Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Tetap Pada Sandiwara


__ADS_3

Senyuman terbit dari pria yang tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita. "Tanpa di suruh pun aku akan dengan senang hati melakukannya." Kalimat itu membuat si lawan bicara terkejut. Ia tidak menyangka selera seseorang dengan cepat berubah. "Jangan berpikir aku tidak serius. Aku benar benar tertarik. Sudah dulu. Aku mau mandi." Katanya melihat keterkejutan dari wajah wanita itu lalu dengan santai pergi meninggalkan ruang keluarga.


Suara tawa terdengar menghiasi rumah Samuel. Semenjak menikah hunian yang biasanya sepi itu menjadi lebih hidup dengan adanya keluarga sang istri. "Mau makan ikan lagi?" Tanya Sam membuat iparnya mendengus sebal. Rasanya ingin muntah kembali jika mengingat momen itu. "Jangan mengingatkan. Aku benci." Jawabnya dengan kesal. "Kenapa?" Tanya Selen yang baru kembali dari dapur bersama sang Bunda. Kedua wanita itu meletakkan kue dan minuman di atas meja. "Suamimu menyebalkan." Jawab Sean sembari menarik tangan Selena untuk duduk di dekatnya. Wanita itu tersenyum. Ia sudah terbiasa dengan perdebatan ketiga orang itu. Suaminya yang sensitif atau kadang kedua kakaknya yang sengaja memancing masalah.

__ADS_1


Suasana menjadi hening kembali setelah keluarga Selena pulang. Hanya tersisa Sam dan Sang istri di ruang keluarga. "Kakak." Suara itu membuat Sam mendidih. Tanpa di persilahkan Bertrand mengambil duduk tepat di depan istri kakak tirinya. "Sudah aku bilang kalau aku bukan kakakmu." Kalimat itu Sam katakan begitu dingin dan menusuk. "Oh ayolah. Bagaimanapun juga Ibu kita adalah orang yang sama." Katanya sambil tersenyum. Pria itu semakin mendekat pada sepasang suami istri itu. "Mau apa kau?" Tanya Sam dengan nada yang sudah meninggi. Selen semakin terdesak. Wanita itu takut ketika Bertrand semakin mengikis jarak. "Hentikan." Selena mencoba menjauh namun pria itu dengan cepat mencekal tangannya. "Bertrand. Akan aku bunuh kau. Jangan ganggu Istriku." Sam panik. Namun Ia tetap duduk di kursi rodanya. Pria itu tak mungkin membongkar sandiwaranya yang sudah berjalan sejauh ini. "Jangan sentuh aku." Selen semakin memberontak namun Bertrand tak bergeming. Ia mencengkram kedua tangan Selena dengan kuat. "Aku akan lakukan apapun kau tak bisa berbuat apa apa. Lihatlah. Aku menyentuh kulit istrimu yang begitu lembut." Ia mengusap air mata Selena sambil mengelus pipi wanita itu. "Bajingan kau." Teriak Sam mampu terdengar sampai di luar ruangan. Bill dan Julian langsung masuk dengan beberapa penjaga yang baru kembali dari menyelesaikan misi.


Bertrand menoleh melihat beberapa orang yang masuk. Pria itu langsung mendapat beberapa pukulan telak di pipinya. "Bajingan kau." Julian tak memberi ampun pada pria itu. Melihat Selena menangis membuatnya sakit hati. Bill dan beberapa orang lainnya langsung membawa Bertrand keluar dari sana. Ia tak mau jika istri sang Bos ketakutan dengan perkelahian dua orang pria itu.

__ADS_1


Tiga orang di dalam ruangan tampak sama sama diam. Julian beranjak untuk mengunci pintu agar suara mereka tak sampai di luar. Pria itu kembali dan duduk di tempat semula. Ia menatap tajam Sam yang tengah duduk di depannya. Julian tak habis pikir dengan Sahabatnya. Demi melancarkan sandiwaranya Ia membuat Selen menangis ketakutan. "Kamu bodoh atau apa. Tidak sadar jika sudah melukai hati istrimu. Mau sampai kapan? mau sampai kapan kamu membuatnya menderita hah?Dulu kau menyakitinya sebelum menjadi istrimu. Kau tau kan Selena itu wanita yang seperti apa. Dia itu tidak menerima sentuhan sekecil apapun dari pria lain. Dan sekarang kau membiarkannya di sentuh oleh adikmu. Padahal kau bisa menyelamatkannya. Dia pasti sangat sedih sekarang. Kau keterlaluan." Julian tak dapat menyembunyikan emosinya lagi. "Kau egois Sam. Kau benar benar laki laki biadab." Lanjutnya lagi. "Aku....." Lidah Sam kelu tak tau harus menjawab apa. "Apa yang ingin kau ungkap lagi? Semuanya sudah jelas bukan. Tapi jika kau ingin tetap bersandiwara dan terus membuat Istrimu menderita. Terserah." Kata Pria itu tak mau lagi bicara.


Beberapa saat hening terdengar ketukan pintu dari luar. Bill beranjak dan membukanya "Nona." Kata Bill sedikit terkejut dengan apa yang Ia lihat. "Papa." Teriak seorang gadis kecil yang sedang di gendong Selena. "Kenapa bisa kesini?" Tanya Pria itu heran. "Baby sitternya sedang melayat Om. Maura nangis minta ketemu Om." Jelas Selena. "Oh. Ayo sama Papa. Kasian tante capek gendong kamu." Julian merentangkan tangannya untuk menggendong bocah berusia empat tahun itu. "Mau sama Mama." Kata Maura sambil mengeratkan pelukannya pada Selena. "Dia bukan Mamamu." Sam tidak terima. "Ini Mama Maura." gadis itu tak mau kalah. Selen membawa Maura duduk di dekat Sam. "Maura boleh panggil Mama kan?" Tanyanya sambil menatap wajah Selen. Wanita itu tersenyum. "Boleh." Jawabnya dengan lembut mendapat pelukan dari putri Julian. "Terimakasih. Mama Selena yang dulu pergi sama pacar barunya." Kata Maura membuat Selena menatap ketiga pria itu bergantian. Bagaimana gadis sekecil ini bisa tau tentang itu. Batinnya bertanya tanya.

__ADS_1


__ADS_2