Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Belum Memaafkan


__ADS_3

Suara lantunan ayat suci terdengar merdu meskipun lirih. Sam tersenyum begitu menikmati ayat demi ayat yang dibaca istrinya. Ia mendudukkan diri di samping Selena membuat wanita itu mengakhiri kegiatannya. "Sudah lapar?" Tanya Selen tersenyum sembari mencium tangan sang suami. Sam menggeleng "Aku bukan anak kecil Cinta." Jawabnya sambil tersenyum dan mengelus pipi sang istri dengan lembut. Dua hari sudah Ia berpuasa membuatnya mulai terbiasa. Manahan haus dan lapar dan juga hasratnya. Biasanya jika begini Ia langsung menyambar bibir mungil itu. "Semoga berkah." Selen mengusap lembut punggung tangan Sam. Ia sangat mengapresiasi karna Sang Suami mau berubah dan berusaha menjadi lebih baik. Wanita itu beranjak dari duduk. "Mau kemana hm?" Tanyanya sembari menggenggam jemari sang istri. "Mau ke rumah Bunda sebentar. Aku mau lihat sesuatu." Sam mengangguk. Ia ikut berdiri. "Aku akan temani."


Sam menggandeng tangan Selena sambil mengomel dan mengimbangi langkah sang istri yang berjalan cepat. Wanita itu langsung menuju ke dapur seperti punya tujuan tertentu. "Sayang." Bunda langsung memeluk Selena dengan erat. Ia menuntun Selena untuk mendekat bergabung dengan ART yang sedang membuat sesuatu. "Sam. Kamu di tunggu Ayah di teras belakang." Kata Bunda sambil menatap menantunya. "Iya Bun." Jawabnya langsung bergegas karena tak ingin membuat mertuanya menunggu.

__ADS_1


Seorang pria duduk sambil membaca sesuatu. Ia mendongak ketika melihat Sam datang. "Duduklah." Kata Ayah Selena sambil meletakkan bukunya di atas meja. Ia diam sesaat kemudian mengajukan pertanyaan pertanyaan ringan pada Sam untuk membuka obrolan. "Kau tau jika Ibumu sakit?" Tanya pria itu seketika membuat lawan bicaranya menegang. Sam mengangguk lemah menjawab pertanyaan sang mertua. Ia tau jika wanita itu kini sedang sakit dan melakukan perawatan di rumah sakit atas rujukan Sam. "Kau tidak ingin menjenguknya?" Tanya Sagar mendapat gelengan dari pria di depannya. Sam menceritakan jika keberatan untuk bertemu dengan Sang Mama. Rasa sakit yang dulu pernah di ditorehnya masih sama. "Cobalah untuk menjenguknya Sam. Bagaimanapun juga dia adalah orang yang melahirkanmu. Kita tidak tau perpisahan itu kapan akan terjadi. Selagi masih ada waktu manfaatkanlah." Kata pria itu beranjak sambil menepuk punggung menantunya.


"Apa ini banyak sekali?" Selena begitu terkejut dengan paper bag yang memenuhi lantai walk in closetnya belum lagi yang tertata di meja dan sofa. Sam memeluk istrinya. Pria itu mengatakan jika semua ini untuk Selena. "Ada gamis dan jilbab baru untukmu. Kamu senang hm?" Kata pria itu sambil tersenyum. "Gamis baruku masih banyak yang belum di pakai, kamu sudah belikan lagi. Mubazir Mas." Jawabnya pada sang suami. Sam menggeleng pelan. Ia mengatakan jika sangat ingin membahagiakan Selena. "Hm. Terimakasih. Kamu mandi akan aku siapkan bajunya." Kaya Selen membuat suaminya mengangguk setuju.

__ADS_1


Suasana Ramadhan sore ini begitu cerah. Matahari masih bersinar terang di tempatnya. Sepasang suami istri dan dua pemuda tengah berada di taman. Mereka mengobrol sambil mengamati semua orang yang sedang sibuk berlalu lalang di sekitar tempat bazar. Selen menarik tangan Sean untuk berdiri. "Ada apa sayang? Kamu ingin sesuatu?" Tanyanya. "Kelapa muda." Jawab wanita hamil itu sambil tersenyum. Sean mengangguk. Ia kemudian pergi ke kedai di dekat sana sambil menggenggam tangan Selena diikuti sang ipar dan kembarannya. "Hati hati." Katanya membantu Selen menuruni tangga. Wanita itu mengangguk, Ia tak sabar ingin cepat sampai di tempat tujuan.


Selesai sholat magrib mereka buka puasa bersama. Selena sedaritadi hanya minum es kelapa muda dan makan kurma tanpa menyentuh yang lain. "Sayang. Makan yang lain juga dong." Tegur sang Ayah hanya di jawab anggukan oleh putrinya. "Honey. Jangan terlalu banyak. Nanti kamu pilek hm." Sam khawatir dengan sang istri namun Selena tetap menggeleng dan melanjutkan minumnya.

__ADS_1


Sam menggandeng tangan sang istri untuk pulang. Mereka baru saja menyelesaikan sholat tarawih di masjid rumah Selena. Wanita itu langsung melepas mukenanya begitu sampai di rumah. "Jangan di sini. Kita ke kamar saja." Ajak Sam ketika istrinya hendak duduk di sofa ruang tengah.


"Kamu lelah hm?" Tanya Sam sambil memangku kaki sang istri yang sedang sibuk menonton film. Selen menggeleng. "Jangan di pijit. Aku tidak lelah." Kata wanita itu ketika sang suami hendak memijit kakinya. Sam beranjak. Ia meraih segelas susu dan di berikan kepada istrinya. Selen meneguknya hingga tersisa setengah. "Habiskan Honey. Kamu tadi makan hanya sedikit." Selen mengangguk. "Nanti. Aku masih kekenyangan." Jelasnya. "Baiklah." Sam menidurkan kepala Selena dalam pangkuannya. Pria itu mengelus lembut bahu sang istri. "I Love You." Bisiknya itu tepat di telinga Selena.

__ADS_1


__ADS_2