap suaminya dengan serius. "Hm. Aku mencintaimu Honey. Sangat. Bahkan Cintaku padamu melebihi dariku dan orangtuaku sendiri." Pria itu memeluk sang istri dengan erat. "Jangan berlebihan. Sayangi dan cintai aku sewajarnya saja." Kata Selen sambil mengelus lembut punggung suaminya. Ia takut jika Sam menaruh hatinya sangat dalam. Yang namanya pertemuan pasti ada perpisahan. Selen tak mau suaminya merasa kehilangan yang mendalam ketika itu terjadi. Sam menggeleng masih memeluk istirnya. "Ini kemauan hatiku." Lirih pria itu.
__ADS_1