
Hy readers...
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan ya..
Semoga Ramadhan kali ini kita senantiasa menjadi pribadi yang lebih baik dan puasa kita menjadi berkah. Terimakasih sudah ikutin ceritanya.... Author sayang kalian.
__ADS_1
Selena baru saja pulang dari rumah bundanya. Wanita itu melirik jam tangan kemudian duduk di sofa sambil meraih buku. Masih jam 9. Satu jam lagi anak anaknya akan pulang. Makan siang sudah di siapkan. Ia hanya bisa menunggu sambil menyibukkan diri. Belum sempat menemukan halaman terakhir buku yang di bacanya suara ponsel membuat Ia meletakkan benda tebal itu kembali. "Dengan saya sendiri." Katanya menyahuti orang di sebrang sana. Selen mengangguk. Ia menghela napas kemudian mengakhiri panggilan itu setelah mengucapkan terimakasih.
Alex melihat Selena sudah rapi dengan setelan gamis dan jilbabnya. Wanita itu menenteng tas membuat Alex memutuskan untuk bertanya. "Nyonya mau kemana?" Tanya Alex karena dialah yang betugas untuk mengantarkan Selena kemanapun pergi. " Mau ke sekolah anak anak." Jawabnya cepat sambil membuka pintu mobil. "Baik." Alex bergegas mengitari mobil dan memasuki bagian kemudi.
Selena berjalan tergesa gesa diikuti pria yang mengimbangi langkah di belakangnya. Ia langsung menuju ruangan tempat dimana kedua anak kembarnya berada. "Permisi." Selen membuka pintu dan di persilahkan masuk. Suasana sepertinya tidak terlalu kondusif. Ada anak yang sedang menangis di tenangkan oleh Mamanya dan beberapa lagi tampak dengan penampilan yang awut awutan. "Ibu." Sky dan Shai tampak terkejut ketika Ibunya duduk di samping mereka. "Langsung saja pada intinya Bu. Maaf kali ini kami harus memanggil Ibu ke sekolah. Sky dan Shai telah memukul temannya." Kata Sang kepala sekolah menyampaikan apa yang terjadi. "Saya tidak terima anak saya di perlakukan seperti ini." Protes salah satu orang tua murid mendapat cubitan dari beberapa orang di sebelahnya. "Kenapa?" Tanyanya dengan nada tinggi. "Jangan mencari masalah. Nona itu dari keluarga Smith dan istri dari Tuan Samuel." Bisiknya masih bisa di dengar jelas oleh Selena. "Begini saja Bu. Kita harus mendengarkan penjelasan dari dua belah pihak. Kronologi kejadian dan sebabnya harus jelas. Jika anak saya bersalah saya akan bertanggung jawab dan menghukum mereka." Kata Selen mendapat anggukan dari semua orang. Shai memulai bercerita. "Dia menghina teman Shai Ibu. Dia memukul teman Shai. Shai tidak terima membalas. Saat dia ingin memukul Shai kakak datang dan mencegahnya." Jelas gadis kecil itu. "Lalu kenapa anak saya jadi begini?" Tanya Salah seorang wali murid. "Saya memukulnya. Dia ingin menyakiti adik saya." Jawab Sky terkesan dingin.
__ADS_1
Selena dan kedua anaknya baru saja sampai di rumah. Wanita itu tiba tiba saja di kejutkan oleh pelukan hangat dari suaminya. "Kamu sudah pulang?" Tanya Selen sambil duduk di sofa. Sam mengangguk sambil tersenyum. "Anak anak. Kalian bersih bersih dulu ya. Nanti kita makan sama sama." Perintah Selen langsung di laksanakan keduanya.
"Kamu dari sekolah mereka?" Sam sedang berdiri di bantu sang istri untuk melepaskan kemeja. "Iya." Jawab Selen singkat sambil meneruskan kegiatannya. Pria itu mencium bibir istrinya tiba tiba. "Jangan jawab Singkat. Aku tidak suka." Selena mengangguk. "Sky memukul temannya." Ia menghela napas. "Jangan dipikirkan. Anak anak memang begitu." Pria itu memeluk dan mengusap lembut punggung sang isteri. "Apa aku kurang bisa mendidik mereka ya Mas?" Tanyanya langsung mendapatkan jawaban tidak. "Kamu sudah mendidik mereka dengan baik. Jangan di pikirkan. Sekarang ayo mandi." Ia tiba tiba mengangkat tubuh ringan istrinya.
Sam menghampiri mereka yang duduk di ruang keluarga. "Kalian nakal hari ini?" Tanya Sam membuat keduanya menunduk. "Maaf Yah." Jawab mereka. "Kalian mau pindah sekolah di asrama biar tidak nakal lagi?" Tanya Sam dengan nada yang sudah meninggi. "Tidak mau Yah." Shai sudah menangis di pelukan ibunya sementara Sky memeluk Selena. "Sudah Mas. Jangan di perpanjang masalahnya. Yang penting mereka sekarang sudah dapat pelajaran." Tutur Selen dengan lembut. Ia tak mau anaknya tumbuh dari didikan yang keras. "Sudah jangan nangis lagi. Kalian tidur siang dulu." Tutur Selen dan keduanya mengangguk. "Nanti Ibu menyusul ya." Shai memeluk Ibunya sebelum pergi. "Iya. Nanti Ibu menyusul." Jawabnya sambil mengusap kepala kedua bocah itu.
__ADS_1
"Mas. Jangan terlalu keras dong sama anak. Bicarakan baik baik. Kamu nggak pernah bicara sama mereka sekali bicara nada kamu tinggi begitu. Mereka tertekan nanti." Tutur Selana pada suaminya. Inilah yang Sam keluhkan. Ia selalu saja di salahkan semenjak twin lahir. Istirnya itu selalu membela Anak anaknya. "Kalo nggak gitu mereka nggak akan ngeri Honey." Ia mengelak dan merasa apa yang dilakukannya benar. "Capek kasih tau kamu. Udah berapa kali aja kamu bikin mereka nangis gara gara bentakan kamu itu." Selen kesal lalu berdiri untuk meninggalkan suaminya. "Maaf." Pria itu dengan cepat memeluk tubuh ramping sang istri. "Memiliki anak bukanlah tujuan hidupku. Jadi aku harap kamu mengerti. Aku kesulitan memahami mereka." Sam berkata sangat serius. Selena berbalik kemudian menatap suaminya. "Anak itu titipan Mas. Tidak semua orang di beri kepercayaan seperti kita. Aku paham tentang kamu. Tapi aku harap kamu bisa berubah." Balas sang istri membuat Sam memeluk wanita itu lebih erat lagi.