Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Hanya Ingin Peluk Ibu


__ADS_3

Pagi hari keluarga Sam sarapan bersama. Suasana tampak berbeda dengan kedatangan Saifan dan juga Safira yang ikut bergabung. Selena hari ini akan mengantarkan gadis itu untuk mendaftar di kampus. "Semua berkasnya sudah dibawa sayang?" Tanya Selena lagi memastikan sembari memakan sarapannya. "Sudah Ma. Semuanya sudah lengkap." Jawab gadis itu di sela sela makannya. "Sam." Panggil Saifan. "Hm." Pria itu sudah tau apa yang ingin diucapkan Saifan hanya menjawab singkat saja. "Bill dan Julian sudah baikan?" Tanyanya membuat Sam menggeleng. "Entahlah. Ada baiknya mereka bermusuhan seperti itu. Jadi tidak menggangguku. Jika mereka akur. Aku malah yang pusing." Sam memasukkan lagi potongan pancake ke dalam mulutnya. "Kenapa?" Tanya Saifan sedikit heran. Yang Ia tau Bill dan Julian selalu membantu Sam dalam hal apapun. "Mereka akan saling ejek jika akur dan akan saling pukul jika bertengkar. Dan aku menyukai hal yang kedua." Jawab Sam sambil terkekeh mengingat kebodohan dua pria itu. "Mas." Tegur Selen. Ia sudah nasehati Sam untuk mendamaikan dua orang itu namun sepertinya suaminya tidak melaksanakan. Atau bahkan membuat suasana semakin panas. "Iya Sayang. Maaf." Jawab pria itu lembut membuat Saifan harus menahan tawanya yang hampir meledak. Sam seperti singa di luar dan kini beruban menjadi kelinci tak berdaya di depan sang istri.


Selena masuk ke mobil bersama Safira setelah memastikan semua berangkat ke tujuan masing masing. "Ma. Kita nanti jangan langsung pulang ya. Jalan jalan sebentar. Fira mau beli sesuatu." Kata gadis itu dan Selen langsung mengangguk. "Tapi Om Sam nanti..." Ia lupa dengan Sam yang sangat posesif pada istrinya. Seperti ketika akan berangkat tadi. Sam tak berhenti mewanti wanti. Memberikan beberapa pesan yang jika dikumpulkan sudah menjadi undang undang negara saking panjangnya. "Nanti Mama yang izin." Jawab Selen membuat Safira lega.

__ADS_1


Keduanya turun dari mobil ketika sampai di kampus. Safira agak malu dengan tatapan orang orang. Ya meskipun mereka menatap wanita cantik yang dipanggilnya Mama padahal lebih cocok menjadi kakaknya namun Safira ikut risih. Sifat dewasa dan keibuan Selen membuat Fira sangat nyaman seperti bersama seorang Ibu. Maklum, tak mendapat kasih sayang dari wanita yang melahirkannya membuatnya begitu memuja Selena.


"Silahkan mengisi formulir." Kata seorang staff memberikan beberapa kertas. Safira mulai mengisi sesuai dengan arahan. "Ini almamater dan buku panduannya. Selamat bergabung di universitas kami." Wanita paruh baya itu menjabat tangan Safira dan Selen bergantian. "Terimakasih Bu. Kami permisi." Ucap Selen berpamitan.

__ADS_1


Selesai membeli baju Selan mengajak Fira untuk mampir untuk membeli minuman dan cemilan untuk di bawa pulang. "Ma. Boleh Fira bertanya?" Kata gadis itu saat mereka duduk menunggu pesanan. "Ya. Tanya saja. Mama akan jawab." Safira mengangguk. Sebenarnya Ia ragu menanyakan ini namun Ia juga penasaran. "Maaf kalau ini sedikit pribadi Ma. Tapi kenapa Mama mau sama Om Sam. Dilihat dari kepribadian Mama dan Om Sam sangat bertolak belakang." Ia bertanya dengan lirih. Selen tersenyum. "Namanya jodoh sayang. Jodoh itu bisa siapapun dan dapat dipertemukan dalam cara apapun. Kepribadian kami memang berbeda. Dan kami saling melengkapi satu sama lain. Om Sam memang keras dan cenderung arrogan. Namun di balik sikapnya yang demikian, pria itu mempunyai kelembutan. Kami sudah melalui berbagai ujian dan Alhamdulillah masih bertahan sampai sekarang." Jawab Selen akhirnya membuat Safira paham.


"Ibu." Skyler dan Shai langsung memeluk Selena. "Ibu kemana? Kita menunggu sedaritadi." Shai memanyunkan bibirnya. "Maaf ya. Mama masih antar kakak tadi." Jawab Safira. "Sudah, maafkan Ibu. Ibu bawakan kalian makanan. Ayo Kita makan sama sama." Ajak Selen dan keduanya mengangguk.

__ADS_1


Semuanya berkumpul setelah makan siang bersama. Saifan dan juga Safira sudah pulang. Kini hanya tersisa Sam, Selen dan si kembar. Sky menghampiri ibunya lalu duduk di pangkuan Selen. "Ada apa sayang?" Tanya Selen sembari mengusap lembut kepala putranya yang menempel di dada. Sam menggeleng melihat tingkah sky. Anak laki lakinya itu sangat manja dengan sang Ibu. "Hanya ingin peluk ibu." Jawabnya sembari mengeratkan pelukan pada Selena. "Bagaimana sekolahnya tadi?" Sky menggeleng pelan. "Lancar Bu. Tidak ada kendala apapun." Jujurnya. "Lalu kenapa manja sama Ibu begitu? mau sesuatu boy?" Sam mengacak acak rambut Putranya. "Hanya ingin bersama Ibu. Ayah kan juga manja. Jadi Sky juga boleh." Jawabnya tidak mau kalah dengan sang Ayah membuat Selena tersenyum.


__ADS_2