
Suasana ruangan begitu hening. Sosok wanita baru saja kembali setelah beberapa saat pergi konsultasi dengan dokter yang menangani suaminya. Ia cukup terkejut dengan kedatangan tiga orang yang begitu tak terduga. Apakah dalam kondisi seperti ini wanita itu masih bersikeras ingin dinikahi Sam? pertanyaan itu berputar di benak Selena. "Mama." Panggil menantunya pelan dan wanita itu tersenyum. Selen menghampiri suaminya yang duduk dengan wajah dingin seperti biasa. "Kakak ipar. Suamimu telah cacat. Beralihlah bersamaku." Bertrand berkata demikian dengan lantangnya. Sam tidak menanggapi seperti biasa. Ia hanya ingin tau respon sang istri. Adik tirinya itu tampan, muda dan cukup kaya dengan warisan almarhum Ayahnya. Akankah sang istri tergoda? "Mohon lisannya untuk dijaga. Aku bukan wanita seperti itu." Jawab Selen sambil menggenggam tangan suaminya.
Beberapa saat sunyi hingga salah satu diantara mereka angkat bicara. "Tante aku tidak mau lagi dengannya. Siapa yang mau dengan pria cacat tak berguna seperti itu...." Bella terus menghina Sam. Selen menutup telinga pria itu sambil memeluknya. "Jangan dengarkan." Kata Selana sambil menangkup wajah suaminya. "Kau benar benar tak berdaya sekarang. Anak tidak berguna. Tanda tangani ini dan aku akan mengambilnya kembali." Kata Mama Sam melemparkan Map itu dan pergi di ikuti dua orang yang bersamanya. "Aku akan ingat setiap kata yang keluar dari mulut busuk kalian." Sam yang sedaritadi diam angkat bicara membuat tiga orang itu menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Terimakasih." Sam memeluk istrinya begitu erat. "Maaf selalu membuatmu menderita." lanjutnya. "Jangan dengarkan mereka." Selen mengusap punggung suaminya dengan lembut. Wanita itu meraih Map yang tadi di lemparkan mertuanya. Ia benar benar terkejut, dalam kondisi Sam yang terpuruk seperti ini dia malah mementingkan harta.
"Sam kenapa?" Tanya Julian yang tiba tiba masuk di susul oleh Bill di belakangnya. "Tidak apa Om." Kata Selen sambil tersenyum. "Kalian kenapa datang?" Tanya Sam dengan nada kesalnya karena mereka mengganggu kebersamaannya dengan sang istri. "Hanya menyerahkan berkas yang perlu kau tandatangani. Sekaligus menjenguk. Apa tidak boleh?" Jawab Julian panjang sewot. "Cerewet." Gumam Sam lalu mulai membuka berkas itu satu sambil mendengarkan Bill yang menjelaskan hasil penyelidikannya. "Tega sekali." Gumam Selena mendengarkan penuturan pria itu. "Biarkan saja. Di lain waktu dia akan menerima ganjarannya." Sam berkata demikian sambil menandatangani beberapa berkas yang ada di tangannya.
__ADS_1
Selen selesai memakaikan baju suaminya. "Mau jalan jalan?" Tawarnya dan di balas anggukan oleh sang suami. "Sebentar ya. Aku sholat dulu." Wanita itu bergegas pergi untuk mengambil wudhu.
Sosok wanita cantik tengah mendorong kursi roda menuju taman. Tatapan orang orang ramah namun berpindah sinis saat melihat Sam. Berita tentang kecelakaan dan kelumpuhan pria itu sudah sampai di telinga banyak orang melalui pemberitaan di berbagai media. "Dulu masih sehat angkuh. Sekarang sudah cacat begitu masih mau angkuh juga. Kok istirnya masih mau sama dia. Kalau aku jadi istrinya aku bakal tinggalkan. Secara dia cantik dan kaya. Pasti banyak yang mau." Bisik orang orang yang berpapasan dengan mereka. Selen melangkah lebih cepat. Ia tak mau suaminya sakit hati karena mendengar berbagai hinaan.
__ADS_1
Selen duduk di bangku yang menghadap suaminya. Wanita itu menggenggam tangan Sam membuat si pria tersenyum. "Honey." Panggilannya dengan nada lembut. "Iya." Jawab Selen sambil menatap manik hitam Sang suami. "Kau boleh meninggalkanku jika aku membebanimu. Kau bisa mencari kebahagiaan baru." Kata Sam membuat Selena menghela napas. "Sebegitu tidak percayakah kamu denganku. Aku kecewa. Dalam posisi seperti ini kau juga berpikir aku bagian dari mereka. Kamu jahat." Selena beranjak meninggalkan Sam sendiri.
"Honey." Lirih Sam. Pria itu menangis. Ia sangat sedih dengan keadaanya. Bukan maksud meragukan. Namun Sam sudah cukup membuat Selen menderita. Ini mungkin saatnya membiarkan wanita itu bahagia. "Honey." Panggilnya lagi. "Aku disini." Tiba tiba suara lembut itu muncul diiringi pelukan yang membuat Sam menghangat. Selen tidak benar benar pergi. Ia hanya mengerjai suaminya. Ia tersenyum melihat Sam yang menangis sembari memanggilnya. Wanita itu duduk kembali di posisinya yang tadi. Kedua tangannya terulur mengusap air mata di pipi pria itu. "Jangan menangis." Kata Selena dengan lembut. "Beri aku ciuman." Balas pria itu membuat Selen menatapnya dengan kesal. "Ini tempat umum. Lagipula dari pagi kamu sudah mencuri ciuman." Kata Selen membuat Sam terkekeh. "Ini milikku." Pria itu mengusap bibir lembab istrinya dengan ibu jari. Sam mulai bersyukur dengan kondisinya yang sekarang. Ia jadi lebih banyak waktu dengan Selena. Selain itu, satu pelajaran berharga yang Ia dapat. Bahwa hidup tak selamanya di atas. Saat Ia dalam keadaan terpuruk, orang orang tulus lah yang selalu berada di sampingnya. Kini Sam tau jika mereka di luar sana hanya menghargai kesempurnaannya. Mereka akan memandang rendah saat Ia tak berdaya.
__ADS_1