
Suara langkah kaki terdengar cepat menaiki satu persatu anak tangga. Seorang pria dengan tubuh kekar dan kemeja yang di gulung sampai sebatas siku terlihat buru buru menuju sebuah ruangan saat sudah sampai di lantai dua. Tangannya menarik hendle pintu dengan perlahan kemudian mendorongnya ke dalam. Terpampang dengan jelas sebuah ruangan yang masih terjaga kerapiannya. Ia melangkahkan kaki masuk semakin dalam dan mendudukkan diri di sisi ranjang. Ingatan tentang masa lalu terus berputar di benaknya. Membuat pria itu sebenarnya enggan untuk pergi ke tempat ini. Namun ada yang harus di sampaikan. Sam ingat betul ketika sang Mama mendorong Papanya dari tangga hingga pria itu mendarat di dasar dengan kondisi yang sudah tidak bernyawa. Hembusan napas lolos dari mulutnya. Bermaksud untuk meringankan sedikit gejolak dalam hati. " Papa. Maaf aku baru kemari mengunjungimu. Aku sudah berkeluarga sekarang. Dan papa akan segera memiliki cucu. Bukan hanya satu. Tapi dua sekaligus." Kata Sam sambil memandangi foto seorang laki laki dengan anak kecil di pangkuannya.
Hujan begitu deras. Sudah hampir jam 2 namun suaminya belum pulang juga. Biasanya pria itu selalu pulang di jam makan siang. Selena begitu khawatir Hinga dia langsung beranjak mendengar pintu utama di buka oleh seseorang. "Honey." Pria itu langsung memeluk istrinya. "Kenapa pulang telat?" Tanya Selen membuat Sam tersenyum. Ia senang Selena menghawatirkannya. "Aku berkunjung di rumah papa." Jawabnya sambil mengajak sang istri untuk ke kamar.
__ADS_1
Sam mengamati istrinya yang sedang membantu melepas baju. Pria itu sangat bersyukur kini bisa hidup bersama orang yang Ia cintai. Beberapa detik kemudian air mata pria itu lolos begitu saja. "Kenapa Hm?" Selen panik langsung memeluk suaminya. "Aku merindukan Papa. Dia tidak bisa melihat Aku menikah dan menjadi seorang Ayah." Jawab Sam dengan sendu. Selen mengelus punggung suaminya dengan lembut untuk menenangkan pria itu. Ia menyarankan untuk mengunjungi makan Papa mertuanya dan berdoa disana. "Akan aku temani." Kata Selen langsung mendapat tentangan dari suaminya. Sam begitu khawatir nanti istrinya akan kelelahan. "Tidak Mas. Aku tidak akan lelah. Percayalah." Ia berusaha meyakinkan suaminya. Menatap Sam sambil menggenggam tangan pria itu. " Baiklah Cintaku. Tapi janji tidak boleh lelah. Kamu harus menurut." Tuturnya dan Selen mengangguk setuju. Sam tersenyum atas tingkah menggemaskan istrinya. Pria itu mengecup bibir candu sang istri beberapa kali.
Seorang pria menggandeng tangan istrinya memasuki area pemakaman. Ia berhenti di sebuah nisan bertuliskan Santoso. Sam meletakkan bunga yang Ia bawa dan berdoa di bimbing istri tercinta. "Kami pulang Papa. Semoga Papa bahagia disana. Menantu Papa begitu cantik dan baik. Jika Papa masih hidup pasti Papa akan senang." Ia berpamitan sambil merangkul bahu istrinya. Suasana langit sedang mendung dan cuaca sejuk membuatnya tak berlama lama karena takut istrinya akan sakit. Sam menyudahi ziarahnya kemudian mengajak sang istri untuk kembali.
__ADS_1
Beberapa saat mengobrol Selena sudah tertidur pulas dalam dekapan kakaknya. Sean mengelus lembut pipi Selen yang memerah. "Lihatlah pipinya sangat merah." Lirihnya sambil terkekeh pelan. "Jangan di ganggu. Nanti dia terbangun." Tutur Bunda. Shon membenarkan posisi adiknya. Mengangkat kaki Selena di atas sofa dan meletakkan kepalanya di paha Sean. Sam tersenyum sembari ngobrol dengan mertuanya. Pria itu hanya mengamati kedua tingkah iparnya yang begitu manis pada sang istri.
Makan malam berlangsung sangat alot. Mereka tak berhenti membujuk Selena yang tidak mau makan. Wanita itu hanya minum susu dan makan apel yang di kupaskan kakaknya. "Kamu sedang hamil. Harus makan yang banyak." Tutur bundanya dan Selen tetap menggeleng. "Kamu mau apa Hm?" Tanya Sam pada istrinya. "Tidak mau apapun." Jawab Selen membuat Sam menghela napas. "Puding susu coklat mau?" Tanya Shon dan Selena mengangguk. Ia kemudian langsung menyuruh ART di rumahnya untuk membuatkan puding untuk sang adik.
__ADS_1
Suasana begitu ramai dengan tingkah Sean dan kembarannya yang berebut ingin menyapu sang adik. "Gantian saja." Kata Sean dan saudaranya mengangguk setuju. "Malam ini tidurlah dengan kakak. Di ruang Teater sambil nonton." Ajak Shon membuat iparnya tersedak. "Hati hati." Ayah menepuk bahu menantunya. "Kamu mau kan sayang?" Selen mengangguk dengan semangat.