Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Rapuh dan Hancur


__ADS_3

Selena mengerjapkan mata hingga terbuka sempurna. "Sayang. Kamu sudah bangun?" Tanya Bunda bersikap seolah tidak terjadi sesuatu yang besar. Wanita itu harus membuat anaknya tenang terlebih dahulu kemudian memberitahu Selena tentang kenyataan yang ada secara perlahan. Selen mengingat kejadian terkahir kali sebelum Ia berakhir seperti ini. "Bunda." Panggilnya dengan nada bergetar. "Iya sayang." Jawabnya berusaha setenang mungkin. "Anakku baik baik saja kan Bun?" Tanya Selen sambil menyentuh perutnya. Bunda tidak menjawab. Wanita itu tak bisa membendung air matanya lagi. "Bunda. Katakan sesuatu. Jangan membuatku bingung." Selena ikut menangis. "Sayang." Sean dan Shon langsung bergegas menghampiri adiknya begitu mereka masuk. "Kakak. Anakku baik baik saja kan?" Selena mengguncangkan lengan saudaranya untuk meminta penjelasan. "Ikhlaskan sayang. Dia sudah tenang di surga." Jawab Shon membuat jantung Selen seakan berhenti berdetak. "Kenapa? Kenapa Tuhan mengambil anakku yang tidak berdosa?" Selen berteriak. Ia tak masalah harus menderita untuk mempertahankan anaknya. Namun buah hatinya harus pergi tanpa Ia bisa menggendong dan merawatnya. Dunia begitu kejam. Buah hati yang begitu Ia jaga hingga rela meninggalkan sang suami telah pergi. Dan secara tidak langsung suaminya lah penyebab semua ini. "Kenapa kau meninggalkan Ibu?" Selena menangis pilu dalam pelukan keluarganya.


Selen mencoba mengontrol diri meskipun hatinya begitu rapuh dan hancur. Sebisanya Ia akan terlihat baik baik saja. Terlebih di depan kedua putra putrinya. Ia tak ingin melihat mereka juga ikut bersedih melihat kondisinya seperti ini. Masih ada keluarga dan kedua anaknya yang menjadi penyemangat meskipun Ia harus kehilangan satu nyawa yang begitu dinantikan. "Makan dulu Sayang." Ayah Selena mendekat dan duduk di dekat ranjang tempat tidur putrinya. "Aku tidak lapar Yah." Jawabnya sambil memaksakan senyum. Melihat keadaan putrinya seperti itu membuatnya teriris. Selena sudah sangat menderita namun Ia tetap sabar dan mencoba terlihat baik baik saja. "Kamu wanita kuat Sayang. Ayah sangat menyayangimu. Kamu bisa melewati semua ini. Kamu hebat. Kamu pasti bisa." Kata Ayah Selen sambil mengelus lembut kepala putrinya. Selen menangis kembali mendengar penuturan Ayahnya. "Keluarkan semuanya nak. Menangis lah jika itu bisa membuatmu lega." Ayah mendekap erat tubuh lemah Selen. Pria itu ikut menangis tak tega melihat kondisi anak tercinta.

__ADS_1


"Ibu makan ya?" Bujuk Sky untuk yang kesekian kalinya membuat Selena mengangguk. Bocah tampan itu memegang sendok sedangkan sang adik menyangga piring untuk menyuapi Ibunya. "Ibu harus makan yang banyak agar cepat sembuh. Kita bisa jalan jalan nanti jika Ibu sudah keluar dari rumah sakit." Celoteh Shai membuat Selen tersenyum. Mereka berdua selalu membuatnya tenang. Senyum kedua anaknya bagaikan obat yang mampu menyembuhkan segala sakitnya.


Sam masih berada di Jogja. Di sebuah hotel mewah dan masih memantau kondisi istrinya. Ia baru saja mendapat laporan jika Selen sudah sadar. Wanita itu sangat terpukul dan kehilangan. Sam menyesal telah melakukan semua itu. Ia tak punya keberanian menemui sang Istri untuk meminta maaf. Rasanya ingin mati saja. Namun Sam sadar jika kematiannya bukankan sebuah jalan. Justru Ia akan menyesal jika tidak bisa memperbaiki apa yang telah di buatnya cacat dan terluka. Peluang mendapat maaf sangat kecil meskipun Ia tau Selena berhati besar. Namun kehilangan anak bisa saja membuat wanita itu berubah. Apalagi yang melakukan semua itu adalah suami dan Ayah dari anak yang sedang di kandungnya. Peluang untuk memperbaiki rasanya mustahil terjadi. Untuk bertemu saja Selena enggan. Jika tidak, keluarga wanita itu pasti tidak akan membiarkan putrinya untuk bertemu seorang yang telah membuat luka berkali kali. Sam menghela napas panjang. Kepalanya berdenyut seakan mau pecah memikirkan semua keruwetan yang terjadi dalam hidupnya. Dari awal yang buruk akan berakhir buruk juga. Itulah sekarang yang ada di dalam benak Sam mengingat bagaimana cara Ia mendapatkan Selena.

__ADS_1


"Ekm.." Suara deheman seseorang membuat Alex menetralkan kembali emosinya. "Tuan Sean." Pria itu menggeser duduk untuk mempersilahkan Sean duduk di bangku yang sama. "Kemana Bosmu?" Tanyanya dengan wajah dingin. "Dia sedang berada di hotel." Jawab Alex jujur. "Apa kau sama sepertinya?" Meskipun Sean tau Alex sudah lima tahun lebih bekerja dan selalu melindungi adiknya. Namun Ia juga tak bisa percaya seratus persen pada pria itu. Alex menggeleng pelan. "Saya memang bekerja untuk Tuan Sam. Tapi seorang bawahan tidak harus sama dengan atasannya. Kami punya pribadi masing-masing. Dalam hidup saya tidak pernah ada kata melukai wanita. Karna saya juga terlahir dari seorang wanita." Alex menghela napasnya pelan. "Percayalah Tuan. Saya tidak berpihak pada yang salah." Katanya lalu berpamitan pergi.


Sean mengingat kata kata pria itu dan menghubungkan dengan pengakuan keponakannya. Sky sering berkata padanya jika Paman Alex selalu melindungi Selen ketika wanita itu mendapatkan perlakuan kasar dari Sam. Entah bagaimana keberanian datang dalam diri Alex dan membangkang pada Sam hanya untuk melindungi Selena. Ia harus mencari tau kejanggalan di balik semua itu.

__ADS_1


__ADS_2