
Selena menata kehidupannya yang baru. Perlahan wanita itu sudah mulai menerima kehilangannya dengan ikhlas. Ia menyibukkan diri dengan bisnis pakaian dengan brandnya sendiri yang mulai berkembang pesat akhir akhir ini. Selen akan menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Tekadnya untuk bahagia bersama kedua anaknya sudah bulat.
"Ibu." Panggil Skyler menghampiri Selen yang sibuk mendesain pakaian. "Ya Sayang. Ada apa hm?" Tanyanya sambil membalas pelukan sang anak. "Paman Julian ingin bertemu dengan Ibu. Dia menunggu di ruang tamu bersama Paman Alex." Katanya dan di jawab anggukan oleh sang Ibu.
Selena berjalan sambil membawa nampan dan menyajikan dua cangkir kopi di atas meja. "Silahkan di minum Om." Katanya kemudian duduk berhadapan dengan dua orang itu. "Terimakasih." Jawab Julian sembari menyesap minuman yang disajikan istri sahabatnya itu. "Selen." Panggil Julian dengan nada bergetar. "Om. Jika Om memintaku untuk kembali aku tidak mau." Selen berkata dengan cepat sembari mengalihkan pandangan. "Tolong dengarkan ceritaku dulu. Setelah itu terserah keputusan apa yang akan kau ambil." Julian mulai menceritakan keadaan Sam saat ini. Pria itu semenjak tiga hari yang lalu berada di rumah sakit dalam keadaan sekarat sembari terus memanggil nama sang istri. Sam mengalami luka tembak di bagian dadanya. Pria itu sedang mabuk dan terpancing emosi dan terlibat perkelahian dengan beberapa orang. Sam membunuh mereka dan dia juga mendapatkan luka yang parah. " Dia baru bangun pagi tadi. Aku mohon. Kamu berkenan menemuinya. Hanya namamu yang dia panggil. Sam menolak makan ataupun perawatan yang diberikan oleh dokter. Dia terus berteriak dan memberontak untuk bertemu denganmu. Kau orang baik Selen. Aku tau itu. Temuilah dia. Percayalah. Kini Sam tengah menebus dosanya." Julian memohon.
__ADS_1
"Honey." Lirih seorang pria yang tengah duduk di ranjang rumah sakit. Ruangan tapak begitu berantakan dengan pecahan kaca dimana mana. Untung saja Selena tidak mengajak anak anak. Jika kondisinya seperti ini tentu saja akan membuat mereka takut. Sam terbatuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Selen membalikkan tubuhnya hendak memanggil dokter namun pria itu dengan cepat mencegah. "Kamu kenapa ha? Tidak bisakah kau berubah? Kenapa menyakitiku? Kenapa kau membunuh anakku? Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri? Kau tau betapa kejamnya dirimu?" Selena menangis menatap pria yang tampak menyedihkan itu. Ia mengingat cerita Julian bahwa Sam hidup dengan berantakan semenjak di tinggal olehnya. Pria itu sering mabuk dan menyiksa dirinya sendiri. "Maafkan aku Honey." Lirihnya kemudian merengkuh tubuh ramping yang begitu Ia rindukan. Sam mengutuk kebodohannya sendiri. Ia menyesali apa yang telah diperbuatnya di masa lalu.
Pria itu sudah di tangani oleh dokter. Ruangan juga sudah tertata rapi dan bersih. Selen membersihkan tangan Sam dengan telaten. Memberikan obat pada luka luka kecil di telapak tangan suaminya. Sam memperhatikan Sang Istri. Wanita baik dan berhati mulia. Sam telah menyia nyiakan anugrah yang Tuhan berikan. "Makan dulu." Kata Selen kini sudah selesai dengan kegiatannya. Wanita itu kemudian meraih kotak makan dan menyuapi suaminya dengan telaten. "Kamu sudah makan?" Tanyanya sambil mengamati lekat wajah sang istri. "Sudah." Jawabnya singkat. "Aku tau kesalahanku tak mungkin di tebus bahkan dengan nyawaku sekalipun. Berjuta maaf juga tak akan memperbaiki luka di hatimu. Honey...Maafkan aku." Lirih pria itu dengan suara yang nampak sendu. "Habiskan. Jangan bahas itu lagi." Tegas Selena dan pria itu mengangguk lemah.
"Ibu." Sky dan adiknya berhambur memeluk Selen ketika melihat kedatangan wanita itu. "Sayang. Ibu bawakan coklat kesukaan kalian." Selen memberikan kedua anaknya masing masing kotak. "Terimakasih Ibu." Mereka mencium Selen bersamaan. "Sama sama. Makan sambil duduk. Ibu mau bicara sama Paman dulu." Wanita itu mengusap kepala adiknya dan ikut duduk bersama Sean dan Shon.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Sean dengan malas. "Lebih baik. Sekarang mau makan dan diobati." Jawab Selena. "Kenapa kamu datang? Kenapa tak membiarkan pria itu menyusul anak yang telah di bunuhnya saja?" Shon terbawa emosi. "Tidak perlu membalas keburukan dengan hal yang sama. Tuhan punya skenario sendiri yang lebih baik dari rencana kita. Biarkan Tuhan yang bekerja. Takdirnya pasti yang terbaik." Selena mencoba memberikan pengertian pada kedua saudaranya. "Lalu. Apa dia menandatangani surat perceraian itu?" Sean menatap Adiknya meminta penjelasan. Selena menggeleng pelan. Ia menghembuskan napasnya dengan pasrah. "Dia tidak mau bercerai. Katanya lebih baik mati daripada menceraikan ku." Wanita itu menyenderkan tubuhnya di sofa memikirkan semua yang terjadi pada hidupnya.
Nah....Sampai bab ini Author bingung mau pisahin mereka atau enggak.
Mau di pisahin nggak tega. Nggak di pisahin udah keterlaluan....Hedeh....
__ADS_1