Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Tak Akan Mundur


__ADS_3

Shon mengamati suasana sekitar. Ia tadi melihat dengan jelas bayangan seseorang. Namun jika ada penyusup pasti sensor keamanan akan berbunyi. Namun tidak. Tidak ada peringatan apapun. Ia kemudian melangkahkan kaki untuk kembali ke kamarnya.


Pemuda itu menyempatkan diri untuk mampir ke kamar sang adik. Ia tersenyum mendapati Selena tengah tertidur pulas. Tangannya terulur untuk mengelus pipi Selen dengan lembut sebelum mengecup keningnya beberapa kali. Kaki Shon melangkah menutup pintu balkon yang masih terbuka sambil menajamkan penglihatannya jikalau ada sesuatu yang mencurigakan. Dirasa tidak ada yang janggal. Ia membetulkan selimut Selena dan memberi kecupan lagi sebelum pergi.


Sosok pria muncul dari sebuah ruangan setelah memastikan semuanya aman. Pria itu mendekati Selena dan menyentuh pipi mulus itu dengan jemarinya. Menyusuri hidung, bibir, alis dan mata yang terukir indah. Sam tersenyum. Seperti yang dibayangkan sebelumnya. Kulit Selena benar benar lembut seperti kapas. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir mungil itu dengan penuh kelembutan. "Manis." Gumamnya begitu terbuai dengan sensasi yang baru Ia rasakan.


Minggu pagi yang cerah. Ketiga saudara itu langsung ikut bergabung untuk sarapan bersama. "Pagi Ayah. Bunda."


"Pagi Sayang." Jawabnya sambil memberi kecupan pada ketiga putra putrinya. Selena duduk diapit saudaranya seperti biasa. Pemuda itu tak bisa jauh dari sang adik membuat kedua orang tuanya hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala.


"Sayang. Jika kamu tidur, pintu dan jendela harus di kunci dengan rapat. Kakak semalam ke kamarmu. Pintu balkon terbuka."


"Kakak. Aku sudah menguncinya."


"Kamu yakin?"


"Iya." Jawab Selen sambil mengangguk mantap.


"Ayah. Ada yang tidak beres. Aku melihat seseorang tadi malam. Namun sensor dan CCTV di rumah tiba tiba tidak berfungsi sehingga aku tidak bisa tau siapa orang itu." Jelas Shon mengenai kejadian semalam. Mereka takut akan terjadi sesuatu pada Selena. Alhasil beberapa keamanan dan peraturan akan di lakukan untuk melindungi putri tercinta.


Selena dan Ayahnya sedang berada di rumah Sam. Mereka akan melihat tanaman langka koleksi pria itu. Keduanya fokus melihat lihat sambil mendengar penjelasan dari Sam. Pria itu tampak senang. Senyumnya tak pernah luntur semenjak kedatangan gadis itu.

__ADS_1


"Wah...." Selena menunduk mengamati kaktus mungil itu.


"Itu kaktus. Kamu mau?" Tawar Sam namun Selen menggeleng.


"Jangan Sam. Anak gadisku itu sedikit ceroboh. Nanti malah tertusuk durinya." Kata Sang Ayah membuat Selena menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Lama berbincang membuat Selena bosan. Ia memisakan diri dari sang Ayah yang masih mengobrol. Menyusuri kolam renang yang tenang mungkin akan sedikit memberikan suasana yang berbeda. Kaki Selen melangkah di sisi kolam. Namun tiba tiba.


"Byur......"


Dengan cepat kilat Sam berlari langsung menceburkan diri ke kolam untuk menyelamatkan gadis itu.


"Terimakasih Om. Selen tidak apa." Jawabnya sambil menggigil kedinginan. Dengan cepat Ayah Selen membawa putrinya untuk pulang setelah berterimakasih dan berpamitan.


Semua keluarga begitu khawatir dengan keadaan Selena. Gadis itu demam setelah tercebur di kolam renang Sam tadi. Dokter yang memeriksa segera memberi obat dan berpamitan pergi.


"Pokoknya aku nggak mau Ayah bawa Selena ke rumah Sam itu lagi." Tegas Shon. Ia tak habis pikir. Padahal sudah memperingatkan berkali kali namun Ayahnya tidak paham juga. Sean dan Shon tadi memang keluar sebentar tidak mengajak Selena. Namun siapa sangka Ayahnya malah membawa Selena ke rumah Sam.


Sam datang untuk menjenguk Selena. Pria itu dipersilahkan masuk dan diantar langsung ke ruang keluarga tempat mereka semua sedang berkumpul.


"Sam." Sapa Ayah Selena sambil berdiri menyambut pria itu. Keduanya duduk bersama bergabung dengan beberapa orang lainnya.

__ADS_1


"Selen bagaimana keadaanmu?"


"Alhamdulillah Baik Om." Jawabnya sambil tersenyum. Gadis itu masih menggunakan plester demam di keningnya.


"Om bawakan buah kering untuk kamu."


"Terimakasih Om."


"Waktunya makan Sayang." Sean datang dan duduk di samping adiknya sambil membawa semangkuk bubur.


"Masih kenyang kak." Keluh gadis itu namun tak di dengarkan. Ini adalah waktunya untuk minum obat dan Selena harus menghabiskan makannya dulu sebelum itu.


"No. Jangan pakai daun bawang." Keluhnya. Sean tersenyum kemudian menuruti keinginan adiknya. Hanya Sean yang sadar atau Shon juga menyadarinya. Sedaritadi tatapan Sam begitu intens kepada Sang adik. Keduanya buru buru berpamitan untuk mengajak Selena pergi.


Sam tersenyum menyadari seseorang tengah berdiri tepat di belakangnya.


"Om menyukai Selena?" Tanya Sean to the point. Ia mengambil kesempatan saat Sam berpamitan ke toilet untuk menanyakan hal ini langsung pada orang yang bersangkutan. Pria itu berbalik setelah mengeringkan tangannya.


"Ya. Bukan hanya suka. Aku tergila gila pada adikmu." Tutur pria itu sambil tersenyum.


"Aku tau kau orang seperti apa. Aku tidak akan membiarkan adikku bersama denganmu. Jauhi dia." Sean memperingati dengan penuh penekanan. Bukannya takut. Sam malah tertawa. Tawa yang tampak mengejek dan meremehkan. "Samuel tidak pernah mundur. Kita lihat saja Tuan muda. Mampukah kau menghentikan ku? Aku punya seribu cara untuk mendapatkan apa yang aku mau. Em...Mungkin kita akan menjadi saudara ipar. Jadi tolong kakak ipar jangan membenciku." Kata Sam berlalu pergi setelah menepuk pundak Sean beberapa kali. Sean mendidih saat ini. Ia tak akan membiarkan Selena jatuh di tangan orang seperti itu. Namun Ia juga tau jika Sam orang yang sangat berkuasa. Bahkan hukum pun tak mampu menyentuhnya. Sean pernah dengar jika orang itu berkali kali lolos dalam beberapa kasus yang menjeratnya. "Keparat itu." Geramnya sambil mengepalkan tangan.

__ADS_1


__ADS_2